Reportase Abadi; Lima Jurnalis Masih Berstatus Hilang

Hak Asasi Manusia

September 20, 2026

Zachary Jonah

Ilustrasi tabur bunga. (credits: Shutterstock)

“Jika muncul informasi atau tanda baru mengenai keberadaan Arupadatu I dan delapan orang di dalamnya, operasi SAR dapat dibuka kembali.” Al Amrad, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten

KAMIS (17/9) adalah hari ke-10, dan juga hari terakhir masa perpanjangan operasi SAR pencarian lima jurnalis di Selat Sunda. Tim SAR gabungan memaksimalkan pencarian dengan mengerahkan 24 unit kapal, dengan Sebanyak 523 personel yang terlibat.

Pun, area pencarian diperluas hingga sekitar 8.509 mil laut persegi dan dibagi menjadi 10 sektor. Yang mencakup perairan Selat Sunda, pesisir barat Banten, wilayah barat Sumatra hingga sekitar Pulau Enggano. Demikian mengutip Antara.

Namun, hingga hari ke-10, tidak ada laporan mengenai penemuan kapal, penumpang maupun awak speedboat Arupadatu I. Tim SAR gabungan pun telah menggali informasi dan menindaklanjuti laporan masyarakat. Tetapi, tetap tidak menghasilkan petunjuk terkait keberadaan rombongan.

Selama 10 hari operasi pencarian, tim mencatat sebanyak 13 objek/material yang ditemukan di area pencarian. Seperti; pelampung, terpal, helm dan galon.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, seluruh temuan tersebut tidak terhubung dengan Arupadatu I.

Setelah 10 hari pencarian, maka tim SAR gabungan resmi dihentikan, Kamis (17/9). Demikian disampaikan Gubernur Banten Andra Soni, di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Pandeglang, Kamis (17/9).

Ilustrasi kelima jurnalis yang hilang. (credits: Ist)

“Penghentian dilakukan karena operasi dinilai sudah tidak efektif setelah melalui masa pencarian awal dan perpanjangan tiga hari,” Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.

Meskipun demikian, pemantauan tetap dilakukan. Basarnas, katanya, akan berkoordinasi dengan Vessel Traffic Service (VTS), TNI AL, Polairud dan kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda.

“Jika muncul informasi atau tanda baru mengenai keberadaan Arupadatu I dan delapan orang di dalamnya, operasi SAR dapat dibuka kembali,” katanya.

Kelima Jurnalis adalah; M. Bagus Khoirunnas (pewarta foto LKBN Antara), Ari Basuki (jurnalis portal berita Merdeka), Yudistiro Pranoto (jurnalis iNews), Firdaus Wajidi (jurnalis Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis freelance).

Sedangkan tiga lainnya, awak kapak Arupadatu 1 bernama Warta (55) dan Surakman (60), dan guide bernama Heriyanto (49).

Atas persoalan penghentian ini, lima jurnalis dan tiga awak kapal masih berstatus hilang. Tidak ada satu pun dari delapan orang itu yang ditemukan selama rangkaian pencarian, sejak tanggal 8 hingga 17 September 2026.

Pada Jumat (18/9), mengutip Tribun News, keluarga korban menggelar prosesi tabur bunga di perairan Selat Sunda, dengan menggunakan Kapal Negara SAR (KNSAR) Tetuka yang bertolak dari Pelabuhan Pelindo 3, Ciwandan.

Prosesi tabur bunga ini adalah sebagai bentuk penghormatan terakhir sekaligus doa bagi para korban yang belum ditemukan. Selain itu, kelaurga korban juga menaburkan bunga di Pantai Pagedongan, Carita, yang adalah lokasi keberangkatan awal rombongan sebelum insiden terjadi.

Hilangnya kelima jurnalis, dan juga tiga awak kapal, adalah resiko profesi yang diemban. Terlepas dari berbagai kemungkinan yang ada di dalam pikiran setiap orang.

Dan, sebagai kegiatan meliput berita, yang abadi. Meskipun, mereka hingga kini belum kembali.*

Share:
avatar

Redaksi