Kembali Ke Ujungbatu
Lifestyle
August 13, 2026
Jon Afrizal/Pasir Pangarayan, Rokan Hulu

Satu sudut Kecamatan Ujungbatu Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Pasukan PRRI yang bergerilya di hutan-hutan Bukit Barisan, bergerak dari sekitar Bonjol dan Lubuk Sikaping hingga ke Ujungbatu. Pun begitu pula sebaliknya.
RANTAU Rokan atau Luhak Rokan Hulu. Adalah nama lama, yang bagi Urang Minangkabau dinyatakan sebagai wilayah rantau timur.
Lebih luas lagi, nama lainnya, adalah; Rantau nan Tigo Jurai, atau Rantau Nan Tigo Kabuang Aie. Yakni wilayah yang berada sekitar Sungai Rokan, Kampar dan Kuantan, di Provinsi Riau, saat ini.
Wilayah ini adalah Melayu. Sebab, sebelum terjadinya perantauan, telah ada masyarakat lokal di wilayah ini.
Namun, dimulai sekitar abad ke-14 M, adat dan bahasa di Kabupaten rokan Hulu telah berbaur, dan lebih mirip dengan adat dan bahasa wilayah Rao dan Pasaman di Provinsi Sumatera Barat.
Setelah berada-abad lamanya, dan berketurunan, penduduk di Rantau Rokan tidak lagi menyebut dirinya sebagai Minang, namun, sebagai: Melayu. Sebuah pernyataan yang jujur, bahwa mereka, para perantau, telah ter-Melayu-sasi.
Sebut saja: Melayu Rokan. Prasa Melayu Rokan, adalah untuk menjelaskan wilayah saja, dan bukan dengan maksud untuk membagi-belah Melayu.
Mengutip data BPS, penduduk Kabupaten Rokan Hulu pada tahun 2025 adalah 601.632 jiwa. Adapun luas Kabupaten Rokan Hulu adalah 7.588,13 kilometer persegi.
Ibukota Kabupaten Rokan Hulu: adalah Pasir Pangaraian. Terdapat folklore yang menjelaskan nama itu.
Di era lampau, Sungai Batang Lubuh atau Sungai Rokan Kanan yang berada di wilayah ini, sering diambil bijih emasnya. Caranya adalah dengan mengayak atau mengerai (mengurai) pasir dan memisahkannya dengan biji emas.

Jembatan Sungai Batang Lubuh, Pasir Pangarayan, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Sama seperti Kaba Cindur Mato, perantauan Urang Mingakabau ke wilayah Kerinci Tinggi dan Kerinci Rendah, di Provinsi Jambi saat ini, juga berhubungan dengan pencarian emas. Dan, itu adalah fakta sejarah, terlepas dari plot Cindur Mato yang mengalahkan Tiang Bungkuk pada cerita itu.
Tehnik mengerai ini, yang kemudian berubah penyebutannya, menjadi pengeraian, dan kemudian menjadi pangairaian. Maka, begitulah setiap wilayah, memiliki sejarahnya.
Pasir Pangaraian adalah ibukota, tempat setiap keputusan politik ditetapkan di Kabupaten Rokan Hulu. Sementara, pusat ekonomi, berada di Ujungbatu.
Ujungbatu adalah sebuah wilayah unik. Wilayah yang dekat ke perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara, dan Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat.
Wilayah Ujungbatu dan Pasir Pangaraian adalah wilayah basis pasukan Perang Padri, dengan komandan Tuanku Tambusai. Nama Tuanku Tambusai, kini melekat sebagai Bandara Tuanku Tambusai, yang berada di Pasir Pangaraian.
Sementara, bentengnya berada di Dalu-Dalu. Saat ini, masih didapati sisa-sia benteng pasukan Padri di sana. Dan, anak keturunan dari Tuanku Tambusai pun, dapat ditemui di Dalu-Dalu.
Tuanku Tambusai adalah Rang Rao. Kenyataannya, adalah tidaklah mungkin memimpin Urang Minang untuk berperang, jika ia buknlah Urang Minang. Ini adalah fakta terkait lokalitas.
Namun, tidak juga dapat dipungkiri, bahwa banyak wilayah di era lampau juga adalah kerajaan-kerajaan. Kerajaan Rambah, sebagi buktinya.
Kerajaan Rambah adalah satu dari lima kerajaan di Luhak Rokan Hulu. Kerajaan berasas Islam ini tercatat hadir di abad ke-16 M.

Makam Raja-Raja Rambah, Pasir Pangarayan, Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Awalnya, ibukota kerajaan, yang di wilayah ini disebut dengan nogori (negeri), berada di tepian Sungai Rokan Kanan. Namun, kemudian berpindah ke Pasir Pangarayan.
Dapat dikatakan, bahwa Kerajaan Rambah adalah belahan dari Kerajaan Tambusai, yang berpusat di Dalu-Dalu. Dimana, Tengku Raja Muda anak dari Yang Dipertuan Tua Raja Tambusai, meminta untuk membuka nogori di wilayah yang telah dirambah (ibuka/enclave) oleh ornag-orang dari Kerajaan Tambusai. Sehingga, disebutkah sebagai Kerajaan Rambah.
Adapun Kerajaan Tambusai, secara sejarah, memiliki keusulan dari nigari Sundata, Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatra Barat. Sehingga, seperti yang dinyatakan di awal, telah menjadi penyebabnya, bahwa Tuanku Tambusai memimpin Urang Minang dalam Perang Padri. Sebagai satu darah, satu keturunan.
Sementara Orang Mandailing Tapanuli Selatan, mendatangi wilayah ini sejak awal tahun 1900-an. Mereka pun membawa konsep huta (desa) ke sini.
Wilayah Rao, Lubuk Sikaping, Bonjol, Rokan Hulu dan Mandailing Tapanuli Selatan juga dikenal sebqaqgai basis Perang Padri.
Jika wilayah Kampar adalah rantau Urang Payakumbuh, maka Rokan adalah rantau Urang Rao. Namun, teramat sulit untuk memahami bahwa, Urang Rao merantau dari nogori soboliak bukik (negeri di sebalik bukit), yakni Bukit Barisan, dengan cara berjalan kaki melintasi dan naik turun bukit.
Dan bukan melalui jalur sungai. Sebab, sungai di masing-masing wilayah, Rao ataupun Rokan, tidak berhubungan.
Sehingga, berdasarkan jejak dari jalan setapak di bukit-bukit itu, hingga kini, cerita tentang pasukan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Tengah di penghujung 1950-an, yang melakukan gerilya di hutan-hutan Bukit Barisan, pun bergerak dari sekitar Bonjol dan Lubuk Sikaping hingga ke Ujungbatu.
Pun begitu pula sebaliknya. Masa itu, kerap diingat sebagai Maso Bagulak (Masa Bergejolak).
Jika kini, banyak ahli segala ahli bicara soal otonomi daerah, maka, Ujungbatu telah menjadi saksinya di era Maso Bagulak.*
