Jambi Dalam Rekonstruksi Lokasi Sriwijaya
Inovasi
May 4, 2026
R. Soekmono*

Rumah Kajanglako. (credits: Kemendikbud)
Kota Jambi sekarang, dulunya ada pada sebuah teluk yang menjorok ke dalam hingga di daerah Muara Tembesi.
SRIWIJAYA harus dicari lokasinya di Kota Jambi sekarang. Itulah pendapat saya sejak tahun 1957.
Wolters telalh berhasil mengolah kembali bahan-bahan yang ada untuk sampai kepada kesimpulan bahwa khusus untuk kurun waktu abad XI dan XII ibukota Sriwijaya terletak di Kota Jambi sekarang.
Pada tahun 1957, saya memberikan hipothesa baru tentang lokasi Sriwijaya. Ini berawal dari survey yang saya lakukan pada tahun 1954. Sebuah survey yang dilakukan untuk menjajagi kemungkinan merekonstruksi garis pantai Timur pulau Sumatra bagian Selatan sebagai garis pantai kerajaan Sriwijaya.
Dalam hipothesa itu, terdapat dua unsur penting dalam pemetaan lokasi Sriwijaya. Yakni; penggunaan geomorfologi untuk merekonstruksi peta daerah Selat Malaka, dan, peranan Kota Jambi sekarang dalam sejarah Sriwijaya.
Melalui penggunaan geomorfologi, diketahui bahwa keadaan geografi pulau Sumatra pada zaman Sriwijaya dahulu pasti berbeda dari keadaan sekarang, dan oleh karena itu harus diperhitungkan dalam usaha merekonstruksi peristiwa sejarah yang bersangkutan.
Perjalanan yang tercatat dalam sejarah hanya dapat diikuti kembali secara cermat jika gambaran kartografinya sudah tidak terhalang oleh garis-garis pantai yang nampak pada peta jaman sekarang. Sebagai contoh dapat dikemukakan perjalanan Dapunta Hiyang untuk “mangalap siddhayatra”, dan juga perjalanan I-tsing dari Tiongkok ke India pulang-balik dengan persinggahan yang cukup lama di Sriwijaya.
Kecuali rute perjalanan, rekonstruksi peta wilayah Sriwijaya akan memberi landasan kuat pula untuk melokalisasi tempat-tempat yang tersebut dalam sumber-sumber sejarah, seperti berita-berita Tionghoa dan sebagainya.
Dalam telaah saya 20 tahun yang lalu itu rekonstruksi garis pantai Timur pulau Sumatra bagian Selatan hanya terbatas kepada daerah Palembang dan Jambi. Sedangkan rekonstruksi garis pantai di seberangnya hanya terbatas kepada daerah kepulauan Riau.
Rekonstruksi ini menggambarkan bahwa Kota Palembang sekarang, dulunya terletak di ujung sebuah jazirah yang berpangkal di Sekayu. Dan Kota Jambi sekarang dulunya ada pada sebuah teluk yang menjorok ke dalam hingga di daerah Muara Tembesi.

Sungai Batanghari, sekitar tahun 1935. (credits: KITLV)
Garis pantai di seberangnya merupakan suatu pantai tak terputus yang membentang dari ujung jazirah Malaka sampai ke pulau Singkep dengan melalui dan sekaligus mempersatukan gugusan kepulauan Riau.
Telaah saya menggambarkan betapa istimewanya letak Kota Jambi dahulu; dalam teluk yang dalam dan terlindung tetapi langsung menghadap ke lautan bebas tempat persimpangan jalan pelayaran antara Lautan Cina Selatan di Timur, Laut Jawa di Tenggara dan Selat Malaka di Barat-laut.
Maka jika dibanding dengan letak Palembang dahulu, Jambi memiliki unsur-unsur yang lebih menguntungkan untuk menjadi pusat kegiatan kerajaan Sriwijaya.
Karena usaha saya tadi untuk merekonstruksi garis pantai Timur pulau Sumatra hanya terbatas kepada daerah Palembang dan Jambi saja, maka daerah sekitar khatulistiwa daratan Sumatra yang juga mempunyai pretensi sangat kuat untuk lokalisasi Sriwijaya tidak diikutsertakan.
Telaah saya lanjutkan dengan mengusahakan rekonstruksi garis pantai daerah Rengat dan Pekanbaru. Dengan berpedoman kepada peta geologi dan uraian-uraian Van Bemmelen dapatlah diperoleh gambaran bahwa tanah rendah pantai Timur pulau Sumatra yang terdiri atas endapan tanah quartair pada jaman Sriwijaya masih merupakan laut.
