Karhutla Adalah Kesengajaan

Lingkungan & Krisis Iklim

September 17, 2026

Junus Nuh/Kota Jambi

Kualitas udara Kota Jambi dan Sengeti, Rabu 16 September 2026. (credist: AQ Air)

“Sekitar 80 persen kejadian Karhutla di Provinsi Jambi diduga sengaja dibakar.” Gubernur Jambi, Al Haris

TELAH setengah bulan anak-anak sekolah tidak lagi menginjakan kaki di ruang-ruang kelas. Sekolah-sekolah di Kota Jambi sepi dari suara anak-anak.

Pemkot Kota Jambi, sebagai solusi, masih memberlakukan Pembelajaran Jauh Jauh (PJJ) hingga Rabu (116/9), dan entah sampai kapan.

Anak-anak belajar dari rumah, versi daring. Yang telah mengisolasi peserta didik, membatasi pertemuan antar sesame mereka di dunia anak-anak yang penuh dengan kecerian.

Ini adalah dampak buruk dari Musim Karhutla di Kemarau 2026.

Apakah ini adalah sebuah prestasi tahunan? Sebab, hampir setiap tahun, sejak 1991, Provinsi Jambi selalu kedatangan karhutla dan kabut asap di setiap musim kemarau.

Laporan AQ Air pada Rabu 16 September 2026, kualitas udara Kota Jambi “Sangat Tidak Sehat” dengan angka 267 PM2.5. Yang artinya, konsentrasi PM2.5 saat ini adalah 33.5 kali lebih tinggi dari maksimal nilai panduan PM2.5 tahunan World Health Organization (WHO).

Sama seperti kualitas udara di Sengeti di Kabupaten Muarojambi, juga “Sangat Tidak Sehat” dengan angka 288 PM2.5. Bahwa konsentrasi PM2.5 di Sengeti saat ini adalah 42.7 kali lebih tinggi dari maksimal nilai panduan PM2.5 tahunan WHO.

Sementara, Global Wildfire Information System (GWIS) menunjukan bahwa titik api (hotspot) di Sumatra Tengah yang tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.

AccuWeather melaporkan bahwa suhu di Kota Jambi pada Rabu 16 September 2026 adalah 35 derajat Celsius, dengan jarak pandang 5 kilometer.

Karhutla di Provinsi Jambi dan sekitarnya, Rabu 16 September 2026. (credits: GWIS)

Dengan Teknologi Dalam Genggaman, maka informasi tentang karhutla dan kabut asap akan dapat diakses secepatnya oleh siapapun, secepat jemari meng-scroll media sosial.

“Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi berasal dari dampak Karhutla di sejumlah wilayah Jambi dan Sumatra Selatan. Asap itu kemudian terbawa oleh pergerakan angin menuju wilayah Jambi,” kata Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun BMKG Jambi, Jaya Martua Sinaga, mengutip Detik.

Namun, katanya, Provinsi Jambi masih berpeluang hujan dalam beberapa hari ke depan. Yakni pada tanggal 18 hingga 19 September 2026, terutama di wilayah Jambi bagian barat. Seperti; Kerinci, Sungai Penuh, Bungo, Merangin, dan Sarolangun bagian barat.

“Sekitar 80 persen kejadian Karhutla di Provinsi Jambi diduga sengaja dibakar,” kata Gubernur Jambi, Al Haris, mengutip Detik.

Menurutnya, hanya sekitar 20 persen kebakaran yang diperkirakan terjadi akibat faktor lain. Seperti kondisi panas yang menyebabkan api berpindah atau merambat ke area lain.

Polda Jambi, katanya, Polda Jambi telah menangani 75 kasus terkait penegakan hukum karhutla. Dari jumlah tersebut, 50 kasus telah masuk tahap penyelidikan dan 15 kasus sudah berada pada tahap penyidikan.

Dalam penanganan perkara Karhutla, polisi juga telah menetapkan 11 orang sebagai tersangka.

Pada kenyataannya, Karhutla selalu terjadi, dan telah mentradisi di Provinsi Jambi. Dan tidak ada yang dapat menjamin, jika tahun depan, Karhutla tidak akan menyambangi Provinsi Jambi.

Sejauh mana pencegahan yang telah dilakukan? Apakah berbanding lurus dengan luasan hutan yang telah dibuka dan luasan areal gambut yang telah dikeringkan?*

Share:
avatar

Redaksi