Membaca “Kaba Cindur Mato”

Budaya & Seni

July 27, 2026

Jon Afrizal

Tanduk Kerbau dengan latar belakang marawa Minangkabau. (credits: Google Photos/Wiki Commons/amira.co.id)

Cindur Mato sebagai folklore Urang Minangkabau, merepresentasikan cara pandang masyarakat Minangkabau terhadap Kerajaan Pagarruyung yang ideal, dan klaim-klaim atas ekspansi wilayah-wilayah rantaunya. Cindur Mato adalah sebuah Kaba (cerita) berlatarbelakang Kerajaan Pagarruyung di sekitar abad ke-15 M. Berikut sekelumit tentang “Kabar Cindur Mato”, sebagai legenda, untuk pembaca Amira.

LUNANG, abad ke-15 M. Wilayah yang dalam Cindur Mato secara eksplisit disebutkan sebagai “muasal” Kerajaan Pagarruyung. Sebab, Bundo Kandung dalam kisah ini diceritakan kembali ke Lunang, sebagai tempat asal usulnya dan membangun istana di sana.

Saat ini, Nagari Lunang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat. Masyarakat di sana mempercayai adanya Cindur Mato, berikut dengan dengan makamnya.

Sementara dalam Tambo Minangkabau disebutkan bahwa Pariangan adalah awal dari kejadian, yang diprasakan sebagai: sejak Gunung Merapi masih sebesar ukuran telur itik (bebek). Dipersepsikan bahwa gunung adalah sesuatu yang bertumbuh, terus menerus dan membesar.

Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende sebagai kertas cetakan, pertama kali ditulis oleh JL van der Toorn. Ia adalah pengajar atau mungkin pernah menjadi kepala sekolah di Kweekschool Ford De Kock (Sekolah Raja) di Bukittinggi, sekitar akhir tahun 1800-an.

Namun, banyak yang menyatakan edisi yang ditulis ulang oleh JL van der Toorn tidak lengkap, karena hanya memuat sepertiga dari manuskrip asli setebal 500 halaman. Maka selanjutnya, muncul cetakan-cetakan yang lain. Termasuk Cindu Mato yang ditulis oleh Syamsuddin Sutan Radjo Endah pada tahun 1960, yang dicetak oleh Pustaka Indonesia, Bukittinggi.

Namun, hingga kini, belum dijelaskan, atau lebih tepatnya, aku sendiri belum pernah mendapatkan salinan manuskrip asli setebal 500 halaman yang telah ditulis ulang oleh JL van der Toorn, dan menjadi buku cetakan Tjindur Mato, Minangkabausch-Maleische Legende itu.

Secara karya sastra, Cindur Mato adalah karya yang lengkap. Terdapat nama tempat, waktu, tokoh-tokoh dan juga plot, sebagai unsur dari cerita.

Tetapi, jika dinyatakan sebagai fakta, tentu saja, akan muncul sekian banyak perdebatan seputar kisah Cindur Mato.

Bundo Kandung (Puti Panjang Rambut) adalah ibu dari Dang Tuanku (Sutan Rumanduang). Sebagai pewaris tahta matrilineal dari Bundo Kandung, Dang Tuanku kemudian dipertunangkan dengan Puti Bungsu.

Makam Cindur Mato, di Nagari Lunang. (credits: Google Photos)

Puti Bungsu adalah sepupu dari Dang Tuanku. Ayah dari Puti Bungsu adalah paman dari garis ibu, yakni Rajo Mudo atau Rajo Megat (Sutan Sakti Gelar Rajo Jonggor) yang berkuasa di Renah Sekalawi.

Renah Sekalawi, dalam geografis, dapat disebut sebagai: Serawai di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu. Dalam folklore Serawai, Rajo Mudo juga disebut dengan nama Raja Jang Tiang Pat Petuloi ke-1.

Jarak dari Nagari Lunang di Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat ke Serawai di Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu adalah sekitar 50 kilometer. Keduanya, berada di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Dang Tuanku adalah putra dari Bundo Kanduang, dari pernikahannya dengan Bujang Salamat (Hyang Indera Jati) dari dinasti Makhudum di Sumanik.

Sebagai catatan, jika merunut pada penelitian-penelitian sejarah, Bundo Kandung adalah Dara Jingga, satu dari dua putri Bumi Melayu yang beristana di Dharmasraya, yang dibawa ke Tanah Jawa di era Ekspedisi Pamalayu (1275 M – 1286 M) yang dilakukan oleh Kerajaan Singhasari.