Maka garis pantai waktu itu kira-kira bertepatan dengan garis yang memisahkan endapan quartair tadi dengan tanah tertiair. Sebagai contoh, Van Bemmelen menjelaskan, bahwa Pulau Busung di muara Sungai Batang Kuantan masih dinyatakan sebagai bagian dangkal dalam laut dalam peta tahun 1883 – 1885, dan sebagai bagian yang kering di waktu air surut dalam peta tahun 1899, tetapi pada saat ini adalah sebuah pulau yang tidak kurang dari 10 kilometer panjangnya dengan ditumbuhi oleh pohon-pohon yang rindang dan tinggi.
Mengenai pantai Deli dan Asahan Van Bemmelen menyatakan bahwa dalam tahun 1600 letaknya sekitar 20 sampai 40 kilometer lebih ke dalam dari keadaan tahun 1821, yang berarti bahwa tambahan pantai adalah rata-rata 100 meter setahun.
Adapun sebagai rata-ratanya dikatakan bahwa “the accretion of the alluvial coastal belt of East Sumatra in historical times may be 100 metres annually. This order of magnitude corresponds, for instance, with the retreat of the sea from Hanoi in Tonkin, which lies nowadays about 100 km from the coast, whereas it was a seaport in the 7th century”.
Bertambah lebarnya pantai Timur pulau Sumatra dengan rata-rata 100 meter per tahun cocok pula dengan keterangan yang diperoleh dalam telaah saya terdahulu, yaitu bahwa untuk muara Sungai Batanghari tambahnya rata-rata 75 meter setahun dan untuk muara Sungai Musi 125 meter setahun.
Maka dengan ketentuan itu semua dapat diperhitungkan bahwa daerah khatulistiwa pada jaman Sriwijaya pantainya membujur dari Tenggara ke Barat-laut antara kota Rengat dan kota Bangkinang. Kota Pekanbaru sendiri terletak di atas sebuah pulau, yang bersama dengan dua buah pulau lainnya memisahkan pantai dari laut lepas.
Sedangkan Muara Takus, letaknya di sebelah Barat Bangkinang, cukup jauh ke pedalaman tetapi sama-sama di tepi sungai Kampar Kanan.
Dari rekonstruksi pantai daerah khatulistiwa ini, diketahui adanya sebuah teluk yang menjorok cukup dalam, kira-kira di sebelah Tenggara kota Bangkinang sekarang. Teluk semacam ini tentu saja membuka kemungkinan untuk mencari lokalisasi pelabuhan penting, dan karena itu mencari pula lokalisasi Sriwijaya.
Namun, tertutupnya laut yang dihadapinya oleh pantai barat jazirah Malaka yang membujur sampai mencakup pulau Singkep, belum cukup memberi alasan untuk menentukan tempat itu sebagai pengganti Jambi sebagai lokasi ibukota Sriwijaya.
Penelitian geomorfologi hanya dapat menghasilkan suatu kerangka saja tempat “digantungkannya” bahan-bahan sejarah yang lain, seperti identifikasi dan lokalisasi nama-nama tempat yang dapat dikumpulkan dari berita-berita Tionghoa dan sebagainya untuk sampai kepada rekonstruksi jalannya pelayaran. Dan di sinilah sebenarnya terletak halangan terbesar untuk menyelesaikan masalah lokalisasi Sriwijaya.
Untuk tidak mengulangi keluhan semua ahli yang bersangkutan terhadap sulitnya penafsiran kata-kata Tionghoa untuk penamaan sesuatu tempat, dapatlah dikemukakan suatu contoh mengenai penafsiran jalannya pelayaran. Dari musafir-musafir Tionghoa yang meninggalkan catatan perjalanan dan yang catatannya paling lengkap adalah 1-tsing. Ia berlayar dari Kanton, dan dalam waktu kurang dari 20 hari ia mencapai Fo-shih.
Di sini ia tinggal selama enam bulan untuk belajar bahasa Sanskerta. Sang raja sangat membantu dengan menyediakan sebuah kapal baginya untuk berlayar ke Mo-lo-yu. Di sini ia tinggal selama dua bulan.
Kemudian ia berganti arah untuk pergi menuju Chieh-ch ‘a. Baru dalam bulan ke-12 ia menaiki kembali kapal sang raja untuk berlayar menuju India.
