Suatu Siang Di “Minanga Tamwan”
Budaya & Seni
June 16, 2026
Jon Afrizal/Kampar, Provinsi Riau

Candi Muara Takus, diphoto dari naungan pohon Bodhi. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
“Aku adalah pohon Peepal di antara pepohonan, Naradadi antara orang-orang bijak, Chitraaratha di antara para Bidadara, dan Kapila bijak di antara para Siddha.” [Krishna dalam “Bhagavad Gita”]
TEPAT pukul 13.00 WIB, ketika sinar matahari sudah sedikit bergeser dari ubun-ubun kepala. Aku baru saja tiba.
Dan dengan segala kerendahaan hati, aku bersegera duduk di bawah pohon Bodhi (Ara Suci/Ficus religiosa) yang rimbun berusia sekitar 30 tahun, untuk berlindung dari sengatan sinar matahari di bulan kemarau, di Candi Muara Takus, diDesa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Pohon Ficus religiosa adalah pohon yang suci bagi pengikut agama Hindu, Jain, dan Buddha. Mengutip laman Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar, Buddha Gautama mencapai bodhi (: pencerahan) ketika bermeditasi di bawah pohon Ficus religiosa.
Tempat tumbuhnya pohon ficus Buddha Gautama itu berada di Bodh Gaya. Bodh Gaya saat ini adalah di Bihar, India.
Namun, pohon yang asli telah rusak. Meskipun, sebuah cabang dari pohon asli pun telah ditumbuhkan kembali di Anuradhapura, Sri Lanka pada tahun 288 SM. Pohon itu dikenal dengan sebutan Jaya Sri Maha Bodhi. Ini adalah angiospermae (tumbuhan berbunga) tertua di dunia.
Ara Suci berasal dari subbenua India, barat daya Tiongkok dan Indochina. Spesies ini termasuk dalam Moraceae, keluarga ara dan mulberi. Spesies ini juga dikenal dengan nama; pohon bodhi, pohon pippala, pohon peepal atau pohon ashwattha.

Stupa Mahligai. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Tidak ada keterangan tentang Pohon Bodhi di Candi Muara Takus ini. Apakah pohon itu memang pernah berada di candi ini, atau mungkin, sengaja ditanam di sana. Dan, berdasarkan perkiraaanku, sepertinya, usianya sekitar 30 tahun.
Sebab, dari beberapa photo lama berusia lebih dari 30 tahun, tentang candi ini, tidak ditemui adanya Pohon Bodhi, seperti yang ada pada saat ini.
Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok batu putih berukuran 74 meter x 74 meter, dengan tinggi tembok sekitar 80 centimeter. Di bagian luar, juga terdapat tembok tanah berukuran 1,5 meter x 1,5 kilometer. Tembok tanah mengelilingi kompleks ini hingga ke tepi Sungai Kampar Kanan.
Memang, sekitar 500 meter dari candi terdapat aliran Sungai Kampar Kanan. Sehingga, candi berada di sebuah belokan aliran sungai, yang mirip dengan huruf U yang melebar.
Jika mengikuti pola Budaya Sungai yang berkembang di Sumatra di era lampau, maka, posisi Candi Muara Takus, adalah sama dengan Kompleks Percandian Muara Jambi, di Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi. Keduanya sama-sama berada di pinggir sungai. Kompleks Percandian Muara Jambi berada di pinggir Sungai Batanghari.
Bagian hulu Sungai Kampar adalah di Bukit Barisan, dan selanjutnya, menghilir ke pesisir timur Sumatra, dengan panjang sekitar 800 kilometer. Yang dimaksud dengan Sungai Kampar, adalah, bertemunya dua aliran sungai yang sama besarnya, yakni; Sungai Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan.
Aku masih mengikuti teori R Soekmono, yang meyakini bahwa pertemuan kedua sungai itu adalah di wilayah huruf U seperti yang ku sebutkan diatas. Yang pada Prasasti Kedukan Bukit, wilayah ini disebut dengan Minanga Tamwan.
Sejauh ini, teori ini masih akurat. Tetapi, jika ada teori yang lebih tepat tentang Minanga Tamwan, tentu saja teori R Sukmono dapat diperbaharui.
Tertulis pada Prasasti Kedukan Bukit;
“Pada hari ke tujuh paro-terang
bulan Jyestha Dapunta Hyang berangkat dari Minanga (Muara)
tamwan membawa bala 20.000 dengan lengkap perbekalan
dua ratus cara/peti di sampan dengan berjalan kaki seribu
tiga ratus dua belas banyaknya datang ke sungai upang (Mukha Upang).”

