Pencarian Lima Jurnalis Yang Hilang
Hak Asasi Manusia
September 12, 2026
Jon Afrizal

Ilustrasi pencarian Basarnas. (credits: Basarnas)
Pada photo yang dikirimkan Heriyanto ke group Whatsapp, terlihat Gunung Anak Krakatau yang mengepulkan asap. Dan, Gunung Anak Krakatau tampak jelas, tanpa penghalang, dan tanpa ada pulau lain yang menghalanginya.
KAPAL cepat Arupadhatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Provinsi Banten pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Dua awak kapal Arupadhatu 1 dan satu tour guide mengantar lima jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi.
Satu dari lima jurnalis sempat mengirimkan posisi terkini kepada rekan jurnalis di Lampung. Abay, namanya.
Sekitar satu jam setelah itu, komunikasi dengan kapal dan penumpangnya terputus, pada pukul 15.04 WIB. Titik koordinat komunikasi terakhir berada di 6°14’40.52″S 105°40’49.48″E, atau sekitar 9,98 mil laut dari daratan, di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.
Sesuai dengan kondisi laut, kekuatan sinyal telephone selular di Selat Sunda sangat bervariasi. Dengan kondisi kuat, tidak stabil, bahkan hingga blank spot (hilang sinyal total).
Kelima jurnalis yang dilaporkan hilang, adalah; M. Bagus Khoirunnas (pewarta foto LKBN Antara), Ari Basuki (jurnalis portal berita Merdeka), Yudistiro Pranoto (jurnalis iNews), Firdaus Wajidi (jurnalis Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis freelance).
Sedangkan tiga lainnya, awak kapak Arupadhatu 1 bernama Warta (55) dan Surakman (60), dan tour guide bernama Heriyanto (49).
Dari photo terakhir yang dikirimkan oleh satu dari lima jurnalis, terlihat bahwa mereka hanya menggunakan masker N3 seperti yang digunakan di hari-hari biasa untuk mengatasi polutan kota. Dan bukan masker N95, seperti anjuran medis, yang dapat menahan masuknya debu vulkanik ke indera pernafasan.
Pun, dari photo awal yang tersebar itu, tidak terlihat kelimanya mengggunakan jacket/rompi pelampung. Setidaknya, dari poto yang lain, Ari Basuki (jurnalis portal berita Merdeka) terlihat mengenakan jacket/rompi pelampung, ketika berada di Selat Sunda.
Jarak tempuh dari Pantai Carita ke Kawasan Gunung Anak Krakatau adalah sekitar 42 kilometer. Jika kondisi normal, maka waktu tempuh adalah 2 jam perjalanan via angkutan laut.
Sehingga, jika menggunakan penghitungan normal, maka Arupadhatu 1 akan tiba sekitar pukul 16.00 WIB.
Setelah itu, radius 3 kilometer ke depannya adalah “Zona Bahaya Gunung” yang ditetapkan pihak otoritas. Sebab telah sangat dekat dengan kawah aktif.
Jika melihat titik koordinat komunikasi terakhir di sekitar 9,98 mil laut (18,4 kilometer), maka diasumsikan Arupadhatu 1 baru seperempat perjalanan.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa kondisi cuaca di perairan Selat Sunda pada hari Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, dalam keadaan baik dan didominasi oleh kondisi cerah hingga cerah berawan, dan tidak terindikasi ada hujan.
Begitu pula dengan kecepatan angin maksimal sekitar 15 knot atau 7,5 meter per second. Sedangkan ketinggian gelombang maksimal 1 meter.
“Dari cuaca maupun kondisi gelombang itu tidak menunjukkan adanya sesuatu yang signifikan, sehingga mengganggu keselamatan di sekitar Krakatau,” kata Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani, mengutip Kompas.

