Orang Jambi Melebur Di Nganjuk
Budaya & Seni
September 29, 2026
Jon Afrizal

Candi Lor, Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. (credits: Google Photos)
“Di tempat ini yang telah terpilih
agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci,
Sebagai pengganti tugu kemenangan,
Di sanalah pertamakali menandai
Saat raja mengalahkan musuhnya dari Malayu.”
[Prasasti Anjuk Ladang]
JAMBI adalah nama satu desa di Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Baron adalah wilayah Kertosono Raya, yakni eks Kawedanan Kertosono.
Desa Jambi terdiri dari dua dusun, yakni; Dusun Jambi, dan Dusun Ringin Kembar.
Data BPS Kabupaten Nganjuk tahun 2017/2018 menyebutkan, Desa Jambi memiliki total penduduk sebanyak 2.231 jiwa, yang terdiri dari 1.107 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 1.124 jiwa berjenis kelamin perempuan.
Mengutip laman Desa Jambi, banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan kuno di desa agraris ini. Yakni, batu bata ukuran besar, dan satu buah lumpang batu.
Batu bata berukur besar berwarna merah ini ditemukan berkelompok, seperti rangkaian bekas pondasi rumah. Batu bata besar ini, selanjutnya, dimanfaatkan penduduk untuk membangun rumah ataupun pagar tembok.
Terkait dengan lumpang batu, dipercayai penduduk adalah sesuatu yang keramat.
Berdasarkan tuturan penduduk lokal, pada awal abad ke-9 M, Melayu Jambi, mengirimkan pasukannya ke wilayah Jawa bagian timur. Pasukan ini berlayar menyusuri pantai utara Jawa, dan memasuki Bengawan Brantas.
Sesampai di Ujung Galuh, perjalanan diteruskan ke kota pelabuhan berikutnya yaitu Bandar Alim.
Kehadirin pasukan Jambi dalam jumlah besar itu yang selanjutnya membuat daerah ini mendadak ramai. Dan, daerah tempat datangnya pasukan dari Jambi itu, adalah yang sekarang disebut: Desa Jambi di Kecamatan Baron.

Warga desa di kantor Desa Jambi Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. (credits: Kampung KB)
Sebagai catatan kritis, aku hanya menggunakan istilah Melayu Jambi, dalam tulisan ini, agar tidak menimbulkan kerancuan. Dan, aku tidak sedang berusaha mengaitkannya dengan Sriwijaya, sebagai sebuah istilah yang diciptakan George Coedes, yang bahkan Coedes pun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Sumatra.
JG de Casparis dalam penelitian berjudul “Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Sri Lanka and Southeast Asia” menyebutkan bahwa penduduk Anjuk Ladang mendapat anugerah dari raja karena telah berjasa membantu pasukan raja yang dipimpinan oleh Pu Sindok. Mereka berhasil menghalau serangan tentara Melayu Sumatra yang menyerang Mataram Kuno. Pada saat itu, pasukan Melayu Jambi telah bergerak hingga ke dekat Nganjuk.
Atas jasanya, maka Pu Sindok kemudian diangkat menjadi raja. Semua itu tertera di Prasati Anjuk Ladang, berangka tahun 859 Saka atau 935 Masehi.
Prasati Anjuk Ladang, kini menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor koleksi F-59.
Nama Anjuk Ladang, kemudian, diketahui adalah: Nganjuk.
Selanjutnya, pada prasasti itu juga disebutkan didirikannya sebuah bangunan suci. Bangunan suci itu, kemudian hari, diketahui adalah Candi Lor, yang didirikan pada 859 Saka atau 937 Masehi.
Candi Lor dicatat oleh Sir Thomas Stamford Raffles, pada tahun 1817, sewaktu ia menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Mengutip Kata Fakta, pada dasarnya Orang Malayu adalah Syailendra, yang adalah saudara setanah air Sanjaya di Medang. Sehingga, atas dasar keturunan, maka Pu Sindok menawarkan pola rekonsiliasi.
Sisa-sisa pasukan Melayu banyak yang tidak kembali ke Swarnabhumi (Sumatra), dan memilih mengabdi pada Medang. Mereka hidup bersama masyarakat Anjuk Ladang.

