Reportase Meletusnya Gunung Kelud 1919

Inovasi

November 28, 2025

S. Dayawiyata*

Letusan Gunung Kelud, tahun 1951. (credits: Tropen Museum)

“Pada malam Selasa Kliwon, tanggal: 18/19 Ruwah 1849 atau 19/20 Mei 1919 jam 1 sampai 2 malam ada suara menggelegar berulang kali seperti petir, terdengar sampai di tempat tinggal saya hingga membuat terkejut semua orang di desa-desa, yang disebabkan oleh meletusnya Gunung Kelut lagi.”

KETIKA malam Selasa Kliwon antara pukul I – 2, di karesidinan Kediri dan sekitarnya terasa ada gempa. Namun karena keadaan gempa tadi tidak mengkhawatirkan, maka orang-orang di Karesidinan Kediri sama sekali tidak menyangka kalau Gunung Kelut akan meletus, sebab yang sudah yaitu ketika meletus pada tanggal 21 Mei 1901, pada waktu sebelumnya sudah ada tanda-tanda yang mengerikan.

Akan tetapi lama-lama gempa tadi semakin terasa. Puncak Gunung Kelut sebentar-bentar tampak mengeluarkan api. Di langit kelihatan gelap gulita.

Namun begitu walau gelap teramat sangat, di sekeliling Gunung Kelut tampak terang seperti siang hari, karena tersinari cahaya kilat yang berseliweran dan keluarnya api dari puncak gunung.

Pada waktu itu semua orang di Karesidenan Kediri terlebih afdeling Blitar sudah mengira kalau Gunung Kelut akan meletus. Oleh karenanya orang-orang di tempat itu kemudian kebingungan, tingkahnya seperti padi ditampi.

Tidak lama kemudian di Gunung Kelut terdengar suara menggelegar mengerikan, bagaikan memecahkan gendang telinga.

Gempa semakin besar, terasa bumi bergoyang, di langit tampak merah merona. Diceritakan meletus yang kedua kali puncak Gunung Kelut sebelah selatan runtuh menimpa kawah menyebabkan banjir lumpur dan lahar yang lebarnya sampai 5 pal (± 7,5 km). Ketika itu suaranya bergemuruh, mengerikan. Jalannya banjir bagaikan kilat, setiap yang diterjang habis tuntas, rusak tak berbekas.

Kira-kira 20 menit banjir tersebut sudah menggenangi Kota Blitar, membuat gempar kacau balau. Suara orang riuh bercampur baur antara suara jeritan, teriakan serta permintaan tolong, ditambah dentuman suara robohnya pepohonan serta rumah-rumah besar yang roboh dan lain sebagainya, hingga seperti menggoncangkan bumi.

Seketika di Blitar hilang wujudnya sebagai kota, berubah menjadi lautan lahar. (Suasana) gelap gulita seperti tertutup awan yang disebabkan oleh derasnya hujan abu. Tingginya lahar kurang lebih 1,6 m, rumah-rumah di sekeliling alun-alun semua rusak, rumah tembok banyak yang runtuh.

Perkampungan Cina, Belanda, Jawa yang bangunan rumahnya antara satu dan lainnya agak jauh dapat dikatakan tidak tersisa.

Kawah Gunung Kelud, tahun 1919. (credits: Tropen Museum)

Hanya rumah-rumah tembok yang berhimpitan dan bergandengan tidak begitu rusak, tetapi temboknya banyak yang jebol, seperti: rumahnya tuan asisten residen, rumah kabupaten, kantor pos, kantor bank, klinik, hotel, rumah tahanan dan lain-lainnya.

Rumah tahanan berisi 900 orang, ketika datangnya lahar (para napi) memanjat pintu besi. Suaranya sangat ramai berteriak-teriak minta tolong agar dibukakan, namun tanpa hasil. Orang-orang tadi kemudian mempunyai akal mengambil kaleng yang ada di dalam kamar untuk melempari tembok. Dengan cara begitu, serta karena derasnya arus lahar, tembok tersebut bisa jebol dan ada yang roboh. Orang-orang tahanan kira-kira 100 orang bisa lari keluar, lainnya mati terbenam.