Dara Jingga, selanjutnya, memiliki anak dan bertahta sebagai Maharajadiraja Adityawarman, raja Melayupura, yang seterusnya sebagai asal usul tahta Pagarruyung. Demikian singkatnya, mengutip Jon Afrizal dalam buku “Mantra Melayu”.

Tetapi, apakah Hyang Indera Jati adalah sama dengan prasa sira alaki dewa, yang dalam penelitian sejarah kemudian kerap disebutkan sebagai Mahesa Anabrang, pemimpin Ekspedisi Pamalayu.

Dan, apakah dinasti Makhudum adalah dinasti Mauli, sebagai dinasti Maharajadiraja Adityawarman. Sementara, Sumanik, adalah nama tempat yang dalam Tambo Minangkabau disebutkan sebagai pemukiman awal di Pariangan, Padang Panjang, di kaki Gunung Marapi (2.892 mdpl).

Pun, tidak terdapat catatan, sudah sebesar apakah Gunung Merapi sewaktu kisah Cindur Mato terjadi. Mungkin saja, telah berlipat ganda tumbuhnya, dari yang semula hanya sebesar telur bebek.

Sementara Dang Tuanku memiliki seorang sepupu dari garis ibu. Sepupu yang selalu membelanya. Sepupu itu bernama: Cindur Mato. Sedangkan ibu dari Cindur Mato bernama: Kembang Bendahari, demikian menurut folklore Cindur Mato.

Tetapi, tidak diketahui secara pasti, apakah Kembang Bendahari adalah sama dengan Dara Petak, yang disebutkan dalam penelitian sejarah. Dara Petak, yang dinikahi oleh Raden Wijaya sang pendiri Majapahit, yang kemudian melahirkan Jayanagara bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1294 M –1328 M).

Kisah Cindur Mato, kerap dinyatakan bersetting pada masa ketika Pagarruyung sedang vakum, sepeninggal Ananggawarman memerintah Malayapura (1375 M – 1417 M). Ananggawarman yang adalah anak dari Adityawarman, yang ditunjuk sebagai penerus Melayupura, sebagai raja ke-2.

Museum Mande Rubiah, di Nagari Lunang. (credits: Google Photos)

Lantas, seharusnya, tentu Ananggawarman bukanlah anak dari Bundo Kandung, melainkan cucu dari Bundo Kandung.

Dikarenakan Ananggawarman tidak mempunyai keturunan seorang putera pun, maka sepeninggalnya terjadilah keguncangan politik dalam negeri terkait siapa yang akan menjadi raja.

Namun, Cindur Mato yang protagonist selalu membutuhkan antagonist, seperti dalam karya sastra pada umumnya.

Jadilah Imbang Jayo muncul sebagai antagonist. Imbang Rajo adalah raja yang berasal dari Sungai Ngiang, ingin mempersunting Puti Bungsu. Diceritakan, Imbang Rajo menculik dan melarikan Puti Bungsu.

Imbang Jayo adalah anak dari Tiang Bungkuk. Dalam Cindur Mato disebutkan bahwa Tiang Bungkuk adalah pendekar yang menjadi ancaman terbesar bagi eksistensi Pagarruyung.

Terdapat dua folklore yang berbeda pendapat tentang Sungai Ngiang, yang bagi Urang Minangkabau dinyatakan sebagai: wilayah rantau. Pertama, jika mengacu pada folklore Urang Sungai Gadang, Sungai Ngiang yang dimaksud adalah di Sangir, Lubuk Gadang, Solok Selatan.

Jika merunut pada folklore dari Kerinci Provinsi Jambi, maka Tiang Bungkuk adalah seorang depati di Muara Langkap. Muara Langkap berada di Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Daerah Kerinci dan Muara Langkap, secara historis kerap mengaku memiliki hubungan darah.

Diketahui selanjutnya, Tiang Bungkuk adalah orang yang menjamin Urang Minangkabau untuk mencari emas di wilayah Kerinci Rendah. Yakni semasa Datuk Katamanggungan merantau ke Jambi dan Kerinci, untuk melakukan penetrasi kebudayaan, adat dan undang-undang, dan memulai pencarian emas.

Maka, wajar, jika Tiang Bungkuk dianggap sebagai ancaman. Sebab, tanpa bantuan Tiang Bungkuk, pencarian emas di wilayah Kerinci Rendah tidak dapat dilakukan.

Secara folklore Serawai, Puti Bungsu dinikahi oleh Dang Tuanku. Dari pernikahan itu, melahirkan keturunan-keturunan, yakni; marga Tubey, Bermani dan Jurukalang.

Namun, jika mengutip folklore dari Kuantan Singingi, maka Sungai Ngiang yang dimaksud adalah Sungai Singingi di Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.