Pelabuhan di Minanga Tamwan. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Jika menuju ke arah timur, maka hilir Sungai Kampar adalah di Pulau Mendoi, yang jika terus ke Selatan, akan sampai ke Parit Baung, dan masuk ke Sungai Batanghari. Dari Parit Baung menuju terus ke Selatan, akan sampai di Sungsang, dan masuk ke Sungai Musi.
Demikian pemaparan sederhana tentang transportasi dari Minanga Tamwan ke Kompleks Percandian Muaro Jambi hingga ke tempat Prasasti Kedukan Bukit berada. Meskipun, tetap butuh penelitian lanjutan.
Jika mengikuti Budaya Sungai, dan jika mengikuti alur berlayar di laut tenang, maka pelayar akan lebih memilih pantai timur Sumatera dan juga alur sempit Selat Malaka, ketimbang pantai barat Sumatera dengan ombak yang ganas.
Pun, jika menstranslasi naskah-naskhan kuno Cina tentang kedatangan pelaut Cina ke Sumatra, maka, laut yang dilayari umumnya adalah Laut China Selatan dan pantai timur Sumatra, dan bukan melalui pantai barat Sumatra.
Ketika pasang naik, maka air laut akan masuk ke aliran sungai, begitu pula sebaliknya, ketika pasang surut. Jika menggunakan pola berlayar dengan dayung dan layar, dan bukan dengan mesin modern, maka saat pasang naik dan pasang surut, dapat digunakan secara tepat sebagai transportasi laut dan sungai. Demikian penjelasan sederhananya.
Besar kemungkinan, yang dimaksud R Soekmono itu adalah sejenis pelabuhan di titik huruf U yang ku sebutkan tadi, yang adalah port bagi Minanga Tamwan.
Jika pun terkait dengan tempat temuan prasasti, dapat dianalogikan sebagai berikut; dimana utusan atau pejabat suatu kerajaan yang berkunjung ke suatu tempat di wilayahnya, dan membuat sejenis monumen. Toh, hingga saat ini, kondisi ini masih ditemui.
Peresmian jembatan-jembatan pada saat ini, sebagai contohnya. Pada peresmian itu dibuatkan sejenis monumen yang mirip dengan prasasti, yang digrafir di atas batu, yang ditandatangai oleh presiden atau setingkat menteri.
Sehingga, tempat temuan sebuah prasasti, belumlah tentu tepat sebagai pusat dari pemerintahan suatu kerajaan, katakanlah, Sriwijaya, misalnya. Meskipun, tempat itu masuk ke dalam wilayah kerajaan.
Semisal; Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Prasasti Telaga Batu di Palembang,Prasasti Talang Tuwo di Palembang, Prasasti Karang Birahi di Jambi, dan, Prasasti Kota Kapur di Bangka.
Toh, jika pun bicara tentang pusat Kerajaan Sriwijaya, terus terang, bukti bangunan fisik tentang istana Sriwijaya belum dapat dengan akurat dijelaskan tempatnya dan bentuknya. Alasan yang sangat klasik, adalah: hancur diserang oleh Kerajaan Cola. Sementara, bukti-bukti berupa pecahan keramik dan koin mata uang, sebenarnya lebih tepat adalah bercerita tentang hubungan perdagangan saja.
Padahal, jika kita mau merendahkan ego sedikit saja, bahwa Sriwijaya terhubungan erat dengan masa keemasan penyebaran ajaran Buddha di Sumatra, maka, maka bukti fisik berupa bangunan suci ajaran Budhha adalah: Kompleks Percandian Muaro Jambi dan Candi Muaro Takus. Namun, sangat disayangkan, mitologi dan folklore sering “kalah saing” dengan fakta dan data.
Meskipun, seperti banyak sejarawan bicara, bahwa penelitian tentang Sriwijaya belumlah tuntas. Sehingga, seperti kata R Soekmono, tidak perlu memaksakan dan mengklaim bahwa Sriwijaya harus beribukota di Palembang.
Sejauh ini, banyak peneliti belum akur dalam menentukan masa dibangunnya Candi Muara Takus. Dengan perkiraan, antar abad ke-4 M hingga ke-11 M.
Dan, lagi-lagi, selalu dihubungkan dengan kejayaan Sriwijaya. Yang, istilah Sriwijaya, dipublikasikan pertama kali oleh sejarawan Prancis, George Coedes pada tahun 1920.
Sehingga, apapun temuan di Sumatra, sepertinya akan difokuskan menjadi hanya melulu Sriwijaya saja. Padahal, mungkin saja lebih besar dari itu semua.
Dan, arkeolog Jerman FM Schnitger dalam dua buku berjudul “The Archaeology of Hindoo Sumatra” (1937) dan“Forgotten Kingdoms in Sumatra” (1939) telah pula menjelaskannya dengan kata “Forgotten” dan “Hindoo” untuk temuan di tepi sungai-sungai besar di Sumatra.

