Mantra “Hening” Gombloh

Budaya & Seni

September 4, 2026

Jon Afrizal

Gombloh (credits: indolawas/amira.co.id)

“Kita baru benar-benar merasakan betapa pentingnya Gombloh setelah ia meninggaldunia.” Djoko Lelono, Pelukis

SOEDJARWOTO, sejak kecil telah mendapat gelar “Gombloh”. Dalam dialek lokal, kata itu berasal dari “Nggomblohi”. Dalam Bahasa Indonesia, kata itu memiliki arti: berpura-pura bodoh.

Pada kenyataannya, sangat bertolak belakang. Meskipun Gombloh tidak menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Justru, karya-karya Gombloh, menampilkan Gombloh sebagai: Manusia Cerdas.

Dari 15 album yang ia rilis, dari tahun 1978 hingga tahun 1988, baik secara solo maupun bersama Lemon Tree’s Anno ’69, maka aku pilih satu lagu, untuk menjelaskan kecerdasannya.

Yakni pada lagu kedua dari 10 lagu di album “Berita Cuaca” (1982), dalam rilisan bentuk kaset oleh Indra Record. Lagu itu berjudul “Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng”.

Lagu berdurasi 6 menit 58 detik ini, melandaskan musiknya pada jenis rock balada. Sebagai jenis musik yang akrab di telinga Indonesia semasa itu. terutama, setelah Deep Purple konser di Stadion Senayan, Jakarta pada tanggal 4 dan 5 Desember 1975. Sepintas, terdengar mirip dengan tempo lagu “When The Blind Man Cries” (1972).

Dan, lagu “Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng” bukanlah melulu music rock balada saja. Etno Rock, lebih tepatnya. Sebab juga memasukan unsur budaya Bali, seperti alunan musik pengiring Tari Kecak.

Lagu ini, juga dijadikan judul album Gombloh bersama Lemon Tree’s Anno ’69 berbahasa Jawa, dengan judul album “Sekar Mayang” (1981).

Sedangkan liriknya, adalah berisi mantra Jawa. Sebuah kalimat yang sering digunakan dalam doa, dan di pewayangan, yakni “Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng”.

Serat Wedhatama, Pangkur pupuh 1. (credits: KGPAA Mangkunegara IV)

Secara arti, kalimat ini bermakna sebagai keadaan hening, suci, dan tenang untuk memuji Tuhan.

Andriyanto dalam artikel berjudul “Hong Wilaheng: Filosofi Keselarasan dan Kosmogoni dalam Budaya Jawa” menjelaskan bahwa Hong Wilaheng bukanlah sekadar mantra atau kalimat sakral yang diucapkan dalam ritual saja. Namun membawa makna mendalam tentang asal-usul manusia, hubungannya dengan alam semesta, dan bagaimana seseorang bisa menyatu dengan energi ilahi. 

Dalam konteks kosmogoni Jawa, Hong Wilaheng menjadi simbol penting tentang perjalanan spiritual manusia; dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan. Sewaktu lagu itu dirilis, usia Gombloh adalah 34 tahun.

Lagu itu memiliki reffrain. Yakni;

“Hong wilaheng sekareng bawono langgeng
Sekar mayang
Hong wilaheng sekareng bawono langgeng
Sekar kajang.”

Dalam bahasa Indonesia, dapat diartikan sebagai;

“Hening dan kosong, jadilah bunga bumi yang semerbak abadi
Seperti untaian Kembang Kelapa
Hening dan kosong, jadilah bunga bumi yang semerbak abadi
Seperti Bunga Mimpi.”

Andriyanto menyatakan bahwa prasa Hong Wilaheng diterapkan dalam beberapa cara. Yakni; sebagai doa harian yang dapat membantu menyiapkan batin agar lebih fokus dan terbuka terhadap energi ilahiah.

Lalu, sebagai bentuk refleksi diri, menjelang tidur. Yang membantu melepaskan beban pikiran dan membawa ketenangan dalam tidur.

Kemudian sebagai sarana untuk menghilangkan energi negatif. Terutama jika seseorang merasa lelah secara psikis, setelah berinteraksi dengan lingkungan yang berenergi negatif.

Juga, berguna untuk meningkatkan konsentrasi. Dengan cara olah pernafasan, mengatur napas sambil melafalkan Hong Wilaheng dalam hati, yang dapat membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.

