Serat Darmogandhul Dan Cultuurstelsel

Inovasi

July 6, 2026

Jon Afrizal

Lukisan “De onderwerping van Diepo Negoro aan Luitenant-generaal Baron De Kock” oleh Nicolaas Pieneman sekitar tahun 1830 hingga 1835. (credits: Wiki Commons)

“Serat Darmagandhul” tidak diketahui secara pasti siapa pengarang sebenarnya. Dan semestinya tidak menjadi referensi resmi dalam penulisan sejarah.

KOLONIAL Belanda tidak mampu mengatasi perlawanan rakyat Jawa, terutama pasca ditangkapnya Pangeran Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830. Sehingga, kolonial pun membuat strategi baru. Yakni; perang secara ideologi dengan cara memanipulasi sejarah.

Sejarawan Agus Sunyoto, mengutip NU Online, mengatakan bahwa sejak saat itu pun Belanda membuat naskah-naskah kuno yang manipulatif. Tujuannya adalah untuk mengkerdilkan perlawanan rakyat Jawa yang dimotorioleh kalangan pesantren.

Sebelum penangkapan Pangeran Diponegoro yang terlahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar, diketahui telah terjadi Perang Jawa. Yakni sebuah konflik bersenjata yang berlangsung di bagian tengah dan timur Jawa antara tahun 1825 hingga 1830.

Perang ini juga dikenal dengan nama Perang Diponegoro, sebab, memang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Perang Jawa, adalah titik balik penting dalam sejarah, kebudayaan, dan tatanan sosial masyarakat Jawa. Pada perang ini, pihak kolonial yang dipimpin oleh pimpinan HM de Kock mendapat dukungan dari para priyayi Jawa. Sementara, rakyat Jawa dan Pangeran Diponegoro didukung oleh tokoh agama dan spiritual, dan juga para santri.

Dan seperti yang diketahui, setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, hubungan antara Pangeran Diponegoro (1785 – 1855) yang adalah putra sulung Hamengkubuwono III, dengan pemerintahan Hamengkubuwono V (1820 – 1855) dan otoritas kolonial Belanda menjadi renggang. Dimana, Hamengkubuwono V berposisi sangat kooperatif dengan kolonial.

Dalam catatan Belanda, Hamengkubuwono V diberi sebutan “modelvorst”. Yang artinya, adalah: raja yang dianggap ideal bagi kepentingan Belanda.

Maka yang muncul setelah Perang Jawa, adalah taktik manipulatif melalui puisi tembang macapat, yang kemudian berubah bentuk menjadi sebuah buku. Satu yang mengemuka adalah “Serat Darmagandhul”.

Serat Darmagandhul” adalah puisi tembang macapat yang menceritakan tentang jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.

Hampir seluruh isi “Serat Darmagandhul” adalah bentuk turunan dari cerita babad yang telah ada sebelumnya. Yakni “Serat Babad Kadhiri” yang ditulis oleh Mas Ngabehi Purbawijaya dan Mas Ngabehi Mangunwijaya pada tahun 1832.

“Serat Darmogandul”. (credits: pubhtml5)

“Serat Babad Kadhiri” adalah karya sastra klasik Jawa yang mengisahkan sejarah, silsilah, dan asal-usul berdirinya Kerajaan Kediri. Teks ini juga menceritakan perkembangan kerajaan-kerajaan leluhur, seperti; Kerajaan Jenggala dan Panaraga, legenda mistis, hingga transisi menuju era Kerajaan Islam.

“Serat Darmagandhul” ditulis oleh Ki Kalamwadi. Dalam Bahasa Jawa, prasa Kalamwadi, adalah berarti: kabar (kalam) yang dirahasiakan (wadi).

Waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa (sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata), yang adalah tanggal 16 Desember 1900.

Hingga saat ini, tidak diketahui siapa sebenarnya Ki Kalamwadi itu.

Ada pendapat, bahwa Ronggowarsito adalah pengarang sesungguhnya dari “Serat Darmagandhul”. Tetapi, senyatanya, Ronggowarsito meninggaldunia 27 tahun sebelum “Serat Darmagandhul” diterbitkan. Ronggowarsito meninggaldunia pada tanggal 24 Desember 1873.

“Serat Darmagandhul” tidak diketahui secara pasti siapa pengarang sebenarnya, dan semestinya tidak menjadi referensi resmi dalam penulisan sejarah. Toh kenyataannya, buku “Sejarah Nasional Indonesia II”, yang ditulis oleh Poesponegoro dan Notosusanto, dan, buku “Masa Akhir Majapahit: Girindrawarddhana dan Masalahnya” oleh Hasan Djafar menjadikannya sebagi sumber rujukan sejarah.

GWJ. Drewes, orientalis Belanda, menyatakan bahwa “Serat Babad Kadhiri” adalah tema utama dan ide bagi penulisan “Serat Darmagandul”.

Namun, Agus Sunyoto menyatakan, bahwa Mas Ngabehi Purbawijaya adalah pegawai kolonial Belanda. Ia menjabat sebagai jaksa di Kediri. Oleh kolonial, Mas Ngabehi Purbawijaya ditugaskan untuk membuat “Serat Babad Kadhiri”.

Memang, Perang Jawa membuat kolonial Belanda bangkrut. Dengan pengeluaran terus menerus sepanjang perang, untuk mengerahkan pasukan dan menerapkan strategi benteng stelsel.

Larangan beredar “Serat Darmogandhul”. (credits: Kejagung)

Dengan biaya NLG 20 juta sewaktu itu, atau setara dengan IDR 186,2 miliar, menurut sejarawan Peter Carey, Perang Jawa adalah beban luar biasa berat bagi keuangan pemerintah Belanda pada masa itu.

Sehingga, wajar, jika Belanda tidak ingin kecolongan lagi.

Maka, ketimbang Belanda harus mengeluarkan biaya untuk perang, adalah lebih murah biayanya untuk memerintahkan “orang-orang mereka” untuk membuat puisi tembang macapat, yang isinya mengaduk-aduk pikiran banyak Orang Jawa kala itu, seperti “Serat Darmogandhul”, misalnya.

“Serat Darmagandhul” telah membuat banyak rakyat Jawa meragukan kondisi yang terjadi, dan mempertentangkan antara agama Islam dan tradisi. Keniscayaannya, bahwa yang diuntungkan dari “perang ideologi” ini, tidak hanya pemerintah kolonial semata. Melainkan, juga para priyayi dan orang-orang yang berada di pihak Belanda.

Sebab, masa kala itu adalah jaman Cultuurstelsel atau yang dikenal dengan sistem kerja paksa. Sebuah sistem yang diterapkan oleh pemerintah kolonial untuk menanam tanaman komersial dengan tujuan untuk membayar pajak dan untuk diekspor pemerintah Belanda, dari tahun 1830 hingga 1870.

Yang menjadi pekerja paksa, tetap saja rakyat kebanyakan, dan bukan kalangan priyayi ataupun golongan pro kolonial.

Pada masa Orde Baru, pada masa pemerintahan Orde Lama berdasarkan UU No. 4/PNPS/1963 tentang “Pengamanan Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum”, maka “Serat Darmagandhul” dilarang beredar.

Secara spesifik, larangan itu tertuang dalam Keputusan Jaksa Agung dan Instruksi Jaksa Agung Nomor INS-004/J.A/2/1991 tentang “larangan beredar buku Serat Darmogandhul & Sulak Gatotoloco Tentang Islam”.*

Share:
avatar

Redaksi