Candi Sulung dan Candi Bungsu. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Hanya saja, kebetulan, sewaktu itu, Schnitger bertugas sebagai kurator di Museum Keresidenan Palembang. Sehingga, dengan temuannya di tepi banyak sungai besar di Pulau Sumatra, adalah tidak mungkin untuk menciutkannya menjadi hanya satu museum saja.
Maka, sebagai penulis, aku menghilangkan kecendrunganku terhadap lokalitas, dan bertumpu pada fakta dan data. Meskipun, mitologi adalah sisi lainnya.
Pun jika tetap memaksakan tentang nama wilayah, maka, masih di Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, ini juga dapat ditemui desa bernama “Binamang”. Secara bahasa, “Binamang” tentunya mirip dengan “Minanga”. Untuk menguatkannya, di kecamatan yang sama juga terdapat desa bernama “Batu Bersurat”. Dalam kasanah Melayu lama, Batu Bersurat adalah kata lain untuk: prasasti.
Pada kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi. Yakni; Candi Sulung, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.
Mungkin, masih banyak bangunan lain yang belum dipugar.
Tepat di tengah lapang, yang tidak jauh dari pohon Bodhi dan candi, didapati gundukan tanah. Beberapa literatur menyebutkan bahwa gundukan ini adalah tempat dilaksanakannya upacara kremasi jenazah.
Upacara kremasi jenazah umum dilakukan bagi penganut Hindu, Buddha, dan Konghucu. Yakni sebagai jalan untuk melepaskan roh dari duniawi (: moksha).
Sama seperti banyak bangunan candi di Pulau Sumatra, umumnya menggunakan batu bata. Sebab, tidak seperti di Pulau Jawa, batu sungai yang tepat untuk candi dan aksesoris candi sulit untuk ditemui, terkecuali di wilayah-wilayah hulu Bukit Barisan.
Bangunan candi dengan menggunakan batu bata adalah hal lazim. Sama seperti banyak pure di Bali, yang juga menggunakan batu bata.
Satu tehnik arsitektur, yang hingga kini masih digunakan di Jawa Timur dan Bali, adalah, tehnik gosok. Dimana satu batu bata yang terbuat dari tanah liat yang masih basah akan digosokan ke batu bata yang lain, hingga merekat satu sama lainnya. Proses ini terus dilakukan hingga menjadi satu bangunan.

Daun Pohon Bodhi di Candi Muara Takus. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Jika masih banyak yang berpikir soal “putih telur” untuk merekatkan batu bata, maka entah seberapa banyak ayam betina yang harus kerja paksa bertelur hingga bangunan candi selesai. Dan, tidak ku dapat catatan yang dapat memberikan kesimpulan bahwa sejak dari dahulu kala, Sumatra adalah wilayah pemasok telur ayam.
Adapun tanah liat untuk membuat batu bata Candi Muara Takus, berasal dari wilayah Pongkai. Dalam Bahasa Tionghoa, kata “Pong” berarti lubang, dan “Kai” berarti tanah. Wilayah ini, berada sekitar 6 kilometer ke hilir situs Candi Muara Takus. Tempat itu kini tidak dapat ditemui lagi, karena telah menjadi bagian dari Bendungan PLTA Koto Panjang.
Namun, satu yang menjadi ciri khas Candi Muara Takus, adalah, stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa. Pola sejenis ini adalah stupa periode Raja Asoka. Stupa yang sama ditemukan di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India. Pola stupa jenis ini, tidak ditemukan di candi-candi lainnya di Indonesia.
Asoka Yang Agung adalah penguasa Kekaisaran Maurya Gupta dari tahun 269 SM hingga tahun 232 SM, yang giat melakukan penyebaran ajaran Buddha. Pun, setelah Asoka wafat, penerusnya juga menyebarkan ajaran Buddha.
Jika dikaitkan dengan masa-masa emas penyebaran ajaran Buddha, maka, inilah yang tercatatkan pada kronik Sinhala, seperti Dipavamsa dan Mahavamsa di abad ke-4 M hingga ke-5 M.
Sehingga, besar kemungkinan, Candi Muara Takus terhubung dengan era itu, dan mungkin saja bangunan suci ini telah dirancang di abad ke-4 M atau ke-5 M. Namun, masih terbuka penelitian untuk itu semua.
Stupa adalah ciri khas bangunan suci ajaran Buddha.
Stupa adalah arsitektur yang berasal dari seni India awal. Dengan bentuk yang mirip dengan anak-anakan bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.
Jika mengutip Jon Afrizal dalam buku “Debalang Rimbo; Mitologi Orang Barin Sembilan” bahwa konsep Gunung Meru masih dapat ditemui di kelompok-kelompok indegenous people, terutama di wilayah tengah Sumatra. Meskipun tidak murni merujuk ke Gunung Mahameru, tetapi, konsep bahwa Gunung Meru adalah sebagai suatu tempat yang suci, tempat leluhur mereka berasal.*
