Catatan Tentang Seorang Ayah
Resonansi
October 3, 2026
Jon Afrizal

Ilustrasi lansia sedang membaca buku (credits: Geriatri)
Sebelum perjalanan, aku akan dibawa ke toko buku di pusat kota, lalu dibiarkan untuk memilih satu buku yang ku inginkan. Untuk buku, ia tidak pernah menolak.
SATU yang paling membanggakan bagiku, adalah ketika dua belah tangan keriput itu membentang membuka buku yang ku tulis. Sesekali ku lihat kedua matanya, yang menggunakan kacamata plus, berbinar.
Fisiknya sudah sangat rapuh. Berjalan pun harus dengan tongkat, dan mendengar harus dengan alat bantu. Satu yang masih kuat, adalah; ingatan.
Ingatan yang masih dilamuri kisah-kisah lama. Tentang perjuangan di hutan rimba Sumatra Tengah, di tahun 1950-an.
Ingatan yang berubah wujud menjadi alam bawah sadar, dan mengemuka menjadi mimpi-mimpi buruk dan ingauan yang menghentikan tidurnya.
“Tentara pusat telah sampai ke desa,” igaunya pada suatu malam. Seperti biasa.
Kami, memang, adalah anak-anak konflik. Yang terlahir dari rahim waktu yang memarah, dan, ruang yang membuat senjata harus dipanggul, kala itu.
Ketika ia masih bertugas, aku adalah anak yang paling sering ia bawa kemanapun ia bertugas. Sewaktu itu, umurku masih sekitar 10 tahun, atau di bawahnya.
Ia, membawaku ke banyak desa. Bertemu dengan beragam orang.
Ketika di desa, semua orang akan berkumpul, mungkin, di balai desa. Atau tempat-tempat lainnya.
Ayah, sepertinya, sedang menjelaskan sesuatu dengan serius kepada orang-orang di desa. Lengkap dengan berbagai macam alat tulis, papan tulis, dan juga kapur.
Aku tidak begitu mengerti. Entah apa yang sedang didiskusikan.
Dan, untuk itu, aku lebih memilih untuk berkeliling desa. Sendirian.
Melihat orang bertani dan berkebun, dan melihat para tukang kayu membuat sesuatu, mungkin saja perabot rumah tangga. Semua yang ku lihta begitu menakjubkan, bagiku.

Ilustrasi lansia sedang membaca buku (credits: Deposit Photos)
Dan selalu begitu. Sepertinya, ayahku percaya, bahwa aku tahu jalan pulang, tepat pada waktunya.
Ketika waktu makan siang, satu orang desa biasanya akan berkata, “Anak bapak tadi lewat di depan kebun saya.”
Mendengar hal itu, Ayah hanya diam, tidak tersenyum, dan juga tidak marah. Sama seperti ayah-ayah lainya, yang tidak pernah mengucapkan pujian kepada anak laki-lakinya. Tetapi juga tidak mencela anak laki-lakinya, kecuali jika melanggar batas aturan dan norma.
Anggap saja itu konservatif, atau apapunlah istilah modern yang akan diberikan. Begitulah, dunia ayah dan anak laki-lakinya.
Pengalaman-pengalaman di masa kecil itulah, yang selalu ku bawa, hingga hari ini. Dan, dengan itulah, aku lebih memilih untuk memahami alam dan kondisinya.
Setiap hendak diajak pergi oleh Ayah ke desa-desa, aku tidak pernah menolak. Tapi, ia akan selalu memberikan hadiah: satu buku untuk setiap kunjungan.
Sebelum perjalanan, aku akan dibawa ke toko buku di pusat kota, lalu dibiarkan untuk memilih satu buku yang ku inginkan. Untuk buku, ia tidak pernah menolak.
Tetapi jika aku meminta dibelikan mainan, maka perdebatan panjang dan melelahkan akan aku hadapi. Yang berujung: aku tidak akan pernah untuk mendapatkannya.
Bahkan, hingga aku kuliahpun, setiap ia berpergian ke kota lain, ia selalu membelikan aku buku. Selalu buku, buku, dan buku.
Untuk yang satu ini, ibuku juga tidak pernah protes.
Tentu saja, aku tidak sedang membanding-bandingkan pengalaman setiap anak laki-laki, dengan ayahnya. Sebab, setiap anak laki-laki juga memiliki pengalaman seru-seruan dengan ayahnya. Hanya saja, kebetulan, kisahku yang ku tulis ini yang sedang engkau baca.
Mungkin saja, suatu saat, engkaupun akan menuliskan kisah tentang dirimu dan ayahmu. Karena kisah setiap orang adalah penting.
Maka, di usia uzurnya, ketika ia membaca buku-buku yang ku tulis, sepertinya ia sedang melarungi kembali kumpulan ingatan masa lalu. Tentang desa-desa yang ia kunjungi, tentang orang-orang desa, tentang folklore, dan beragam masakan, terlepas ia menikmatinya atau tidak.
Hari ini, sudah tidak mungkin lagi untuk berlama-lama berdiskusi dengan ayah. Ia begitu cepat lelah, dan lebih memilih untuk berbaring di tempat tidur.
Namun, dari setiap penulisan buku, aku seperti dibawa oleh noktah-noktah yang saling terhubung. Tentang jejak-jejak para pendahuluku, di Sumatra Tengah.
Setiap poto yang terkait dengan masa lalu ayah, akan aku print warna, dengan kertas folio. Ketika ku tunjukan photo itu, ia berkata, “Engkah sudah sampai ke sana.”*
