Anak-Anak Konflik

Resonansi

April 3, 2026

Jon Afrizal

Ilustrasi anak yang menangis. (credits: iStockphoto)

TELAH enam bulan bapaknya masuk penjara. Selama itu juga, ibunya yang mencari nafkah untuk keluarganya.

Roni adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia kini, seharusnya, bersekolah di bangku SD.

Bapaknya, Muklas, adalah seorang petani. Dengan tubuh yang kekar dan otot yang kuat. Muklas selalu berada di ladang mereka setiap hari, tanpa “Tanggal Merah”.

Mereka menanam palawija di lahan seluas satu hektare.

Roni selalu mengingat tentang bapaknya. Lelaki berkulit sawo matang yang seperti berkilat ketika tubuhnya yang tanpa baju terpanggang sinar matahari.

Ladang mereka itu, telah mereka garap sejak lama. Sejak kakeknya Muklas masih hidup.

Jadi, jangan ditanyakan soal sertifikat dan surat menyurat. Tentu saja mereka tidak punya.

Mungkin saja itu keteledoran mereka. Tapi, banyak penduduk di dusun itu yang masih mengenal wilayah garapan masing-masing. Sehingga ketika ditanya ini ladang milik siapa, serta merta mereka akan menjawab nama pemilik ladang. Dan, itu adalah cara masing-masing dari mereka, untuk menghormati hak milik perseorangan.

Letak dusun mereka berada tak jauh dari Sungai Batanghari. Sungai yang memanjang mengular ratusan kilometer, di Provinsi Jambi.

Sungai sebagai tempat anak-anak kecil bermain-main air dan berenang, dan tempat orang dewasa menjaring ikan untuk lauk pauk.

Ilustrasi anak yang menangis. (credits: engagethepews)

Tidak berapa jauh dari desa mereka, terdapat hutan. Pada saat Belanda masuk, demikian cerita kakeknya Roni, hutan mereka masih sangat lebat. Bahkan, harimau pun masih banyak di sana. Sebut saja, sesuai istilah saat ini, sebagai hutan primer.

Hutan itu, kayunya mereka gunakan untuk membangun rumah, dan Langgar di dusun mereka.

Kini, hutan itu tidak ada lagi. Sudah berganti dengan pohon-pohon sawit milik perusahaan.

Entah bagaimana caranya, warga dusun pun tidak mengerti. Tanpa mengajak duduk berunding dan bermufakat, selayaknya adab Orang Melayu Jambi.

Alat-alat berat datang menumbangkan pohon-pohon besar, membersihkan sisa-sisa kayu, dan menggantinya dengan bibit-bibit sawit. Mereka, warga dusun, hanya melihat dalam diam.

Lama kelamaan, areal perkebunan milik perusahaan meringsek ladang-ladang mereka. Tentu saja, ladang mereka bukan ladang berpindah-pindah. Ladang, bagi mereka, atau juga disebut Talang, adalah yang kini biasa disebut kebun. Menetap, dan tidak berpindah-pindah.

Kondisi itu adalah sepuluh tahun lalu.

Lalu, tepat pada suatu pagi, sekitar dua tahun lalu, masyarakat dusun pun berkumpul di kantor perusahaan. Mereka berdemonstrasi menuntut ladang-ladang mereka dikembalikan.

Roni ikut hadir di sana. Ia, untuk pertama kalinya, melihat bapaknya menjadi beringas, dan mengeluarkan kata-kata yang tersusun rapi di depan banyak orang, dan menjadi penyemangat bagi orang-orang desa.

Sejak saat itu, kondisi rumah mereka menjadi ramai. Tempat orang-orang dusun berkumpul. Entah apa yang mereka bicarakan, Roni tidak memahami.

“Engkau harus jadi lelaki. Tegar dalam bersikap,” kata bapaknya kepada Roni.

Entah apa artinya, Roni pun belum mengerti. Sebab, yang ia tahu, ia memang berjenis kelamin laki-laki.

Sebagai anak tertua, dan anak laki-laki satu-satunya, Roni sangat dekat dengan Muklas. Satu yang paling Roni suka, Muklas selalu mengajak Roni berkeliling dusun setiap sore hari, dengan menggunakan sepeda motor.

Sore itu, mungkin saja berbeda. Ketika mereka berada tak jauh dari dusun, secara tiba-tiba, sebuah truk melaju sangat kencang. Seperti tidak memiliki rem, truk itu menuju ke arah mereka.

