Jambi Menyala
Hak Asasi Manusia
August 22, 2026
Jon Afrizal/Kota Jambi

Karhutla di Provinsi Jambi dan sekitarnya, per Kamis, 20 Agustus 2026. (credits: GWIS)
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, wilayah yang terbakar adalah masih itu-itu juga. Jika pun berbeda, titik-titiknya hanya bergeser sedikit saja, atau berada tidak jauh dari titik-titik yang terbakar di tahun-tahun sebelumnya.
KONDISI udara bersih di Kota Jambi dan sekitarnya mulai mencemaskan, di Musim Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) dengan Kemarau El Noni Godzilla saat ini. Helikopter pengangkut air untuk memadamkan areal yang terbakar terlihat dan terdengar tak henti terbang melintasi udara Kota Jambi.
Udara di Kota Jambi berada di status Sedang (92 PM 2.5) per tanggal 21 Agustus 2026, demikian mengutip laman IQAir.
Sementara kondisi Desa Bukit Baling di Sekernan Kabupaten Muarojambi, berada pada status Tidak Sehat (170 PM 2.5). Padahal, pusat pemerintahan Kabupaten Muarojambi, yakni kawasan Bukit Cinto Kenang, Sengeti, juga berada di Desa Bukit Baling.
Kondisi udara di Desa Bukit Baling pada saat ini adalah 16,6 kali lipat dari yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) terkait panduan PM2.5 tahunan.
Sehingga, yang harus dilakukan warga, adalah menghindari aktifitas di luar ruangan, menutup jendela untuk menghindari masuknya udara luar yang kotor ke dalam ruangan, menggunakan masker saat berada di luar ruangan, dan, menghidupkan air purifier (alat pembersih udara).
Tetapi, tidak semua penduduk memilki air purifier. Meskipun situasi saat ini adalah: emergency.
Adapun kelompok sensitif yang terdampak adalah; anak-anak, lansia, ibu hamil dan orang dengan riwayat penyakit jantung dan paru-paru.
Polusi udara, demikian mengutip laman WHO, adalah kontaminasi lingkungan dalam ruangan atau luar ruangan oleh agen kimia, fisik, atau biologis apa pun yang mengubah karakteristik alami atmosfer. Adapun sumber umum polusi udara, adalah; perangkat pembakaran rumah tangga, kendaraan bermotor, fasilitas industri, dan Karhutla.
Polutan yang menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat meliputi partikel debu, karbon monoksida, ozon, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida. Polusi udara di luar dan di dalam ruangan dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan penyakit lainnya, serta menjadi aspek penting morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian).

Kualitas udara di Sengeti dan sekitarnya, per Jum’at, 21 Agustus 2026. (credits: IQAir)
Polusi udara dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Adapun gejala-gejalanya, mengutip Alodokter, adalah; batuk, batuk berdahak, sesak nafas, bersin, hidung tersumbat, pilek, demam, mudah lelah, sakit kepala, sakit tenggorokan atau nyeri saat menelan, mengi, dan, pembesaran kelenjar getah bening di leher.
“Hingga saat ini tim gabungan masih terus melakukan operasi pemadaman dan pendinginan di seluruh titik kebakaran,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah, mengutip Kompas.
Berdasarkan data akumuliasi sejak 1 Januari 2026 hingga 9 Agustus 2026, katanya, total luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 300,12 hektare. Karhutla berada di tujuh dari 11 kabupaten kota di Provinsi Jambi.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, wilayah yang terbakar adalah masih itu-itu juga. Jika pun berbeda, titik-titiknya hanya bergeser sedikit saja, atau berada tidak jauh dari titik-titik yang terbakar di tahun-tahun sebelumnya.
“Per periode 1 Januari 2026 sampai 13 Agustus 2026, total luas lahan yang terbakar mencapai 338.92 hektare, dan terdapat 2.795 hotspot,” kata Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji.
Terdata sebanyak sebanyak 52 kasus; 46 proses lidik, 6 kasus proses sidik dengan 7 orang tersangka.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan 107.465 hektare lahan terbakar di wilayah Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026. Luasan yang terbakar meningkat 110 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023, ketika El Nino berdampak pada Indonesia. Demikian mengutip Reuters.
“Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat memperluas kebakaran,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, mengutip DW.
Menurutnya, pemerintah telah mengerahkan sebanyak 43 unit helikopter dan 15 unit pesawat untuk mengatasi kebakaran. Pun juga telah dilakukan operasi penyemaian awan dengan menebarkan garam untuk merangsang hujan. Namun, operasi ini terkendala karena minimnya awan hujan.
Enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan Karhutla, adalah; Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Jika mengalami kesulitan, Orang Melayu, yang dalam hal ini adalah penganut Islam, akan memohon pertolongan kepada Allah untuk dimudahkan dalam suatu urusannya. Maka, seperti tahun-tahun di Musim Karhutla sebelumnya, dilakukanlah Sholat Istighosah, untuk meminta turunnya hujan.
Meskipun, di tahun 2026 ini, Sholat Istighosah belum dilakukan.
Istighosah, mengutip Mozaik Islam, berasal dari kata Arab, yakni: al-ghauts, yang berarti memohon pertolongan. Istighosah biasanya dilakukan ketika seseorang atau sekelompok orang sedang berada dalam kesulitan, menghadapi masalah berat, atau tertimpa musibah.
Sholat Istighosah adalah doa bersama yang tujuannya meminta pertolongan kepada Allah. Tak jarang, Sholat Istighosah disandingkan dengan sholat hajat, karena keduanya bertujuan meminta pertolongan kepada Allah.
Sebab, berbagai upaya telah dilakukan. Namun hujan lebat belum juga turun untuk menghilangkan polutan kabut asap akibat Karhutla yang dilakukan oleh manusia-manusia.*