Di dunia perwayangan, jika dalang akan memulai pementasan, maka ia akan melafalkan prasa Hong Wilaheng. Prasa ini adalah sebagai tanda bahwa lakon yang akan dipertunjukkan bukanlah sekadar cerita saja. Melainkan penggambaran simbolik dari kehidupan manusia.

Kata “Hong” digunakan dalam olah samadhi. Yakni sebagai vibrasi prana (olah nafas) dengan tujuan manunggaling (untuk menyatu) dengan vibrasi alam, sebagai suara semesta.

Sehingga, umumnya, pengucapan kata “Hong” dalam mengawali olah samadhi diucapkan dengan nada panjang.

Kata “Hong” berasal dari kata “Aum” dalam bahasa Sansekerta, yang dilafalkan menjadi “Om”. Dalam kepercayaan Hindu, kata “Aum” digunakan pada doa pemujaan kepada Hyang Widhi.

Prangko Gombloh. (credits: Komdigi)

Doa dengan menggunakan awalan “Aum” memiliki arti: meminta perlindungan dan berkah dari berkah Hyang Widhi. Pun, makna dari kata “Aum” adalah: dunia beserta isinya adalah perputaran antara kelahiran, kehidupan dan kematian.

Ketika kata “Aum” masuk ke Nusantara, dan diadopsi, maka pelafalannya secara lokal Jawa berubah menjadi “Hong”. 

Mengutip laman gomblohlemontrees69, lagu “Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng” atau “Sekar Mayang” adalahperenungan panjang Gombloh terhadap Serat Wedhatama. Yakni sastra Jawa lama yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV (1811 – 1881). Meskipun, para ahli sejarah kerap menyebutkan bahwa penulis Serat Wedhatama bukan hanya satu orang saja.

Pembacaan Serat Wedhatama umumnya dilagukan, atau juga disebut: nembang. Mangkunegara IV menembangkan syair-syair Serat Wedhatama adalah sebagai petuah kehidupan untuk mendapatkan kebijaksanaan.

Serat Wedhatama terdiri dari lima bab; Pangkur, Sinom, Pucung, Gambuh dan Tembang Kinanthi. Didalam setiap bab terdapat pupuh syair-syair panjang sejumlah 100 bait.

Untuk tujuan musikalitas, maka Gombloh hanya mengambil pupuh 1 dan 12 saja.

Prasa Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng memang tidak ditemukan di dalam Serat Wedhatama. Tapi, dengan memasukan prasa Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng di lirik lagu ciptaannya, justru itulahkejeniusan Gombloh terlihat.

Penggunaan prasa Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng menjelaskan kedudukan Serat Wedhatama. Yang tidak hanya sebagai puisi-puisi nasihat saja. Tetapi, sebagai kumpulan harapan manusia yang menyanyikan dan mendengarkannya untuk menjadi manusia yang bijaksana.

Gombloh yang bernama asli Soedjarwoto Soemarsono lahir di Tawangsari, Jombang, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 12 Juli 1948. Ketika itu, sedang terjadi Agresi Militer ke-2, dan kedua orangtuanya meninggalkan rumahnya di Kawasan Genteng, Surabaya, menuju ke Kota Jombang.

Ia meninggaldunia di Surabaya pada tanggal 9 Januari 1988. Ia, sepertinya, menderita penyakit pada paru-paru.

Pada tanggal Senin (25/08/2025), Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia kepada para tokoh. Yakni; Tanda Bintang Republik Indonesia Utama, Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Mahaputera, Bintang Jasa, Bintang Kemanusiaan, Bintang Budaya Parama Dharma, dan Bintang Sakti dianugerahkan kepada para tokoh nasional.

Satu dari delapan nama, yang mendapatkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma, adalah; almarhum Soedjarwoto Soemarsono (Gombloh). Pemberian itu, sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 77/TK/Tahun 2025 tanggal 25 Agustus 2025 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma. Demikian mengutip laman Kementerian Sekretariat Negara (Setneg).

Gombloh adalah seniman rakyat yang sebenarnya. Dalam kesehariannya, ia dekat dengan golongan rakyat kebanyakan, bernyanyi untuk rakyat kebanyakan, dan meninggalkan kefanaan dunia sebagai rakyat kebanyakan juga.

“Mingkar mingkuring angkoro
Akarono karnan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinubo sinukato.”
*

Share:
avatar

Redaksi