Karhutla; Riau Juara 1, Jambi Juara 4

Lingkungan & Krisis Iklim

September 19, 2026

Mahendra Wisnu/Kota Jambi

Ilustrasi lahan terbakar di Provinsi Jambi. (credits: Manggala Agni)

“Upaya pengendalian terus dilakukan di enam provinsi prioritas, melalui pemadaman darat, patroli, pemantauan titik panas, dan operasi udara.” Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

EVENT tahunan, Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang terjadi setiap musim kemarau, telah menghantarkan Provinsi Riau sebagai pemenang nomor urut 1, di tahun 2026. Sementara Provinsi Jambi, berada pada nomor urut 4.

Sungguh, karhutla adalah prestasi yang sangat tidak membangggakan. Dan tradisi tahunan yang tidak layak untuk diteruskan.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait perkembangan penanganan karhutla di enam provinsi prioritas, menyebutkan bahwa wilayah terluas yang terbakar tercatat berada di Provinsi Riau.

“Luas lahan terbakar di Provinsi Riau sejak tanggal 1 Januari hingga 16 September 2026 tercatat sekitar 20.015,35 hektare. Dan, dengan tambahan sekitar 19,3 hektare pada periode pemantauan,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, mengutip BNPB.

Posisi ke-2, Provinsi Sumatra Selatan. Dengan luasan Karhutla sekitar 6.552,31 hektare.

Dan masih ditemukan 24 fire spot dengan estimasi luas terbakar sekitar 531,31 hektare. Sekitar 244,06 hektare telah berhasil dipadamkan. Sementara sekitar 287,25 hektare masih membutuhkan penanganan lanjutan.

Bersaing ketat, pada posisi ke-3 adalah Provinsi Kalimantan Tengah. Dengan luas indikatif lahan terbakar diperkirakan sekitar 16.010,1 hektare.

“Terdata 6.435 titik panas yang terdiri atas 182 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, 6.217 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 36 titik dengan tingkat kepercayaan rendah,” katanya.

Peringkat ke-4, Provinsi Jambi. Dimana, karhutla telah terjadi di sembilan kabupaten dan dua kota. Dengan luasan lahan terbakar sekitar 3.048,68 hektare.

Kondisi Karhutla di sebagian wilayah Indonesia, Jum’at (18/9). (credits: GWIS)

Jarak pandang pada pagi hari turun hingga kurang dari 1 kilometer. Sedangkan kualitas udara berada pada kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat.

Penerbangan belum sepenuhnya normal. Sejumlah penerbangan hingga kini masih mengalami penundaan.

Akibat kulitas udara yang fluktuatif dan cenderung semakin memburuk, anak-anak sekolah masih melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Untuk penanganan di Provinsi Jambi, diperkuat 5.984 personel satgas darat. Sementara itu, dukungan udara terdiri atas dua unit patroli dan empat unit water bombing,” katanya.

Posisi ke-5, Provinsi Kalimantan Selatan. Penanganan karhutla dilakukan dengan dukungan patroli udara dan operasi water bombing. Terhitung hingga 15 September 2026, sebanyak 43 kali operasi water bombing telah dilakukan dengan total air yang dijatuhkan sekitar 172 ribu liter,” tuturnya.

Juara terakhir di posisi ke-6, Provinsi Kalimantan Barat. Dengan luasan karhutla mencapai 122,9 hektare. Total 65,6 hektare telah berhasil dipadamkan.

Adapun total luas areal terbakar yang masuk dalam proses hukum kepolisian mencapai 4.738,49 hektare. Luasan area terbakar terbesar yang diproses hukum berada di Provinisi Riau (2.112,25 hektare), disusul oleh Provinisi Kalimantan Barat (1.692,9 hektare).

Selanjutnya, Provinsi Lampung (637,4 hektare), Kalimantan Tengah (123,7 hektare), Kalimantan Timur (87,79 hektare), Sumatera Selatan (40,25 hektare), Aceh (27,82 hektare), Jambi (11,75 hektare), dan Kalimantan Selatan (4,63 hektare).  

Maka, kehancuran inilah yang akan diwariskan untuk generasi penerus.*

Share:
avatar

Redaksi