Karhutla Dan Keracunan Karbon Monoksida

Hak Asasi Manusia

August 26, 2026

Jon Afrizal/Kota Jambi

Tim Manggala Agni sedang memadamkan Karhutla di Provinsi Jambi, akhir Agustus 2026. (credits: Manggala Agni)

Untuk mengingatkan, Provinsi Jambi telah mengalami Karhutla-Kabut Asap secara berulang kali, dalam waktu yang sangat lama, yakni sejak tahun 1991 hingga 2026. Dan, Karbon Monoksida itulah yang selalu masuk ke tubuh manusia-manusia di Provinsi Jambi, di setiap musim Kemarau (fire season) di setiap tahunnya.

SIAPA bilang Karhutla (Kebaaran Hutan Dan Lahan) yang mengakibatkan Kabut Asap (smoke/haze) tidak berbahaya bagi manusia. Anggapan itu adalah: salah.

Dunia medis mengenal Keracunan Karbon Monoksida. Karbon monoksida (CO), adalah gas tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak dapat dirasakan, sehingga tidak disadari keberadaannya. 

Gas ini dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Seperti batu bara, kayu, minyak tanah, gas, maupun bensin.

Dan, seluruh bahan bakar itu dihasilkan oleh bumi. Mengutip Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, gambut (wetland) yang terbakar menghasilkan gas karbon monoksida (CO) dankarbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang sangat besar. Ini terjadi akibat smoldering (proses pembakaran tidak sempurna) di bawah permukaan tanah.

Ketika seseorang terpapar gas karbon monoksida, mengutip Alodokter, maka kemampuan darah untuk mengikat oksigen akan berkurang. Ini terjadi karena gas karbon monoksida lebih mudah terikat dengan hemoglobin (Hb), sehingga darah akan membentuk carboxyhaemoglobin (COHb).

Hemoglobin, mengutip HaloDokter, adalah protein kaya zat besi di dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Secara normal, oksigen didapatkan saat bernapas, lalu diangkut darah dari paru-paru menuju jantung. Selanjutnya, jantung memompa darah yang kaya oksigen ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Semakin banyak COHb yang terbentuk, maka oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh akan berkurang. Akibatnya, tubuh akan mengalami hipoksia (kekurangan oksigen).

Jika kadar COHb pada pasien lebih tinggi 3 hingg 4 persen dari kadar normal, dapat dipastikan pasien mengalami keracunan karbon monoksida. Meskipun, pada pasien yang merokok, nilai COHb yang melebihi 10 hingga 15 persen baru dianggap sebagai kasus keracunan karbon monoksida.

Kondisi Udara di Kota Jambi dan sekitarnya per tanggal 25 Agustus 2026. (credits: AQ Air)

Maka yang terjadi pada tubuh manusia, akibat hipoksia, adalah; napas menjadi cepat, sesak napas, sakit kepala, pandangan kabur, detak jantung menjadi cepat atau menjadi lamban. Juga, kulit, kuku, dan sianosis (bibir berwarna kebiruan) atau justru berwarna merah gelap seperti ceri, lemas, linglung, hilang kesadaran, keringat berlebih, batuk, dan, sulit bicara.

Sementara, gejala-gejala dari kondisi Keracunan Karbon Monoksida, adalah; sakit kepala tegang, sesak napas, kelelahan, pusing, ual dan muntah, sakit perut, sakit maag, dan, linglung.

Pertanyaannya, apakah di saat Kabut Asap ini, anda merasakan gejala yang disebutkan diatas?

Maka, seperti yang biasa ditulis di obat-obatan medis yang dapat dibeli secara instant, “Jika Sakit Berlanjut, Segera Hubungi Dokter”.

Sebab, jika Keracunan Karbon Monoksida terus terjadi pada manusia, maka, akan muncul gejala lanjutan lainnya. Seperti; hilang keseimbangan dan koordinasi tubuh, nyeri dada, nyeri otot, gangguan penglihatan, sulit berkonsentrasi atau berpikir, pusing yang bertambah parah, kejang, takikardia (denyut jantung cepat), aritmia (gangguan irama jantung), dan, penurunan kesadaran, bahkan hingga pingsan.

Secara umum, sekitar 10 hingga 15 persen penderita Keracunan Karbon Monoksida dapat mengalami komplikasi jangka panjang. Yakni; kerusakan otak, penyakit jantung, dan, gangguan pada janin.

Untuk mengingatkan, Provinsi Jambi telah mengalami Karhutla-Kabut Asap secara berulang kali, dalam waktu yang sangat lama, yakni sejak tahun 1991 hingga 2026. Dan, Karbon Monoksida itulah yang selalu masuk ke tubuh manusia-manusia di Provinsi Jambi, di setiap musim Kemarau (fire season) di setiap tahunnya.

Mari kita lihat data yang mendukung analisa ini. Mengutip laman Aq Air per tanggal 25 Agustus 2026, udara di Kota Jambi berkategori Tidak Sehat dengan angka 179 PM 2.5.

Karhutla di Provinsi Jambi dan sekitarnya per tanggal 25 Agustus 2026. (credits: GWIS)

Mengutip laman Accuweather, visibility (jarak pandang) di Kota Jambi per tanggal 25 Agustus 2026 bervariasi antara 2 hingga 10 kilometer.

Meskipun, pada sehari sebelumnya, 24 Agustus 2026, pesawat dari Jakarta tidak dapat landing di Bandar Sultan Thaha Jambi karena visibility menjadi 1.000 meter akibat kabut asap. Penerbangan dialihkan ke Palembang dan Batam. Demikian mengutip Kompas.

Sementara, mengutip laman Global Wildfire Information System (GWIS) per tanggal 25 Agustus 2026, masih terdapat beberapa titik api di Provinsi Jambi.

Adapun Fire Emissions (Emisi Kebakaran), adalah; Carbon Dioxide (Karbon Dioksida, Carbon Monoxide (Karbon Monoksida), Methane (Metana), Non-Methane Hydro-Carbon (Hidrokarbon Non-Metana). Lalu, Partikulat & Karbon Aerosol, seperti Black Carbon (Karbon Hitam/Jelaga), Organic Carbon (Karbon Organik).

Dan, dan, Total Karbon dalam Aerosol seperti Particulate Matter (Materi Partikulat/PM). Serta Polutan Gas Lainnya, seperti Sulphur Dioxide (Sulfur Dioksida/Belerang Dioksida), Nitrogen Oxides (Nitrogen Oksida). Dan juga Indikator Lain, seperti Burnt Carbon (Karbon Terbakar).

Lantas, bagaimana kita harus menerapkan pola hidup sehat, serta perbaikan kualitas kehidupan dan seterusnya dan seterusnya, jika, kita masih menghirup racun Karbon Monoksida secara massal setiap musim Kemarau di setiap tahunnya?*

Share:
avatar

Redaksi