Pencuri Dicuri
Resonansi
August 2, 2026
A Marjani*

Tokoh Joker dalam film “Dark Night” (2008) (credits: boknowsmovies/amira.co.id)
“Kau. Kau tentu telah mencuri uangku!”
USIAKU dengan usia adikku cuma terpaut satu tahun. Perbedaan yang pendek itu membuat kami tidak seperti layaknya kakak beradik, tetapi lebih seperti saudara kembar yang lahir dalam waktu yang sama.
Bahkan sekilas, nampak adikku lebih besar tubuhnya daripada tubuhku sendiri. Dengan keadaan ini, tentu saja banyak hal yang tidak kuingini selalu terjadi. Kami sering kali berkelahi memperebutkan hal-hal kecil.
Perselisihan remeh saja sudah cukup bagi kami untuk dijadikan alasan bertengkar.
Misalnya, rebutan kursi ketika akan makan pagi, sore, dan malam hari. Rebutan piring, gelas, Ataupun apa saja yang kami rasa memiliki kepentingan yang sama.
Selain berkelahi, aku dan adikku juga selalu berlomba dan bersaing dalam hal apa pun.
Ia tak pernah mau kalah, dan sebagai kakaknya, tentu saja aku pun tak mau menyerah. Apa pun akan kupertaruhkan demi sebuah kemenangan.
Pada suatu hari, aku mempunyai gagasan untuk membuat kotak tabungan guna menyimpan uang-uangku.
“Aku juga mau bikin,” kata adikku tandas. “Bahkan ini sudah kurencanakan.
Mungkin rencana itu lebih dulu ada di kepalaku,” dia mendengus kesal.
Namun, aku membiarkannya saja. Pada akhirnya, kami kembali berkelahi lantaran berebutan alat-alat pembuat kotak tabungan tersebut.
“Aku dulu!” katanya sambil merebut parang dari tanganku.
Kuserahkan parang itu, lalu kuambil gergaji. Namun, belum dua potong kayu kugergaji, adikku sudah kembali dan merebut gergaji tersebut.

Film “Clowns in The Dark Knight” (2008). (credits: featurepresentationvideo/amira.co.id)
Karena kesal, ia kutempeleng. Kami bergumul tidak lama.
Ketika Ayah datang melerai, sedikitnya tiga pukulanku telah berhasil bersarang di pipi, punggung, dan perut adikku. Tentu saja dia menangis.
Aku sangat kesal. Tak tahu kenapa aku merasa begitu dirugikan, hingga kemudian timbul rasa dendam di dadaku. Aku mempunyai suatu rencana jahat.
Kupikir, aku harus menghargai otakku yang mempunyai gagasan gemilang ini.
Tahukah kau apa rencanaku? Ya, aku akan selalu mengorek uang adikku dari kotak tabungannya!
Aku bersorak riang. Rasakan, umpatku dalam hati.
Uangmu akan ludes, sementara uangku akan bertambah terus lantaran aku rajin menabung.
Menabunglah kau terus, dan aku akan mengoreknya juga terus. Aku tidak tahu berapa lama hal ini berlangsung.
Selama ini adikku terus terlihat tenang, seolah- olah tidak ada malapetaka apa pun yang menimpanya.
Hari itu hari Minggu. Dengan langkah seorang komandan yang memenangi perang, kubawa kotak tabunganku ke serambi depan.
Ayah dan Ibu sedang tidak ada. Di sana hanya ada adikku yang sedang membaca.
Melihat aku akan membuka tabunganku, adikku pun melompat dari kursinya dan berlari ke dalam. Ia kembali dengan membawa kotak tabungannya pula.
Ada rona kebanggaan yang membersit di wajahnya. Aku tahu, mungkin ia bangga dengan uang-uangnya yang ia pikir sudah melampaui jumlah uangku.
Tiba-tiba, aku terperangah manakala kotak tabunganku berhasil kupecahkan dan uangnya kukeluarkan seluruhnya.
Semula, kutaksir uangku akan mencapai jumlah ribuan. Tetapi nyatanya? Cuma ada lima ratus rupiah!
Aku terbengong dengan keringat dingin yang membasahi kepingku. Kupandangi adikku. Ia juga sedang terperangah dengan rona muka yang lesu dan lemah.
“Kakak curang!” tiba-tiba ia membentak.
“Kau yang curang!” aku balik membentak tidak kalah kerasnya.
“Kau! Kau tentu telah mencuri uangku! Seharusnya uangku ada dua ribu lima ratus sesuai dengan catatanku. Tetapi nyatanya sekarang cuma ada empat ratus rupiah!”
“Tidak!” aku berteriak. “Kau tentu yang mencuri seluruh uangku! Seharusnya uangku ada tiga ribu, tetapi sekarang cuma ada lima ratus rupiah saja!”
Kami sama-sama terdiam. Saling pandang tanpa mengerti persoalan yang sebenarnya.
Sejenak kami merenung, lalu aku tertawa. Dan adikku pun tertawa terbahak-bahak.
“Kau korek uangku, ya?” adikku menuding.
“Kau juga, ya!” aku tersipu. Kami pun tertawa lagi.
Rupanya pikiran kami memang sama-sama licik, curang, dan ingin menang sendiri. Kau tahu, adikku pun kiranya melakukan pekerjaan yang sama seperti yang kulakukan.
Kusadari akhirnya bahwa hal ini tidak terpuji. Namun, sekarang apa mau dikata? Uang kami berdua sekarang hanya tinggal sembilan ratus rupiah.
Ya, cuma segitu saja!*
*Dinukil dari Majalah “Kawanku”
