Etnosains; Malam 1 Suro

Inovasi

June 17, 2026

Jon Afrizal

Ilustrasi mencuci pusaka keris. (credits: Pondok Jeruk)

Tanpa suara, tidak ada obrolan, tak ada tawa. Hanya langkah-langkah pelan tanpa alas kaki yang menggema dalam kesunyian malam.

MALAM 1 Suro, yakni malam menjelang tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa. Tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah Islam.

Kalender Jawa adalah hasil sinkretisme antara sistem kalender Hindu, Islam, dan budaya lokal. Sehingga, dalam pandangan Orang Jawa, Malam 1 Suro adalah malam paling sakral dalam setahun. Dimana, diyakni, berbagai kekuatan spiritual sedang sangat aktif.

Bagi Orang Jawa, Malam 1 Suro, lebih tepatnya adalah malam yang penuh energi gaib. Maka, sebagai prakteknya, Malam 1 Suro adalah waktu untuk berintrospeksi, bertirakat, dan menjaga kesunyian. Sehingga, pun malam ini sangat jauhi dari perayaan dan pesta.

Justru sebaliknya, Malam 1 Suro dipenuhi dengan praktik spiritual. Seperti; semedi, tapa bisu, atau puasa mutih.

Orang Jawa, mengutip laman Universitas Negeri Surabaya, memiliki sistem pengetahuan kosmologi (waktu) yang unik. Sistem kosmologi ini berbasis pada perputaran bulan dan simbolisme spiritual.

Pun pemilihan Malam 1 Suro sebagai awal tahun bukan tanpa dasar. Tetapi berdasarkan pada pengamatan astronomi tradisional dan makna filosofis. Waktu dianggap bersifat siklikal dan spiritual, dan bukan hanya linier saja.

Selain itu, Malam 1 Suro dianggap sebagai titik dimana energi kosmis, roh leluhur, dan kekuatan gaib berkumpul. Ini mencerminkan pemahaman Orang Jawa terhadap hubungan antara mikrokosmos (: diri manusia) dan makrokosmos (: alam semesta). Sebagai konsep yang juga ditemukan dalam ekologi spiritual masyarakat adat lainnya.

Sehingga, praktek, seperti; tirakat, tapa bisu, dan puasa mutih bukan hanya ritual saja. Melainkan dapat dilihat sebagai bentuk pengelolaan energi tubuh dan batin.

Secara keilmuan modern, etnosains telah menempatkan praktek ini sebagai bagian dari pengobatan tradisional, pengendalian diri, dan penjernihan pikiran. Dalam konteks modern, proaltek ini dapat dianalogikan dengan meditasi atau detoksifikasi.

Tradisi Malam 1 Suro. (credits: Museum Sonobudoyo Jogjakarta)

Sehingga larangan untuk mengadakan acara besar atau bepergian di Malam 1 Suro, adalah bentuk sistem proteksi sosial dan spiritual. Dari sudut pandang etnosains, larangan ini dapat dipahami sebagai cara untuk menjaga ketertiban batin orang per orang, dan, menciptakan ruang untuk refleksi kolektif.

Ritual seperti kirab pusaka di Keraton Yogyakarta dan Surakarta juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa memberikan makna simbolis pada benda-benda warisan leluhur. Secara kajian etnosains, ini termasuk dalam kategori epistemologi material, yakni bagaimana pengetahuan diwariskan melalui benda, simbol, dan tata laku.

Sehingga, Malam 1 Suro bukan hanya bagian dari tradisi budaya, tetapi juga sebuah bentuk ilmu pengetahuan lokal yang kompleks.

Malam 1 Suro sebagai malam pergantian tahun, mengutip laman Museum Sonobudoyo Jogjakarta, adalah penanda babak baru, saat yang diyakini penuh energi spiritual.

Di masa Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma merancang sistem penanggalan Jawa yang menggabungkan unsur Islam dan budaya lokal. Dari sinilah lahir bulan Suro, yakni bulan untuk diam, merenung, dan membersihkan jiwa, dengan tradisi ini menolak hingar-bingar.

Di bulan Suro, pesta dan perayaan besar dianggap tak patut. Bukan karena larangan tegas, melainkan karena kesadaran akan nilai-nilai laku prihatin. Masyarakat memilih untuk menunduk, bukan melonjak.

Sementara dalam tradisi Kejawen, inilah saatnya menarik diri dari hiruk-pikuk dunia, membersihkan pusaka, berjalan dalam sunyi, menyantap bubur sederhana, dan memohon keselamatan.

Di Keraton Yogyakarta, misalnya, ritual Jamasan Pusaka menjadi pembuka. Tosan aji, kereta, gamelan, dan seluruh benda sakral dicuci, dimandikan dengan penuh khidmat. Sebagai sebuah penghormatan kepada leluhur, dan sekaligus pengingat akan tanggung jawab menjaga warisan.

Malam harinya, ribuan orang berkumpul dalam diam untuk mengikuti Mubeng Beteng. Rute sejauh 4 kilometer mengelilingi benteng keraton dilalui tanpa alas kaki, tanpa suara, dalam suasana Tapa Bisu. Tak ada obrolan, tak ada tawa. Hanya langkah-langkah pelan yang menggema dalam kesunyian malam. Sebuah perjalanan lahir batin, menelusuri waktu sambil menunduk pada semesta.

Di Pura Pakualaman, tradisi sejenis disebut dengan Lampah Ratri. Yakni mengitari wilayah kadipaten dalam gelap, para peserta menyatukan niat untuk memohon restu dan kekuatan menghadapi tahun baru.

Prosesi ini, sejatinya, bukanlah tontonan. Tetapi, seluruh prosesi ini adalah laku.

Dan di akhir prosesi ini, terdapat semangkuk Bubur Suran. Bubur putih gurih manis, dengan tujuh jenis kacang, melambangkan hari-hari dalam seminggu. Dalam setiap sendoknya, terselip harapan akan keseimbangan dan rasa syukur yang tak putus.

Makan bersama adalah penutup prosesi. Penuh dengan kehangatan, sederhana, dan sarat makna.*

Share:
avatar

Redaksi