Fragmen demi fragmen terbangun, yang jika merujuk pada karya sastra klasik, adalah seperti pada Drama Tragedi dari Shaskespeare. Klimaksnya, terjadi peperangan antar Cindur Mato, dengan Imbang Jayo dan Tiang Bungkuk. Dan Imbang Jayo kalah oleh Cindur Mato.

Ilustrasi “Silek Tuo” Mingakabau. (credits: Festival5Danau/amira.co.id)

Setelah kematian Imbang Jayo, maka Cindur Mato harus berhadapan dengan Tiang Bungkuk.

Bahwa, antagonist disusun sebagai “musuh dari matrilineal” mungkin bukan tanpa maksud. Sebab, Pagarruyung adalah kerap dinyatakan sebagai satu-satunya Kerajaan Matrilineal di Sumatra, pada saat kisah itu terjadi, sedang mulai melakukan ekspansi ke luar wilayah Minangkabau.

Meskipun, tokoh Cindur Mato adalah laki-laki, dan bukan female. Yang memberi pesan, bahwa, di Kerajaan Matrilineal sekali pun, peran laki-laki adalah di front line.

Sebagai pembuat cerita, tentu saja, harus memiliki tokoh yang harus menang dalam cerita yang dibuatnya. That’s the point.

Bumbu penyedap cerita pun ditambahkan. Untuk menjadi pemenang, tentu harus pernah menempuh kekalahan, jatuh – bangun, agar semakin kuat dan terakhir: menjadi pemenang.

Cindur Mato kalah berduel dengan Tiang Bungkuk, dan Cindur Mato menjadi budak dari Tiang Bungkuk.

Pagaruyuang dibakar habis rata dengan tanah, Dang Tuangku dan Bundo Kanduang lari dari Pagaruyuang. Di sinilah peran Lunang. Bundo Kandung kembali ke Lunang, sebagai wilayah cikal bakal Pagarruyung.

Lalu di Lunang, Bundo Kandung kembali mendirikan istana, yang disebut de­ngan: Rumah Gadang. Nama Bundo Kandung pun berganti dengan: Mande Rubiah. Hingga hari ini, gelar Mande Rubiah masih digunakan di Lunang, dan kini, adalah Mande Rubiah ke-7.

Jika mengacu kepada keadatan Minangkabu, maka Datuk Katumanggungan telah meciptakan sebuah sistem adat yang bertumpu pada aristokrasi. Dimana setiap pengambilan keputusan adalah berdasarkan pada arahan pemimpin. Sistem itu bernama: Lareh Koto Piliang.

Sistem adat Lareh Koto Piliang berlaku terutama di Luhak Tanah Datar, Luhak Limapuluh, dan Pesisir Selatan.

Maka, Cindur Mato bersiasat. Cindur Mato harus mengetahui kelemahan Tiang Bungkuk. Caranya, dengan bertanya kepada air sirih penanya. Yakni sejenis ilmu tafsir atau ramalan, dengan cara melihat apa yang akan terjadi melalui media air dari daun sirih.

Tetapi, sangat rahasia untuk menjelaskan “apa” yang dapat melukai dan membunuh Tiang Bungkuk. Intinya, catastrophe terjadi di akhir cerita, dan Tiang Bungkuk tewas.

Mission Complete, dan Cindur Mato kembali ke Pagarruyung.

Lalu, Cindur Mato diangkat menjadi raja selanjutnya untuk menggantikan Dang Tuanku. Jika merunut folklore Lunang, maka Cindur Mato kembali ke Pagarruyung tempat dimana Mande Rabiah mendirikan Rumah Gadang, yakni di Lunang.

Sehingga, Cindur Mato, seharusnya adalah Anggawarman, jika Dang Tuangku adalah Maharajadiraja Adityawarman, yang adalah anak dari Bundo Kandung. Dan, tentunya kisah ini tidak dapat direkonstruksi dengan sejarah umum, yang kita kenal.

Begitulah. Folklore Cindur Mato memilki begitu banyak versi, terkait daerah-daerah pengusungnya.

Terlepas dari perdebatan benar atau salah, folklore atau legenda atau mitologi adalah berdiri sendiri.

Folklore atau legenda atau mitologi memiliki versi kebenarannya sendiri, dan tidak seharusnya dipaksa untuk dipersandingkan dengan kebenaran yang lain, seperti kebenaran ilmiah, misalnya.

Sebab, folklore atau legenda atau mitologi bukanlah sejarah itu sendiri. Melainkan, memiliki inti, yakni; pesan yang diteruskan secara turun temurun.*

Share:
avatar

Redaksi