Peradaban Tua Di Luhak Enam Belas

Lifestyle

September 27, 2026

Jon Afrizal

Batu Larung ditemukan pada tahun 1933. (credits: KITLV)

Batu Larung, kira-kira sama usianya dengan megalitik Harhoog di Keitum, Sylt, Jerman. Dan sejaman dengan kebudayaan Pasemah di Lembah Lematang, Kabupaten Lahat Provinsi Sumatra Selatan. Serta, berbagai situs megalitikum di Nusantara.

DALAM wilayah keadatan Melayu Jambi, terdapat satu wilayah bernama: Luhak Enam Belas. Wilayah ini berada di adalah di Kerinci Tinggi dan Kerinci Rendah.

Yang dimaksud Kerinci Tinggi adalah wilayah yang kini berada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh, dan beberapa wailayah di Kabupaten Merangin. Sedangkan Kerinci Rendah adalah yang sekarang termasuk wilayah Kabupaten Merangin dan beberapa di Kabupaten Kerinci.

Jika merunut pada pemerintahan di era Hindia Belanda, sewaktu penerapan sistem marga (: desa) yang diadopsi dari Keresiden Palembang ke Keresiden Jambi, maka, Kerinci Tinggi terdiri dari 10 marga, dan, Kerinci Rendah yang terdiri dari enam. Kepala atau ketua atau pemimpin marga disebut: Pesirah.

Orang Melayu Jambi, dalam sistem pemerintahannya, tidak mengenal marga sebagai satu kesatuan sosial terkecil setingkat desa. Di Jambi, wilayah sosial terkecil sedari dulu telah dipahami sebagai: dusun, kampung atau rantau.

Kepusingan kolonial Belanda untuk dalam membendung pemberontakan-pemberontak di wilayah Jambi yang dipimpin oleh Sultan Thaha, telah menyebabkan Kesultanan Jambi dihapus oleh kolonial Belanda, pada tahun 1901. Sebagai gantinya, kolonial menunjuk asisten residen di wilayah Jambi, yang bertanggungjawab terhadap Residen Palembang.

Kala itulah, sistem marga (: merego – Bahasa Melayu Jambi) diterapkan di Jambi. Dan, wilayah Jambi baru benar-benar menjadi Keresidenan Jambi pada tahun 1906. Yakni setelah kolonial yakin bahwa wilayah Jambi benar-benar streken (: dapat diatur sesuai keinginan kolonial), sepeninggal Sultan Thaha pada tahun 1904. 

Mengutip Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, pada tahun 1933, ditemukan Batu Silindrik di Bukit Pematang Sungai Nilo, Dusun Tuo, Luhak Enam Belas. Wilayah ini, kini berada di Kecamatan Lembah Masurai Kabupaten Merangin Provinsi Jambi.

Penduduk lokal menyebutnya: Batu Larung. Batu Larung berada di Merangin-Jambi UNESCO Global Geopark, yang resmi diakui oleh UNESCO pada tanggal 24 Mei 2023.

Ketika ditemukan pada tahun 1933, Batu Larung berada di lingkungan dengan vegetasi yang rapat. Ini terindikasi dari lumut yang menempel pada batu.

Batu Larung itu berbentuk bulat panjang, dengan ukuran 3,45 x 0,94 meter. Terdapat relief berbentuk manusia, dengan posisi duduk atau jongkok, dengan posisi kedua tangan terulur ke arah atas.

Kondisi situs Batu Larung saat ini. (credits: Pemkab Merangin)

Meskipun, penggambaran sosok manusia di Batu Larung tampak tidak sempurna dan tidak presisi. Namun, begitulah manusia era pra sejarah menggambarkan sosok seseorang.

Batu Larung juga diketahui berasal dari era Megalitikum. Yakni sekitar 2.500 hingga 1.000 tahun sebelum penanggalan Masehi.

Batu Larung, kira-kira sama usianya dengan megalitik Harhoog di Keitum, Sylt, Jerman. Dan sejaman dengan kebudayaan Pasemah di Lembah Lematang, Kabupaten Lahat Provinsi Sumatra Selatan. Serta, berbagai situs megalitikum di Nusantara.

Maka, jika istilah Sriwijaya yang diciptakan oleh George Coedes berada di Sumatra pada abad ke 7 hingga 11 Masehi, justru, Batu Larung telah menunjukan peradaban yang lebih tua lagi. Dan, senyata, Coedes belum pernah menginjakan kaki di tanah Sumatra.

R Soejono dalam buku “Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Prasejarah Indonesia” menyebutkan bahwa tradisi pendirian megalitik di Indonesia sangat erat kaitannya dengan pemujaan nenek moyang. Yakni sebagai bangunan atau monumen yang didirikan menjadi bentuk penghormatan seorang yang telah meninggaldunia.

Bangunan berbentuk batu slindirik, menhir atau dolmen digunakan sebagai media penghormatan, tempat singgah, dan sekaligus perlambang bagi seseorang yang meninggaldunia. Meskipun, sejauh ini, tidak didapat informasi lanjutan, tentang sosok siapakah yang dipahat di Batu Larung itu.

Batu Larung di Nilo Dingin dibuat dari batuan ignimbrite. Yakni batu yang berasal dari endapan aliran piroklastik, sebagai hasil erupsi dari Gunung Masurai (2.980 mdpl).

Aliran piroklastik adalah suspensi panas dari partikel dan gas yang mengalir cepat dari gunung berapi karena memiliki kepadatan lebih besar dari atmosfer di sekitarnya.

Gunung Masurai mengutip laman Volcano, pernah meletus sekitar 12.000 tahun yang lalu. Sehingga, antar thesis adalah saling mendukung.

Mengutip Repository Universitas Jambi, terdata tujuh situs megalitikum yang berada di dataran tinggi Merangin. Situs-situs itu rata-rata tidak memiliki pola persebaranan, dan hanya mengikuti ketinggian topografi dan juga hanya mengikuti aliran sungai.

Sebagai perbandingan, posisi gunung dalam sosial dapat dilihat dari buku berjudul “Nusa Jawa; Silang Budaya” yang ditulis oleh Denys Lombard. Menurutnya, orang-orang di Jawa telah memuja gunung api jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha dari India datang ke Jawa di sekitara abad ke-10 Masehi.

Di era itu, diketahui Orang Tengger di Jawa Timur memuja Gunung Bromo, dan Orang Bali memuja Gunung Agung.

Sehingga, konsep memuja gunung api, telah ada jauh sebelum hadirnya konsep Gunung Meru yang berasal dari India di Jawa. Konsep Gunung Meru dari India adalah konsep tentang gunung sebagai tempat tinggi yang suci pusat dari jagat raya.

Namun, yang harus digarisbawahi, adalah bahwa situs-situs Batu Larung itu rata-rata mengarah ke Gunung Masurai yang berada pada Desa Sungai Lalang, Kecamatan Jangkat.

Ketujuh situs Batu Larung di Lembah Masurai itu, yakni; Nilo Dingin di Dusun Nilo Dingin, Prantin Tuo, Rimbo Tembang, dan Renah Luas di Dusun Tuo, Lalu, di Desa Renah Kemumu, di Desa Tanjung Kasri, dan, Pematang Punti di Desa Desa Rantau Suli.

Namun, pertanyaan yang juga tidak dapat untuk disimpulkan secara cepat, adalah, tentang, bagaimana manusia-manusia di era pra sejarah itu dapat sampai ke Lembah Masurai, dan darimana mereka berasal.

Sejauh ini, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.*

Share:
avatar

Redaksi