Prasasti Anjuk Ladang, (credits: Sejarah Jawadwipa)
Adapun markas perang pasukan Melayu Jambi, yang berada di Desa Jambi yang membentang hingga ke utara, tetap menjadi pemukiman bagi orang-orang Malayu itu. Wilayah ini disebut Nglayu atau Ngluyu.
Di Nglayu inilah sisas pasukan Melayu Jambi menyimpan dengan aman warisan harta kekayaan dari negeri asal mereka. Seperti; perhiasan emas, koin-koin dinasti Tang, dan manik-manik khas dari Muarajambi.
Persatuan wangsa Sanjaya dan Syailendra ini memungkinkan dibangunnya candi peribadatan bagi Sang Hyang Prasadha Kabhaktian. Tapi, candi ini bukan hanya bagi kaum Siwa saja.
Juga, bagi Orang Melayu penganut Buddha, kala itu. Orang Melayu diijinkan meletakkan 90 pantheon Buddha dari bahan perunggu di kompleks Candi Lor sebagai simbol persatuan Siwa-Buddha.
Candi Lor adalah bangunan candi yang terbuat dari batu bata merah. Maka, dapat diperbandingkan, penggunaan batu bata merah untuk candi, seperti yang terdapat di kompleks Percandian Muarajambi, di Provinsi Jambi.
Kompleks Percandian Muarajambi, didirikan sekitar abad ke-4 M. Demikian mengutip laman Museum Muarajambi. Candi Muarajambi, adalah situs universitas Buddha, seperti yang dicatatkan I Tsing dalam “A Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago (671-695 AD)”.
Simpulannya, penggunaan batu bata merah sebagai bangunan candi adalah lumrah. Sama lumrahnya dengan penggunaan batu kali.
Mengutip Jon Afrizal dalam “Mantra Melayu”, membangun candi dengan batu bata adalah dengan cara menggosok antar batu bata hingga merekat satu dengan lainnya. Pola ini masih dapat ditemui pada hari ini, pada banyak bangunan yang menggunakan batu bata merah di Jawa Timur dan Bali.
Sehingga, berhentilah berpikir bahwa candi batu bata merah direkatkan dengan putih telur. Dan juga, sebanyak apa ayam-ayam betina yang dipaksa untuk terus menerus bertelur setiap hari, hingga bangunan candi benar-benar siap dan jadi.
Sebab, sejujurnya, tidak didapat catatan yang menjelaskan lokasi dimana sentra ayam petelur di masa itu.
Pu Sindok bergelar Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isanawikrama Dharmottungadewawijaya. Ia memerintah sekitar tahun 929 hingga 947 Masehi.
Di era Pu Sindok, pusat kekuasaan Kerajaan Medang berpindah dari wilayah Jawa bagian tengah ke wilayah Jawa bagian timur.
Edi Sedyawati dalam buku “Candi Indonesia: Seri Jawa” mencatatkan bahwa Candi Lor memiliki denah bujur sangkar, dan terbuat dari batu bata merah.
Candi ini berpintu masuk di sisi arah barat. Dan terdapat anak tangga dengan tinggi 3,4 meter.
Di depan bangunan candi terdapat sisa-sisa pondasi dua candi perwara, tengah dan selatan. Dua candi perwara yang tinggal sisa-sisa pondasinya dianggap sebagai makam Yang Kerto dan Yang Kerti. Keduanya adalah abdi Pu Sindok, menurut penduduk lokal.
Pembangunan Candi Lor, selanjutnya, dianggap sebagai cikal bakal Kabupaten Nganjuk dan menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Nganjuk, yakni anggal 10 April 937 M.
Kondisi Candi Lor saat ini, dengan akar-akar dari pohon Kelumpang (Sterculia foetida) yang berumur ratusan tahun, yang menelusuk dan melilit masuk ke badan dan ke dasar candi.
Sama halnya dengan dengan Candi Koto Mahligai di Kompleks Percandian Muarajambi. Candi Koto Mahligai, nyaris hilang karena ditumbuhi pohon Menggeris (Koompassia excelsa) yang berusia tua. Candi ini, berada di Kecamtan Danau Lamo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi.

Candi Koto Mahligai, Kompleks Peecandian Muarajambi, Kabupaten Maurojambi, Provinsi Jambi. (credits: Suara)
Meskipun kondisi keduanya nyaris hilang, namun, sejarah telah mencatatkan.
Laman Kabupaten Nganjuk mencatatkan bahwa terdapat terdapat dua arca tanpa kepala di sebelah barat Candi Lord. Yakni; arca Ganesha dan arca Siwa Mahadewa.
Sedangkan di sebelah barat arca, terdapat Lingga dan Yoni, yang keadaannya telah rusak. Sehingga, jika benar bahwa benda-benda itu adalah asli dari Candi Lor, maka dapat disimpulkan bahwa Candi Lor bersifat Siwa.
Sayangnya, dikarenakan minimnya catatan sejarah, tidak diketahui secara pasti, nama Raja Melayu Jambi yang mengirimkan pasukan ke Kerajaan Medang kala itu, hingga pasukan Melayu Jambi terdampar di Desa Jambi di Kecamatan Nganjuk. Mungkin, saja, para ahli sejarah dikemudian hari dapat mengungkapkan namanya dengan tepat dan jelas.
Namun, istilah Melayu pertama kali diketahui berdasarkan catatan missi Cina pada pertengahan abad ke-7 M. Mengutip DGE Hall, dalam buku “Sejarah Asia Tenggara”, yang menyebutkan kedatangan utusan dari dua negara di Sumatera, yakni; Mo-lo-you (Moluoyu Guo) dan Che-li-fo-che.
Dada Meuraxa dalam buku “Kerajaan Melayu Purba” menyebutkan bahwa, Melayu terdiri atas dua kata, yakni; Mala, dan Yu. Mala berarti mula, dan, Yu berarti negeri.
Sehingga, Melayu berarti: negeri asal atau negeri yang mula-mula (awal).*