Namun begitu, walaupun tahanan 100 orang tadi bisa keluar, tidak lama kemudian juga terjebak oleh datangnya lahar kemudian mati semua karena lahar semakin lama semakin besar.

Sungai-sungai semua banjir, aimya seperti mendidih. Hari Selasa siang mayat-mayat kelihatan terapung sepanjang (aliran) banjir di Sungai Brantas. Kelihatannya semua mayat matang dan melepuh.

Selain orang, juga banyak bangkai ikan dan binatang lainnya yang terapung hanyut. Semua mayat dan bangkai yang hanyut di Sungai Brantas tadi banyak yang tersangkut di Sungai Surabaya dan Porong. Di Sungai Surabaya ada mayat Wanita Jawa yang tersangkut, tampak masih menggendong anaknya serta sudah melepuh. Juga ada mayat orang Eropa laki-laki perempuan yang bergandengan tangan. Di jembatan wilayah Kediri banyak mayat yang tersangkut lebih kurang 600 jiwa, di jembatan Kertosono kira-kira lebih dari 700 jiwa.

Setelah banjir reda, di wilayah Kota Blitar, semua yang tampak membuat hati pilu. Pepohonan besar, reruntuhan pagar bata dan sejenisnya tampak bertumpuk-tumpuk tertimbun lahar yang tingginya ± 65 cm. Batu-batu besar, bahkan ada yang besarnya hingga 3 m3 berserakan di jalan-jalan.

Di berbagai tempat banyak mayat tertimbun, ada yang tampak kaki atau tangannya menjulur keatas.

Diceritakan: Kota Blitar sampai berbau anyir karena banyaknya mayat yang tertimbun lahar.

Orang-orang yang masih selamat keadaanya sangat memprihatinkan. Semua kebingungan karena tidak memiliki rumah, lagi pula pakaian yang tertinggal hanyalah yang melekat dibadannya.

Adapun tempat lainnya yang rusak seperti disebutkan dibawah ini, (yakni) diantara Talun dan Garum, Blitar dan Rejatangan, rel sepur SS putus terbuang jauh. Begitu juga tanggul-tanggulnya semua jebol diterjang banjir. Oleh karena itu, jalannya kereta api hanya sampai di Kali Pucang.

Selasa siang jam setengah 11 .00 di Malang dan Lawang masih tampak gelap gulita. Di semua tempat menyalakan lampu. Karena begitu derasnya hujan abu, banyak tanaman dan pepohonan yang rusak. Di Malang tebalnya abu sampai beberapa dim. Demikian juga di Kota Kediri, hujan abunya juga sangat deras. Selasa siang jam 10.00 masih gelap gulita.

Terlebih di Kota Tulungagung. Walau lisrik terus dinyalakan namun di angkasa masih tampak gelap. Kota Nganjuk begitu juga, Selasa siang masih tampak gelap.

Orang-orang di kebudayaan Bendorejo yang menderita sakit kritis ± 83 jiwa. Semua dibawa ke rumah sakit di Kediri dan Pare. Tanah Persil Kalicilik kira-kira 42 jiwa termasuk sindernya hilang tidak karuan terhanyut oleh banjir, demikian juga tanah persil di Nanasan. Hanya sindernya dapat di temukan di Kediri kemudian di kubur di tempat itu.

Orang dan hewan di kebudayaan Galuan beratus-ratus jiwa juga hilang tidak karuan terhanyut oleh banjir. Begitu juga di tanah Persil Nanasan.

Di distrik Srengat juga rusak berat. Orang yang hilang tidak ketahuan nasibnya ± 12 .000 jiwa, yang meninggal 4.000 jiwa.

(Kepala) Distriknya beserta istri dan anak-anaknya serta kumpeni sebanyak 7 jiwa juga ikut hilang tidak ditemukan.

