Yang Gelisah di Tengah Perubahan Zaman
Resonansi
August 19, 2026
Dimas Indianto Sastronegoro*

Ukiran di rumah “Kajang Lako” Melayu Jambi. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Sudah terlalu lama kebudayaan sering ditempatkan sebagai pelengkap setelah persoalan ekonomi, politik, dan teknologi rampung dibicarakan.
”
KONGRES Kebudayaan Nusantara di Malang pada 8 Agustus 2026 hadir dari kegelisahan tentang arah kebudayaan Nusantara di tengah perubahan zaman dan hegemoni kebudayaan. Kebudayaan bukan sekadar kumpulan upacara, pakaian adat, kesenian, atau peninggalan masa silam yang disimpan dalam lemari sejarah.
Koentjaraningrat (2002) menyebut bahwa budaya adalah hasil dari aktivitas cipta, rasa, dan karsa manusia. Dan, ketika napas kebudayaan mulai tersisih oleh arus keseragaman, masyarakat kehilangan sebagian cermin untuk mengenali jati dirinya sendiri.
Kongres Kebudayaan Nusantara diselenggarakan oleh Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK), tetapi pintu kongres tidak hanya terbuka bagi kalangan penghayat kepercayaan saja. Ruang perjumpaan tersebut justru dibangun seluas mungkin agar agama, kepercayaan, komunitas adat, budayawan, akademisi, seniman, serta berbagai unsur masyarakat dapat duduk dalam satu hamparan kebudayaan.
Perbedaan keyakinan tidak diposisikan sebagai tembok yang memisahkan, melainkan sebagai warna yang memperkaya tenunan Nusantara. Dalam suasana semacam itu, kebudayaan tampil sebagai rumah bersama yang mampu menampung keragaman tanpa meminta setiap penghuni kehilangan akar masing-masing.
Namun, pengarusutamaan budaya Nusantara bukan pekerjaan yang dapat selesai melalui satu festival, satu seminar, ataupun satu kongres. Pengarusutamaan membutuhkan keberanian untuk membawa nilai budaya masuk ke ruang-ruang kehidupan yang paling dekat dengan masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga kebijakan publik.
Sudah terlalu lama kebudayaan sering ditempatkan sebagai pelengkap setelah persoalan ekonomi, politik, dan teknologi rampung dibicarakan. Padahal cara sebuah bangsa memperlakukan kebudayaan menunjukkan cara bangsa tersebut menghargai sejarah, manusia, alam, dan masa depannya.
Dalam pada ini, Kongres Kebudayaan Nusantara mencoba membalik cara pandang tersebut dengan menempatkan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan bersama, titik pusat, bukan sekadar ornamen peradaban.
Urgensi Kongres Kebudayaan
Urgensi kongres juga terasa ketika kebudayaan berhadapan dengan derasnya perubahan teknologi dan gaya hidup. Anak-anak tumbuh dalam dunia digital yang bergerak cepat, sementara sebagian pengetahuan lokal berjalan perlahan dari mulut ke mulut dan dari laku ke laku.
Bahasa ibu terancam kehilangan penutur, permainan tradisional mulai ditinggalkan, pengetahuan tentang musim (pranata mangsa) semakin jarang dipahami, dan kesenian lokal berhadapan dengan selera pasar yang diseragamkan. Kondisi tersebut tidak berarti bahwa teknologi harus ditolak atau modernitas harus dimusuhi.
Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu membawa akar kebudayaan berjalan bersama perubahan zaman tanpa tercerabut dari tanah asalnya.
Kongres memberikan kesempatan bagi para pelaku budaya untuk berbicara tentang persoalan tersebut dari pengalaman masing-masing. Pembicaraan tidak berhenti pada keluhan tentang tradisi yang semakin terpinggirkan, tetapi bergerak menuju gagasan mengenai cara merawat, mengembangkan, dan menghidupkan kembali kebudayaan.
Dalam konteks ini, kebudayaan tidak diperlakukan sebagai museum yang harus dijaga dari perubahan, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang dapat berdialektika dengan zaman. Tradisi dapat bertemu teknologi, pengetahuan leluhur dapat berdialog dengan sains, dan nilai spiritual dapat berdampingan dengan kehidupan masyarakat kontemporer.

Ukiran di rumah “Kajang Lako” Melayu Jambi. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Kongres Kebudayaan Nusantara juga mengingatkan bahwa kebudayaan tidak pernah berdiri sendiri. Di dalam kebudayaan terdapat agama, kepercayaan, bahasa, pengetahuan, sistem sosial, seni, sejarah, serta cara manusia memperlakukan.
