Perempuan Itu

Budaya & Seni

November 24, 2025

Jon Afrizal

Jamu gendong. (credits: Wiki Commons)

HARI menunjukan pukul 10 pagi. Matahari memancar cerah, dan cuaca mulai terasa panas.

Telah satu minggu hujan tidak menciumi tanah dan rumput. Hawa sejuk pegunungan Ungaran seolah terbawa jauh, terbang entah kemana.

Ia masih terus menyusuri desa demi desa. Dengan sepeda ontelnya, membawa seperangkat botol jamu di boncengan belakang.

Sesekali, sepedanya harus memasuki ruas jalan lintas Salatiga – Semarang. Memaksanya harus tetap berada di sisi kiri terpinggir dari ruas jalan itu. Sebab jalanan akan sangat ramai pada waktu ini.

Ia acap berhenti di sisi jalan. Sambil memegangi kepalanya yang tertutup jilbab berwarna hitam.

Migren. Perempuan itu sering kali harus begadang setiap malam.

Aku mendengar aktifitasnya setiap malam. Rumah kami bersebelahan, dan ia adalah tetanggaku.

Ia, perempuan dengan usia mendekati 40 tahun. Ia memiliki empat orang anak; satu anak perempuan sebagai anak tertua, dan tiga anak laki-laki. Mereka berempat, secara berurutan, masih berada di kelas 1 hingga kelas 4 SD. Mereka bersekolah tak jauh dari desa kami.

Supiah, namanya. Dan kami telah saling kenal sejak masih berusia kanak-kanak. Ketika itu, rumah kami masing-masing hanya berdinding ghedeg, dari bambu yang dipeprek.

Memang, kami adalah bagian dari kerukunan buruh tani. Tak mengapa, asalken hidup jujur.

Lantas, ketika berusia 25 tahun atau lebih, Supiah dipinang oleh seorang pria dari desa tetangga. Narji, demikian kami mengenalnya.

Narji adalah buruh di sebuah pabrik. Ungaran adalah daerah dengan begitu banyak pabrik. Meskipun, senyatanya, warga setempat tetaplah menjadi buruh, dan tidak lebih dari itu.

Hingga, pada suatu hari, Narji mengalami kecelakaan kerja. Ia harus dirawat di rumah sakit di Kota Semarang.

Setelah mendapatkan perawatan hampir satu minggu, Narji pun dibawa pulang ke rumah. Namun sayang, sejak itu, ia tidak dapat beraktifitas lagi.

Ia hanya terbaring lemas terkulai di dipan di satu-satunya ruangan private di rumah mereka. Yakni di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang makan dan kamar tidur. Ehm, tentu tidak terlalu private.

Perempuan penjual jamu gendong di Yogyakarta tahun 1910. (credits: Tropen Museum)

Sewaktu itu, anak bungsu mereka, yang laki-laki, baru saja berusia enam bulan.

Setelah tiga bulan terbaring tak berdaya, tubuh Narji terlihat semakin lemah. Suaranya semakin lirih, dan nafasnya selalu sesak.

Dan, pada suatu subuh hari. Narji tak mampu bernafas lagi, untuk selamanya.

Perekonomian keluargaku pun tak jauh berbeda. Hanya saja, kami masih memiliki sebidang sawah untuk digarap. Dan isteriku pun berseragam cokelat muda, meskipun hanya sebagai honorer di kantor desa.

Aku menceritakan kisah Supiah kepadamu, untuk mengingatkanmu. Jika pada suatu waktu engkau melintasi jalan lintas Salatiga – Semarang, dan melihat dirinya dengan sepeda ontel itu.

Maka belilah jamu buatannya, meskipun hanya satu gelas saja.

Siang itu, Supiah terlihat begitu banyak berhenti. Sambil memegang kepala.

Jamu di bagian belakang sepedanya terlihat masih utuh. Saat ia mampir di sebuah depot obat, dan membeli tablet anti sakit kepala. Ia pun secepatnya meminum obat itu.

Keringat keluar dari kedua telapak tangannya. Keringat dingin.

Ia semakin lama berhenti. Menunggu reaksi obat, dan menunggu rasa sakit di kepala itu hilang.

Kontras sekali. Ia menjual jamu herbal untuk kesehatan orang lain. Sementara, ia harus menelan obat medis untuk penyakitnya.

Terkadang, dunia tidak mau diajak berunding.

Hari telah menunjukkan pukul 11 lebih 15 menit. Sebentar lagi anak-anaknya pulang sekolah.

Ia bergegas ke rumah langganannya. Rumah Pak Carik.

Mereka adalah keluarga besar. Terdiri dari keluarga Pak Carik, dan kedua orangtuanya, dan juga beberapa adik-adiknya.

Secepatnya Supiah duduk di lantai teras. Isteri Pak Carik telah menyiapkan beberapa gelas, mungkin sekitar lima atau enam gelas kosong.

Satu per satu diisinya dengan jamu temulawak, beras kencur, dan pahitan. Tak lupa, bonusnya, wedang jahe.

“Mudah-mudahan cukup,” katanya dalam hati. Bayaran cukup untuk membeli lauk pauk dan nasi bagi anak-anaknya.

Ibu Carik pun lalu membayar dengan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Bergegas Supiah mencari kembalian, di dompet kecil berwarna merah. Dompet itu adalah dompet untuk perhiasan emas. Cincin yang dulu dibeli suaminya ketika mereka hendak menikah. Dompet emas kawin.

“Sudah, tidak perlu dikembalikan,” kata Bu Carik.

“Buat jajan anak-anakmu,” katanya lagi.

Matur Suwun, Bu Carik,” jawab Supiah dengan penuh hormat.

Secepatnya Supiah mengayuh sepeda. Menembus jalanan yang mulai ramai. Menuju ke sebuah gerobak kecil di pinggiran jalan.

Tertulis di sana “Fried Chicken”. Ia membeli beberapa potong ayam goreng dan nasi.

Sesekali hidungnya mencium bau debu jalanan yang berseliweran di udara.

Kembali sepeda dikayuh dengan kencang. Menuju rumah, secepatnya.

Ketika ia memasuki pekarangan rumah, terlihat keempat anaknya telah berada di sana terlebih dahulu. Anaknya yang perempuan telah membuka pintu, dan diiringi adik-adiknya, memasuki rumah.

“Mak’e, lapar.” Terdengar si kecil merengek.

“Sebentar ya, sedang disiapkan,” katanya membujuk.

Ia mengambil lima piring beling dan lima gelas kaca, dibantu anak perempuannya, lalu duduk melingkar di lantai yang beralas karpet plastik murahan.

Dengan cekatan tangannya membagi nasi dan ayam goreng lima ribuan tadi ke masing-masing piring.

“Ayo, makan. Jangan lupa baca Bismillah,” katanya.

Ini adalah saat terindah baginya. Ketika ia melihat keempat anaknya makan dengan lahap.

Matanya seperti berkaca-kaca. Terlintas bayangan wajah almarhum suaminya. Yang kemudian secepatnya menghilang berganti bayangan tentang masa depan anak-anaknya.

“Sudah makannya? Nanti malam kita makan telur orek-orek spesial, ya,” katanya.

Keempat anaknya pun tersenyum.

Hanya dua butir telur, penyedap rasa dan daun bawang yang ada di dapur saat ini. Serta, beras yang hanya cukup untuk satu kali makan saja.

Dan, migrennya pun kumat lagi.*

avatar

Redaksi