Si Paling Terbenar
Lifestyle
September 13, 2026
Zulfa Amira Zaed

Ilustrasi “Mirror, mirror on the wall”. (credits: DT Walsh/Pixels)
“Mirror, mirror on the wall.
Who is the fairest of them all?” (Snow White)
KEYAKINAN berlebihan pada seseorang sering menyebabkan ia menutup diri dari informasi baru. Akhirnya, ia pun cenderung menolak diskusi konstruktif.
Kondisi seperti ini, bukanlah hanya sekadar rasa percaya diri saja. Melainkan sebuah pola pikir yang dapat menimbulkan konflik.
Secara umum, seseorang yang berpola pikir seperti ini, disebut dengan: orang yang merasa paling benar. Mengutip Halodoc, individu ini memiliki keyakinan teguh terhadap superioritas pandangannya.
Ia percaya bahwa perspektif dan pengetahuannya jauh lebih unggul dibandingkan orang lain. Sehingga menyebabkan ia kesulitan dalam menerima sudut pandang yang berbeda.
Mengutip Alodokter, sikap seperti ini disebut Defensif. Yakni sikap untuk enggan mengakui kesalahan sebagai bentuk pertahanan diri.
Padahal, sikap Defensif muncul saat seseorang merasa malu, takut, cemas, atau marah karena disalahkan dan dikritik.
Berikut adalah dua ciri umum dari orang yang merasa paling benar. Pertama, Anti-Kritik. Ia cenderung melihat kritik sebagai serangan pribadi atau ketidakpahaman orang lain terhadap superioritas mereka.
Ia teramat jarang mengakui kesalahannya, bahkan ketika telah jelas buktinya.
Kedua, Meremehkan Orang Lain. Ia sering menganggap pendapat atau keahlian orang lain tidak valid (inferior).

Ilustrasi “I Don’t Care”. (credits: Pinterest)
Ekspresi ini dilakukan dengan cara memberikan komentar merendahkan atau sikap acuh tak acuh terhadap kontribusi orang lain dalam sebuah diskusi atau project.
Sesungguhnya, sikap merasa paling benar dapat saja bersumber dari beberapa faktor psikologi yang kompleks. Seperti, Efek Dunning-Kruger. Yakni bias kognitif dimana seseorang dengan kemampuan atau pengetahuan rendah melebih-lebihkan kompetensi dirinya sendiri.
Ia tidak menyadari keterbatasan pengetahuannya. Sehingga merasa sangat yakin dengan kebenarannya.
Lalu, Narsisme. Ia memiliki rasa penting diri yang berlebihan dan kebutuhan akan kekaguman. Ia memiliki rasa percaya diri yang lebih unggul dan paling benar, dan juga kurang berempati terhadap orang lain.
Kemudian, Ketidakamanan. Secara berlawanan, rasa superioritas dapat menjadi mekanisme pertahanan terhadap ketidakamanan diri yang mendalam. Dengan terus-menerus menegaskan kebenaran dan meremehkan orang lain, seseorang berusaha menutupi kekurangan atau keraguan internalnya.
Terakhir, Bias Kognitif Lainnya. Beberapa bias kognitif, seperti bias konfirmasi (: mencari informasi yang mendukung keyakinan sendiri) atau bias superioritas ilusi (: percaya diri lebih baik dari rata-rata), juga dapat memperkuat sikap ini.
Namun, prilaku merasa paling benar akan berdampak negatif bagi individu maupun lingkungannya. Dampak buruk ini bersifat merusak dalam jangka panjang.
Yakni, merusak hubungan antar manusia. Lalu, menghambat pertumbuhan diri, dan berpotensi menyebabkan gangguan mental.
Sehingga, adalah lebih baik untuk belajar memulai introspeksi diri, berempati, dan, terbuka terhadap masukan.
Tetapi, jika sikap ini terus berlanjut, disarankan untuk mencari bantuan professional, seperti psikolog atau psikiater.*