Semua unsur tersebut saling berkelindan membentuk pandangan hidup masyarakat. Ketika satu unsur dipisahkan secara kaku dari unsur lain, gambaran kebudayaan menjadi pincang dan kehilangan kedalaman. Kongres berusaha menghadirkan kembali pandangan yang utuh bahwa kebudayaan merupakan ruang perjumpaan berbagai unsur kehidupan manusia.
Titik Temu Agama dan Kepercayaan
Hubungan antara agama dan penghayat kepercayaan dalam sejarah Indonesia tidak selalu berjalan dalam suasana yang teduh. Ada percikan-percikan kecil berupa prasangka, kesalahpahaman, pelabelan, bahkan jarak sosial yang kadang tumbuh karena perbedaan cara memahami keyakinan.
Percikan tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dibiarkan dapat menjadi bara yang menghanguskan rasa persaudaraan. Dalam buku Islam Nusantara: Jalan Panjang Moderasi Beragama di Indonesia (2021), Menteri Agama, Nassarudin Umar, mengatakan bahwa masyarakat Nusantara sesungguhnya memiliki sejarah panjang tentang hidup berdampingan di tengah perbedaan keyakinan dan tradisi. Sejarah tersebut memberikan pelajaran bahwa perbedaan dapat dirawat melalui kebijaksanaan, bukan dipertajam menjadi pertentangan.
Kebudayaan dapat menjadi jembatan ketika bahasa agama dan bahasa kepercayaan terasa memiliki jarak. Melalui kebudayaan, orang dapat duduk bersama menikmati kesenian, mendengarkan cerita leluhur, membicarakan sejarah kampung, merawat lingkungan, serta berbagi kegelisahan serta keresahan tentang masa depan generasi muda.
Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan menyeragamkan keyakinan. Perbedaan dapat tetap hidup selama terdapat kesediaan untuk saling menghormati dan mengakui kemanusiaan yang sama.
Dalam ruang kebudayaan, agama dan kepercayaan memiliki kesempatan untuk bertemu tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Kenusantaraan memberikan perspektif yang penting dalam perjumpaan tersebut. Nusantara sejak dahulu merupakan ruang pertemuan berbagai keyakinan, bahasa, etnis, tradisi, dan pengetahuan yang bergerak melalui jalur perdagangan, migrasi, perkawinan, pendidikan, serta perjalanan spiritual.
Dalam ruang yang luas tersebut, kebudayaan tumbuh melalui proses saling menyapa dan saling memengaruhi. Agama datang membawa ajaran, masyarakat memberikan konteks, lalu lahirlah bentuk-bentuk kebudayaan yang memiliki warna lokal tanpa kehilangan kedalaman spiritual.
Pendidikan Berwawasan Budaya Lokal
Satu bagian penting Kongres Kebudayaan Nusantara adalah sidang komisi yang membicarakan berbagai bidang kehidupan kebudayaan secara lebih terarah. Terdapat tujuh komisi yang membahas Sistem Oral Tradisional, Bahasa Ibu, dan Aksara; Sistem Kepercayaan dan Filosofis Spiritual Nusantara; Sistem Kemasyarakatan, Pedoman Hidup, dan Ketatanegaraan Nusantara; Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nusantara; Historis dan Jejak Peradaban Nusantara; Kesenian dan Budaya Nusantara; serta Kalender Nusantara dan Masyarakat Adat.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki cakupan yang sangat luas dan tidak dapat direduksi menjadi kesenian semata. Setiap komisi membawa persoalan yang berbeda, tetapi seluruh pembahasan bertemu dalam satu pertanyaan besar tentang bagaimana pengetahuan Nusantara dapat terus hidup. Salah satu ruang strategis yang kemudian mendapat perhatian adalah pendidikan.
Pendidikan memiliki posisi penting karena menjadi salah satu tempat paling menentukan dalam pembentukan cara pandang generasi muda. Selama ini peserta didik sering diajak mengenal kebudayaan melalui nama-nama tokoh, daftar kesenian, pakaian adat, rumah tradisional, atau hafalan tentang berbagai daerah di Indonesia.
Pengetahuan semacam itu tetap berguna, tetapi belum cukup untuk membuat kebudayaan menjadi bagian dari cara berpikir dan cara hidup. Pendidikan perlu membawa peserta didik lebih dekat kepada nilai yang terkandung dalam kebudayaan lokal, seperti gotong royong, keselarasan dengan alam, penghormatan terhadap orang tua, tanggung jawab sosial, keberanian, kesederhanaan, dan keluhuran budi.
Dengan begitu, budaya tidak berhenti sebagai bahan hafalan, tetapi tumbuh menjadi pengalaman yang membentuk karakter.*
*Budayawan dan Ketua Dewan Pengarah Kongres Kebudayaan Nusantara. Artikel dikutip, diedit tanpa mengurangi arti, dari laman Kementerian Agama