Ilustrasi dari photo terakhir dari Ari Basuki (jurnalis portal berita Merdeka) di Selat Sunda. (credits: Farida Indriastuti)
Mengutip Kumparan, Evie, istri dari guide bernama Heriyanto, mengatakan bahwa Heriyanto sempat mengirimkan sebuah photo Gunung Anak Krakatau melalui pesan WhatsApp pada Senin (7/9) sekitar pukul 18.13 WIB. Photo itu menjadi photo yang terakhir dikirim oleh suaminya kepadanya.
Namun saat dirinya membalas pesan tersebut sambil menanyakan kabar kepulangan suaminya, pesannya ceklis satu (tidak terkirim).
Pun, mengutip Detik, Yandi, rekan sesama tour guide Heriyanto, mengatakan bahwa Heriyanto sempat mengirim photo di grup Whatsapp pada Senin (7/9), pukul 18.13 WIB. Pada saat itu, Heriyanto memberi kabar bahwa mereka sudah berada di dekat Gunung Anak Krakatau.
Pada photo itu, terlihat Gunung Anak Krakatau yang mengepulkan asap ke udara. Dan, Gunung Anak Krakatau tampak jelas, tanpa penghalang, dan tanpa ada pulau lain yang menghalanginya.
Yandi dan para pegiat wisata Krakatau, dengan pemahaman dan pengalaman mereka tentang wilayah, mengatakan berkemungkinan besar photo yang dikirm Heriyanto itu dishot di area antara Pulau Sertung dengan Gunung Anak Krakatau. Jarak antara Pulau Sertung dengan Gunung Anak Krakatau adalah sekitar 3 kilometer atau bahkan di bawah 3 kilometer.
Jika photo itu dishot dengan menggunakan kamera handphone milik Heriyanto, maka, dengan ketebatasan teknologi pada kamera handphone jika dibandingkan dengan digital single-lens reflex camera (DLSR) sebagai kamera yang biasa digunakan jurnalis, dapat disimpulkan bahwa kapal telah berjarak sangat dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
Lantas, apakah kapal sewaktu itu memang telah berada dalam “Zona Bahaya Gunung” radius 3 kilometer?
Sejak terjadi hilang kontak dengan Arupadhatu 1, Tim SAR langsung melakukan pencarian.
Tim SAR melanjutkan proses pencarian pada hari Selasa (8/9) kemarin. Namun operasi pencarian belum menemukan tanda-tanda keberadaan KM Arupadhatu 1.
“Kami telah mengerahkan lima tim, menggunakan KN SAR Tetuka, KAL Anyer, RIB 01 Kantor SAR Lampung, RIB 02 Banten dan KP Sanjaya milik Polairud Mabes Polri,” kata Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengutip Kumparan.
Menurutnya, area pencarian pun telah diperluas sekitar 236 nautical mile atau sekitar 505 kilometer di hari kedua ini.

Photo Gunung Anak Krakatau yang dikirim Heriyanto ke istrinya dan ke group Whatsapp tour guide. (credits: Ist)
Ia mengatakan pencarian juga diperluas ke sejumlah pulau kecil. Termasuk Pulau Krakatau Besar dan Pulau Panjang untuk mengantisipasi kemungkinan kapal melakukan sandar darurat.
Terkait adanya informasi bahwa berkemungkinan rombongan berada di sekitar Pulau Sebesi, Provinis Lampung, juga sedang diperiksa. Kantor SAR Banten telah berkoordinasi dengan Kantor SAR Lampung, tetapi informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
Pencarian dilanjutkan Rabu, 9 September 2026. Basarnas juga didukung KAL Anyer dari TNI Angkatan Laut dan dua drone termal untuk membantu pencarian.
Namun, pencarian menghadapi sejumlah kendala. Angin berhembus sekitar 10 knot, gelombang yang mencapai dua meter, jarak pandang terbatas hingga sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dari kondisi, pencarian melalui udara masih harus mempertimbangkan faktor keselamatan.
“Tim SAR gabungan untuk sementara masih mengandalkan pencarian melalui jalur laut di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau,” kata Kapolda Banten Inspektur Jenderal Polisi Hengki mengutip Viva.
Aktifitas erupsi yang masih terjadi membuat operasi udara tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Dan, keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode pencarian.
TNI AL pun telah menurunkan 11 unity kapal untuk membantu proses pencarian. Yakni; KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, KRI Lepu-861. Kemudian, KAL Anyer 1-3-64, KAL Pohawang 1-3-30, RBB Peucang Lanal Banten, dan, RHIB SAR 02 Banten. Selanjutnya, RHIB SAR 02 Lampung, KN SAR Tetuka-247, KN SAR Basudewa-224, dan, KP Sanjaya-7017.
Pada Kamis (10/9) Helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604 dilibatkan dalam operasi pencarian. Helikopter dengan nomor registrasi HR-3604 berangkat dari Lanud Atang Sendjaja (ATS) pada pukul 12.36 WIB dan direncanakan tiba di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada pukul 12.52 WIB.
Harapannya, dengan penggunaan helikopter, maka pencarain pun dapat dimaksimalkan.
Musibah bukanlah kuasa setiap orang.
Tetapi atas persoalan yang tengah terjadi ini, adalah perlu bagi para jurnalis dan juga kantor tempat mereka bekerja untuk memikirkan dan melakukan safety yang tepat ketika bekerja di lapangan. Terutama untuk liputan beresiko, seperti liputan konflik dan bencana.*
