Gadis Rebo Legi

Resonansi

September 23, 2026

Jon Afrizal

Ilustasi seorang perempuan . (credits: Pinterest)

Hingga, tepat setelah adzan subuh berkumandang, bapak pergi. Untuk selamanya. Dan, hari ini adalah Rabu Legi.

ASTINA, namanya. Orangtuanya, sewaktu ia lahir, sengaja memplesetkan kata “istana” untuk nama anak perempuan yang menangis pertama kali pada subuh legi ini. Sebuah nama yang mengungkapkan kemegahan, rasa percaya diri, dan hal-hal baik lainnya.

Begitulah, harapan orangtuanya, kepada anak semata wayang ini. Yang sewaktu bersekolah selalu minta dibelikan buah rambutan. Meskipun, pada akhirnya, Astina menyadari bahwa pohon rambutan hanya berbuah ketika musim hujan saja.

Anak yang terlahir dari doa-doa para pendahulunya. Doa yang tertuju kepada penguasa langit dan bumi. Dan ketika doa itu terkabul, lalu, turun ke bumi seperti semerbak wanginya kepulan asap setangi.

Yah, takdir adalah manusia. Demikian Simbah Lanang pernah berkata.

Keluarga mereka, adalah pengusaha kopi. Secara turun temurun, mereka telah berupaya untuk berwiraswasta sejak masa Hindia Belanda. Jika merunut cerita, maka Astina adalah keturunan kelima.

Tentu saja tidak sama dengan pengusaha yang selalu tampil di layar televisi. Mereka, adalah pengusaha kopi asal Temanggung, wilayah yang berada di rangkaian dataran tinggi Dieng.

Wilayah yang dikenal dengan kopi arabica, yang rasanya pahit dengan kafein yang tinggi.

Bagi Astina, terlepas dari silsilah pengusaha kopi, ia tidak menyukai kopi, sebagai minuman. Meskipun, sejujurnya, ia menyukai bau wangi biji kopi ketika disangrai.

“Minum kopi membuatku tak bisa tidur,” katanya suatu ketika.

Maka, Astina pun bukanlah berprofesi sebagai taster dalam perusahaan kecil mereka. Tetapi, ketelitiannya telah mengubahnya menjadi seorang akuntan yang handal bagi perusahaan mereka.

Suatu saat, wajahnya akan terlihat sangat serius menjelimeti layar laptopnya. Dan, itu bukanlah saat yang tepat untuk menyapanya.

Simbah Putri, isti kedua dari simbahnya, telah mulai mengajarinya menjadi juru hitung sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dengan membiarkan Astina bermain kalkulator sepanjang hari, hingga baterai kalkulator itu habis.

Setelah, mungkin, tiga bulan, maka, bertepatan dengan hari kelahirannya yang ke-10, Simbah putri menghadiahinya sebuah kalkulator.

Ia tersenyum manis kala itu, dengan rambut kepang dua yang menjuntai mendekati pinggangnya. Rambut yang selalu dilamuri dengan minyak kemiri oleh Simbah Putrinya, agar berwarna hitam gelap dan tebal.

Ilustrasi pohon kopi. (credits: Gokomodo)

Ketika ia menjadi murid sebuah SMA negeri, Simbah putri telah tiada. Kalkulator itu pun telah rusak, dan kini ia memakai komputer.

Namun, bapak yang tak banyak bicara, pernah berpesan, “Tekunilah apa yang telah engkau tekuni selama ini.”

Ia pun, tanpa sadar, mengikuti pesan itu. Dan, setelah tamat SMA, ia berpikir ulang untuk berkuliah.

Pilihannya pun jatuh pada perusahaan kecil mereka.

Mungkin, pikir Astina, suatu saat ia akan berkuliah. Dengan biaya sendiri. Dari gaji dan keuntungan yang ia dapatkan dengan tetap menjalankan usaha keluarga ini.

Pagi ini, Astina sengaja mendatangi kebun kopi mereka yang sedang panen. Buah-buah merah yang dipetik oleh para buruh tani. Buruh tani yang seperti bukan buruh lagi, tetapi adalah kerabat mereka.

