Hujan Tidak Menghapus Dosa Pelaku Karhutla
Lingkungan & Krisis Iklim
September 25, 2026
Jon Afrizal/Kota Jambi

Ilustrasi hujan turun. (credits: Pinterest)
“Hujan yang terjadi hari ini di Kota Jambi bukanlah hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).” – Jaya Martua Sinaga, Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun BMKG Jambi
HUJAN dengan intensitas sedang hingga deras, turun di Kota Jambi pada Kamis (24/9). Hujan turun selama hampir satu jam, sekitar pukul 10.00 WIB hingga 11 WIB.
Meskipun, hujan yang turun tidak serta merta menghapus dosa-dosa para perusak lingkungan. Yang telah dengan sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga menimbulkan kabut asap yang menyesakan nafas banyak orang.
Sejauh ini, berdasarkan pengalaman di tahun-tahun karhutla sebelumnya, sejak tahun 1991, memang, hanya hujan yang turun dari langit yang mampu menghilangkan kabut asap. Dan, realita ini tidak terbantahkan oleh berbagai macam teori, yang pelaksanaannya akan memakan banyak biaya.
“Hujan yang terjadi hari ini di Kota Jambi bukanlah hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” kata Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jambi, Jaya Martua Sinaga, Kamis (26/9), mengutip Detik.
Menurutnya, hujan yang terjadi di Jambi ini merupakan hujan alami. Sebagai bagian dari dinamika atmosfer yang memang berpotensi menghasilkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Jambi.
Dan, katanya, guyuran hujan yang terjadi di daerah Jambi sejak beberapa hari terakhir, adalah karena memang ada proses pertumbuhan awan hujan di wilayah Jambi. Dimana, pertumbuhan awan hujan itu membuat daerah Jambi menghasilkan hujan.
Meskipun, katanya, hujan yang turun bersifat lokal. Sehingga tidak semua wilayah merasakannya.
Untuk itu, karhutla masih menjadi ancaman nyata. Walaupun, aktifitas bakar membakar lahan telah “diganggu” oleh hujan.
Dan, hujan yang turun hari ini, juga belum mampu menghilangkan kabut asap. Seperti pengalaman di Musim Karhutla sebelumnya, dibutuhkan berkali-kali hujan, dengan intensitas sedang hingga deras, agar kabut asap hilang.

Hotspot di wilayah Sumatra Tengah per tanggal 24 September 2026. (credits: GWIS)
Pantauan AQ Air per tanggal 24 September 2026 pukul 15.10 WIB, kualitas udara Kota Jambi masih berada di titik “Tidak Sehat Bagi Kelompok Sensitif” dengan angka 124 PM2.5. Konsentrasi polutan PM2.5 di Kota Jambi saat ini, adalah sembilan kali lebih tinggi dari nilai panduan PM2.5 tahunan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).
Sementara Sengeti di Kabupaten Muarojambi, masih bertahan di angka 134 PM2.5 dengan kategori “Tidak Sehat Bagi Kelompok Sensitif”. Konsentrasi polutan PM2.5 di di Sengeti, adalah 10 kali lebih tinggi dari nilai panduan PM2.5 tahunan yang ditetapkan oleh WHO.
Pantauan Global Wildfire Information System (GWIS) per tanggal 24 September 2026 pukul 15.10 WIB, masih nyata terlihat jumlah titik api (hotspot) di wilayah Sumatra Tengah.
Terlepas dari saling tuding terkait dari mana asal kabut asap, toh, senyatanya, wilayah Sumatra Tengah masih merah menyala.
Sementara itu, mengutip siaran pers BMKG pada tanggal 22 September 2026, awal musim hujan periode 2026 – 2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprakirakan akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Sebab, fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat, dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Sementara di Sumatra, sebagai wilayah Karhutla, puncak musim hujan diprakirakan akan terjadi pada Januari 2027. Seperti; Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara.
Maka, menjelang Januari 2027, aksi bakar membakar berkemungkinan akan berlanjut. Dan, kabut asap masih akan memasuki indera pernafasan.*
