Warga Tidak Bahagia Menghirup Asap
Lingkungan & Krisis Iklim
September 5, 2026
Astro Dirjo/Kota Jambi

Kualitas udara Kota Jambi per hari Jumat tanggal 4 September 2026 pukul 16:45 WIB. (credits: AQ AIR)
Jika kabut asap akibat Karhutla belum juga dapat diatasi, maka, besar kemungkinan pada Senin tanggal 7 September 2026, peserta didik masih akan melanjutkan PPJ.
SETELAH penetapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring bagi peserta didik di Kota Jambi pada tanggal 31 Agustus hingga 2 September 2026, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi kembali memperpanjang pelaksanaan PJJ hingga hingga 4 September 2026.
Perpanjangan ini, menimbang buruknya kualitas udara di Kota Jambi akibat Kabut Asap di Musim Karhutla ini. Demikian menbgutip laman Pemkot Jambi.
Jika kabut asap akibat Karhutla belum juga dapat diatasi, maka, besar kemungkinan pada Senin tanggal 7 September 2026, peserta didik masih akan melanjutkan PPJ.
Sejauh ini, hujan masih enggan turun dari langit di Kota Jambi. Padahal, hujan adalah satu-satunya cara alami yang dapat menghentikan Karhutla dan Kabut Asap.
Pun, helikopter pemadam masih terdengar dan terlihat melintas udara Kota Jambi untuk memadamkan api kebakaran.
Mengutip laman AQ Air, kualitas udara Kota Jambi per hari Jumat tanggal 4 September 2026 pukul 16:45 WIB adalah “Tidak Sehat” dengan angka 174 PM2,5. Angka polutan 2,5 di ini adalah 17,8 kali lebih tinggi dari nilai panduan PM2.5 tahunan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).
Adapun suhu Kota Jambi adalah 36 derajat Celcius. Mengutip laman AccuWeather, jarak pandang adalah 16 kilometer.

Titik api di Sumatera Tengah per hari Jumat tanggal 4 September 2026 pukul 16:45 WIB. (credits: GWIS)
Laman Global Wildfire Information System (GWIS) per hari Jumat tanggal 4 September 2026 pukul 16:45 WIB, masih terdapat begitu banyak titik api di wilayah tengah Sumatera hingga Selatan.
Adalah percuma untuk bersikap telunjuk lurus kelingking berkait. Sebab, banyak wilayah sama-sama terbakar dan sama-sama menproduksi kabut asap.
Sementara itu, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengutip MetroTVNews, 1.879,31 hektare lahan yang terbakar akibat Karhutla di Provinsi Jambi per Kamis, 3 September 2026. Di hari yang sama, estimasi area lahan yang terbakar mencapai 47,5 hektare; 37 hektare di antaranya berhasil dipadamkan dan 11,5 hektare masih dalam penanganan.
Sementara itu, WALHI Jambi bersama 15 organisasi mendirikan Posko Darurat Karhutla, pada 30 Agustus 2026 lalu. Pendirian posko ini sebagai bentuk respon cepat sekaligus solidaritas dan keberpihakan terhadap keselamatan rakyat serta lingkungan.
“Posko ini menjadi ruang untuk menghimpun informasi kejadian karhutla, menerima laporan masyarakat, memantau kondisi di lapangan serta mendokumentasikan dampak kebakaran dan kabut asap yang dirasakan warga,” kata Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah.
Sehingga, katanya, Posko Darurat Karhutla adalah bentuk teguran keras kepada banyak pihak, terutama pemerintah, bahwa situasi karhutla sudah membutuhkan penanganan yang serius, cepat, transparan dan terukur.
Sehingga, yang dibutuhkan saat ini adalah penanganan untuk memadamkan api. Istilah pendinginan, tentu saja menjadi asing dan aneh, jika yang terdata di peta adalah titik-titik “merah”.
Sejauh ini, Pemprov Jambi telah mengalokasikan anggaran sebesar IDR 3 miliar untuk penanganan Karhutla saat ini. Dan Pemkot Jambi telah mengalokasikan Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar IDR 4,7 miliar untuk menghadapi dampak musim kemarau, terutama ancaman krisis air bersih dan Karhutla.
Apapun itu, mari berharap hujan segera turun secepatnya. Sebab, tidak ada teori lain yang dapat menggantikan praktek: air hujan yang turun ke bumi untuk memadamkan titik api yang terjadi, dan menghilangkan kabut asap.
Sama seperti pada musim Karhutla di tahun-tahun sebelumnya.*