Muklas dengan sigap membelokan stang sepeda motornya ke arah kiri. Menuju semak belukar, dan kedauanya tersungkur.

Untunglah, keduanya selamat. Hanya lecet-lecet sedikit aja.

Saat mereka bangkit dari tempat mereka tersungkur, truk itu telah melaju jauh.

Muklas, lalu, menghubungkan kejadian yang menimpa mereka dengan aktifitas warga desa yang menuntut hak-hak mereka kepada perusahaan. Perusahaan yang mengklaim ladang-ladang milik penduduk.

Ilustrasi anak yang menangis. (credits: flickr)

Sejak saat itu, Muklas memahami bahwa ia adalah target. Sebagai penggerak masyarakat dusun.

Maka, ia pun melawan balik. Ia mengumpulkan penduduk dusun, dan, atas seluruh kemarahan yang ada, mereka mencapai kata sepakat untuk berdemonstrasi lagi ke kantor perusahaan.

Namun, tidak keselurahan episode berada di dalam kendali Muklas.

Entah siapa yang memulai, massa mengamuk. Rusuh dalam amarah.

Lidah-lidah api secepatnya menjalarkan panas, seperti hendak mengalahkan teriknya sinar matahari, siang itu. Pijarnya memercik ke udara, berkembang bunga seperti api di musim Karhutla.

Kantor perusahaan terbakar di satu sisinya.

Hanya sepekan setelah kejadian itu, Muklas harus tampil di ruang sidang. Menjadi terdakwa atas kasus pengrusakan kantor milik perusahaan.

Sidang yang berlangsung cepat, dan menyebabkan Muklas dan beberapa orang lainnya harus mendekam di penjara.

Ruswita, ibu dari Roni hanyalah istri seorang petani. Ia juga tidak punya keahlian lain, selain sebagai ibu rumah tangga, dan sesekali membantu Muklas di ladang mereka.

Tapi kini, semua telah jauh berbeda. Ia harus menghidupi anak-anaknya.

Untung saja, kekompakan selalu dijaga. Beberapa ibu yang bernasib sama di dusun mereka kembali ke kehidupan mereka, setelah shock karena suami-suami mereka masuk penjara.

Mereka pun berubah menjadi petarung tangguh. Saling berbagi tugas.

Dibantu oleh anak-anak mereka, menangkap ikan di sungai. Lalu menyianginya, memirik ikan-ikan kecil itu, dan menggorengnya dengan sedikit tepung.

Lagi lagi, rumah mereka menjadi ramai kembali. Membuat pempek adalah cara tercepat untuk mendapatkan uang. Meskipun hanya sedikit.

Sementara, meskipun masih kecil, Roni mengerti, bahwa ibunya adalah ksatria bagi keluarganya, kini. Dan, seperti kata bapaknya, ia pun harus membantu ibunya.

Roni berhenti bersekolah, karena tidak ada biaya. Dan kedua adiknya masih sangat kecil, yang butuh untuk selalu digendong ketika sedang manja.

Roni, memang, tidak pernah diajarkan untuk mendendam. Baik itu oleh orangtuanya maupun di Langgar tempat ia mengaji membaca al-Quran.

Namun, sebagai saksi ketika bapaknya dan warga dusun berdemonstrasi dan terjadilah pembakaran kantor milik perusahaan, adalah sebuah noktah yang hingga kini masih membekas di alam bawah sadarnya.

Ketika, bapaknya yang adalah guru baginya, harus masuk penjara karena perbuatan yang diyakininya sebagai kebenaran, maka alam bawah sadar pun memegang peran penting dalam kehidupannya.

Roni bertekad, suatu saat ia harus mengalahkan perusahaan itu. Dan mendapatkan kembali ladang mereka. Mungkin sepuluh tahun lagi, atau lebih.

Tetapi, tentu dengan cara yang terhormat. Dan, bukan dengan cara kekerasan.

Kini, yang ia mampu, adalah, membantu ibunya.

Menjajakan pempek di depan rumah mereka. Tepat di pinggir ruas jalan, tempat dimana mobil-mobil perusahaan lalu lalang, setiap siang hari.

Kedua matanya tajam melihat ke mobil-mobil itu. Setajam pisau kecil yang digunakan ibunya untuk menyiang ikan di dapur.

Tajam. Setajam bilah pisau.*

[DISCALIMER : Cerita pendek (cerpen) ini adalah fiksi. Nama, tempat dan kejadian adalah untuk keperluan fiksi]

Share:
avatar

Redaksi