Krisis Air Bersih Landa Kota Jambi

Lingkungan & Krisis Iklim

September 9, 2026

Farokh Idris/Kota Jambi

Kondisi Sungai Batanghari pada bulan Agustus 2026. (credits: Citizen Journalist)

“Kekeringan paling dominan terjadi di Paal Merah, Jambi Timur, Jambi Selatan dan Alam Barajo.” Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi

KABUT asap di musim kemarau belumlah berlalu. Kini, giliran kekeringan yang mendatangi warga Kota Jambi.

Debit air Sungai Batanghari di Provinsi Jambi, mengutip JEKTV, yang pda kondisi normal 9 meter hingga 10 meter, kini, di musim kemarau 2026 ini, menyusut menjadi 7,43 meter.

Mengutip laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kota Jambi diprakirakan akan mengalami Hujan Ringan pada hari Rabu tanggal 9 September 2026. Hujan Ringan ini terjadi di seluruh kecamatan di Kota Jambi.

“Kekeringan paling dominan terjadi di Paal Merah, Jambi Timur, Jambi Selatan dan Alam Barajo,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi Doni Sumatriadi, mengutip Jambi Independent.

Menurutnya kekeringan dirasakan oleh warga yang masih mengandalkan sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika debit air sumur berkurang dan bahkan mengering, warga pun membutuhkan pasokan air dari luar.

BPBD Kota Jambi, katanya, telah mengoperasikan empat armada, dengan satu armada berkapasitas 5.000 liter dan tiga armada berkapasitas masing-masing 4.000 liter. Selain itu, pun memdapat bantuan dua armada dari Batalyon 142/KJ, dan satu armada dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jambi.

“Total air yang telah distribusikan sebanyak 960.000 liter,” katanya.

Mengutip laman Pemerintah Kota Jambi, Walikota Jambi Maulana menyatakan bahwa kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Pun, kekeringan berpotensi meningkatkan risiko Karhutla dan kabut asap.

Pemerintah Kota Jambi, katanya, meminta para Lurah dan Camat untuk segera mengidentifikasi daerah-daerah yang telah mengalami krisis air bersih, agar dapat air bersih dapat didistribusikan ke wilayah itu.

Ilustrasi hujan. (credits: PNGtree)

Menurutnya, sekitar 35 mobil tanki membawa air bersih telah didistribusiakan setiap hari. Dengan perkiraan setiap satu tanki berisi 4.000 hingga 5.000 liter.

Sebagai perbandingan, pada Kemarau 2025 lalu, mengutip laman Perumdam Tirta Mayang, tiga intake utama mengalami gangguan signifikan pada tanggal 29 Juni hingga 8 Juli 2025.

Yakni, Intake Tanjung Johor mengalami penurunan debit air hingga 100 persen, sehingga tidak dapat beroperasi selama 8 jam setiap harinya. Kondisi ini menyebabkan sekitar 1.200 Sambungan Rumah (SR) tidak menerima pengaliran air.

Lalu, Intake Sejinjang mengalami penurunan debit sebesar 50 persen dari kapasitas seharusnya, berdampak pada menurunnya volume pengaliran kepada 6.500 sambungan pelanggan.

Selanjutnya, Intake Broni 2 mengalami penurunan debit sebesar 15 persen, yang berdampak pada kurang lebih 5.100 sambungan pelanggan di wilayah pelayanan.

Sementara itu, mengutip Antara, pemerintah sedang memulihkan 15 danau di seluruh Indonesia untuk ketahanan air. Satu diantarany adalah Danau Kerinci dengan luasan 4.200 hektare. Dimana, pemerintah akan merevitaslisasi kawasan hulu.*

Share:
avatar

Redaksi