Para buruh yang telah lama bekerja untuk mereke, dan bahkan, ada pula dari mereka yang kini telah menjadi pemilik kebun kopi sendiri. Tetapi, kekerabatan tetaplah menjadi warisan.

Dan, itulah yang kini terjadi.

Bapak yang sedang berada di ujung lain kebun kopi ini, tiba-tiba jatuh terduduk ke tanah. Tepat dibawah rindangnya pohon kopi.

Sekitar lima orang pekerja segera mendatangi bapak. Lalu, secara sigap mencari ambulans, dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

Astina, yang kebingungan, seperti limbung. Kali pertama ia mengetahui bapak menderita penyakit jantung.

Astina adalah gadis Rabu Legi. Ia menghormati tata krama dan berpegang teguh pada falsafah hidup. Kejujuran adalah salah satu prioritasnya. Sehingga ia sangat membenci ketidakadilan.

Ia adalah sosok yang sangat setia terhadap teman. Ia sedikit bicara, tapi selalu ia berkata-kata dengan bijaksana.

Dan dapat memilah mana tugasnya, dan mana tugas orang lain. Dan sikap-sikap itulah yang membuat ia dikagumi banyak orang.

Ia menelponku pagi ini, tepat setelah bapak dirawat secara intensif di rumah sakit. Aku baru saja pulang dari Boyolali, untuk mengunjungi keluarga.

Meskipun badanku terasa penat, demi Astina, aku datang.

Oh, ya. Mungkin juga harus ku ceritakan kepadamu. Aku dan Astina telah berstatus sebagai kekasih sejak tiga tahun terakhir.

Aku hanyalah staf komunikasi di sebuah perusahaan teksil di Ungaran. Tapi, karena aku sering berkunjung ke Temanggung karena urusan pekerjaan, terus terang, aku terjebak dalam Rabu Legi-nya.

“Mas …” Astina merangkul lenganku. Seperti tak hendak ia lepaskan dalam waktu lama.

Kami berdua berada di ruangan perawatan bapak. Melihat kabel-kabel, selang-selang dan mesin berlayar hitam dengan suara seperti “bip” secara teratur.

Entah apa arti semua ini, kami berdua tidak paham tentang ilmu kedokteran. Tapi yang jelas, bapak butuh perawatan yang cermat.

Hari kedua, kami masih di sini. Dengan wajah semakin kusut, karena bapak tidak dapat lagi berkomunikasi.

“Drop,” kata dokter yang baru saja visit.

Seluruh kerabat telah dikabari terkait kondisi bapak, oleh Astina. Kecuali ibu, karena ia telah mangkat 10 tahun yang lalu, akibat, ehm, penyakit jantung.

Kerabat masuk secara silih berganti ke ruangan itu. Tepat pukul 12 dini hari, kondisi bapak masuk ke tahap “tidak ada harapan lagi”.

Astina menangis di bahuku. Tangisan yang menjadi benteng agar ia tetap waras. Sama seperti para wanita lainnya.

Sebenarnya, kami berencana hendak menikah pada akhir tahun ini. Dan rencana ini semakin mencucurkan air mata Astina.

Malam ini, kami tidak terkejap barang sepicing pun. Kami saling bergantian melantunkan ayat-ayat suci di telinga bapak. Agar bapak selalu ingat dengan Sang Pencipta.

Hingga, tepat setelah adzan subuh berkumandang, bapak pergi. Untuk selamanya. Dan, hari ini adalah Rabu Legi.

Kesibukan yang lain pun datang. Pihak keluarga pun menyelenggarakan permandaian dan penguburan jenazah bapak. Tentu, dibantu oleh kerabat dekat, tetangga, dan juga par pekerja di perusahaan kopi ini.

Rasa sedih itu pula, yang kemudian berwujud menjadi prosesi ijab kabul bagi aku dan Astina. Di depan mayat bapak yang terbujur, dan menunggu saat dimakamkan.

“Ku terima nikahnya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai,” ucapku dengan tenang.

Setenang aku dan Astina melihat jenazah bapak diturunkan ke liat lahat.*

Share:
avatar

Redaksi