Kaonderan Udanawu tidak dapat pulih. Ondernya, mantri dagang dan anak istrinya, mantri guru dan lainnya, semuanya terhanyut oleh banjir. Kumpeni yang menolong juga banyak yang mati. Yang hanyut 12 orang, yang terluka 5 orang, melepuh. Rumah yang masih berdiri tinggal sekolahan dan masjid. Di dalam masjid untuk mengungsi 4.000 jiwa, semua selamat.

Wilayah Udanawu jumlah orang yang meninggal sebanyak 16.000. Desa-desa yang rusak yakni : Sumbersari, Salam, Ngoran, dan lain-lainnya.

Desa-desa di sekitar jalan dari Candi Panataran sampai Blitar, jauhnya kira-kira 7 pal (1 0,5 km) juga rusak parah. Mayat-mayat yang berserakan di sepanjang jalan tersebut tidak kurang dari 200 (orang), lainnya hilang tidak ditemukan.

Kebudayaan Gantar, Candi Sewu, Desa Piasa, Klepon, Nglegok, Kerep, dan Panataran parah sekali kerusakaannya. Hanya kebudayaan Garum (yang kerusakannya) tidak begitu (parah).

Kaldera Gunung Kelud, tahun 1901. (credits: Tropen Museum)

Jembatan-jembatan banyak yang rusak atau hanyut, yaitu jembatan antara jalan yang dari Wlingi ke Blitar ada 3 jembatan. Dari Tatun ke Kanigara, jembatan besi (sebanyak) 27, jembatan kayu 1.

Hari Kamis sore sungai-sungai Leksa banjir besar lagi sampai menjebol dan menghanyutkan 2 jembatan. Di afdeling Kontrolir Wlingi juga rusak berat. Desa-desa yang rusak yaitu: Omboh, Sidareja, Sumberejoa, dan lain-lainnya.

Oleh karena ‘kamar bola’ (tempat hiburan/gedung Bilyart) di Kota Blitar selamat, (maka)semua kantor kemudian dipindah di tempat itu seperti, kantor pos, kantor telegram, dan lain-lainnya.

(Kantor) Pegadaian ada di gudang-gudang. Di halaman gudang banyak kumpeni yang menanak nasi untuk makan orang-orang yang berada disitu.

Kumpeni-kumpeni di Bandung, Cimahi, Magelang, Semarang, Surabaya, Malang dan lain-lainnya banyak di berangkatkan ke Blitar.

Di tempat itu semua membongkar rumah-rumah, membersihkan jalan-jalan, memperdalam parit-parit dan lain sebagainya.

Para dokter juga banyak yang diperintahkan ke Blitar. Di tempat itu sampai 12 hari, untuk mengobati orang-orang yang terluka. Diceritakan pada waktu itu rumah sakit, klinik, serta tempat praktik dokter di karesidenan Kediri penuh dengan orang yang menderita sakit.

Ketika tuan Gubenur Jendral meninjau ke semua rumah sakit tersebut, tampak sekali rasa duka dan pilu hatinya, karena beratus-ratus orang laki-laki perempuan, tua muda, semua mengerang kesakitan menderita luka berbagai macam.

Beliau tuan Dr. Gpert, Dr. Kammerling, Dokter Wurth serta tuan Dr. Van Bemmelen pada tanggal 24 Mei 1919 naik ke Gunung Kelut melihat kawah.

Dari perkataan tuan-tuan tadi, Gunung Kelut sudah tidak mengkhawatirkan jika meletus lagi. Walaupun kawahnya masih mengeluarkan asap tetapi abunya sudah tidak ada.

Gunung tadi kalau dilihat dari dalam tidak ada bekasnya bila habis meletus, tetapi kalau di lihat dari luar ibarat sudah tidak lagi berwujud gunung.

Akhirnya mengenai tanah-tanah yang rusak tertimbun lahar bekas terkena banjir, Tanah Tegalan 12.000, persawahan 8.000 bahu.

Adapun orang meninggal semua berjumlah 50.000 jiwa.*

*Dinukil dari naskah “Panjeblugipun Redi Kelut”

avatar

Redaksi