Dalam cerita perjalanan 1-tsing yang khusus menarik perhatian adalah pemyataan bahwa dari Mo-lo-yu ke Chieh-ch’a (dari Malayu di Jambi ke Kedah di semenanjung Malaka) ia “berganti arah”’.
Wolters mengartikannya sebagai “kembali ke kapal. Bagi Moens berarti “berganti arah”, bahwa mengingat arah Malayu – Kedah adalah pasti Tenggara – Barat-laut maka arah Sriwijaya – Malayu haruslah Barat-laut – Tenggara.
Ketentuan inilah yang memberi kemungkinan bagi Moens untuk melokalisasikan Sriwijaya lama, sebelum pindah ke daerah Muara Takus di pantai timur jazirah Malaka.
Sebaliknya, Wolters dengan interpretasinya yang berbeda harus menarik kesimpulan bahwa Sriwijaya sewaktu I-tsing singgah dalam perjalanannya dari Tiongkok ke India dan sewaktu ia singgah lagi dalam perjalanan pulangnya adalah sama dan tidak berubah lokalisasinya, yaitu di Palembang.
Muara Takus adalah sebuah dusun di pertengahan jalan antara Bukittinggi di Barat dan Pekanbaru di Timur, dan dapat dicapai dengan mengambil jalan simpang dari Muara Mahat kira-kira sejauh 30 kilometer ke Utara. Antara Muara Mahat dan Muara Takus tedapat dua dusun yang menarik perhatian karena dapat dikaitkan dengan sejarah, yaitu Batu Bersurat dan Kota Lama.
Menurut keterangan rakyat nama Batu Bersurat itu ada hubungannya dengan ditemukannya sebuah batu bersurat yang kini telah lenyap setelah jatuh ke dalam sungai Kampar. Adapun Kota Lama menurut ceritanya adalah bekas kota jaman dahulu yang menjadi pusat pemerintahan di daerah itu.
Menarik perhatian pula ialah bahwa sungai Kampar antara Muara Takus dan Muara Mahat demikian tenang mengalirnya, sehingga nampak jelas bahwa daerah itu benar-benar merupakan tanah datar. Ini adalah kontras dengan daerah Muara Mahat ke timur dengan sungai Kampamya yang seakan-akan terjun dari suatu ketinggian ke daerah yang lebih rendah.
“Geomorfologi sepintas” yang sebenamya lebih banyak mengungkapkan perasaan pengunjung ke daerah Muara Takus itu kiranya dapat mendukung kemungkinan akan adanya tempat pemukiman di masa lalu.
Gugusan candi yang ada di ujung utara dusun, dan yang terletak dalam tikungan sungai Kampar itu, bukanlah suatu percandian yang terpencil jauh dari tempat-tinggal manusia. Maka untuk melokasikan Sriwijaya di daerah ini, seperti dilakukan oleh Moens, cukuplah alasannya, lebih-lebih lagi kalau dikaitkan dengan berita Tionghoa tentang “panjangnya bayangan di panas matahari”.
Namun, karena lokasi Sriwijaya tidak dapat digantungkan semata-mata kepada pandangan geomorfologi, sebagaimana dikatakan oleh Slamet Muljana, maka sumber sejarah lainnya harus diikutsertakan.
Gugusan candi yang terdapat di dusun Muara Takus adalah tambahan sumber sejarah yang amat penting artinya. Hanya saja, gugusan itu kini lebih merupakan timbunan-timbunan batu belaka daripada sisa-sisa sekelompok candi yang tersusun dalam halaman candi yang dilingkungi oleh tembok keliling.
Di antara runtuhan-runtuhan itu ada satu bangunan yang masih tegak, meskipun sudah miring. Bentuknya serupa menara yang agak tinggi, dan mungkin sekali merupakan sisa dari bangunan stupa yang puncaknya sudah lenyap.
Yang menarik perhatian dari bangunannitu, adalah, bahwa nampak jelas adanya bangunan tambahan yang menyelubungi bangunannya yang lama, sehingga paling sedikit bangunan itu mewakili dua jaman. Apakah hal ini sesuai dengan adanya dua pendapat mengenai umumya, yaitu pendapat Bosch yang menempatkan candi itu dalam abad ke-XII dan pendapat Krom yang berpegang kepada abad VIII, sukar sekali ditentukan.
Soalnya ialah bahwa dari bangunan ataupun dari hiasan-hiasannya sama sekali tidak ada petunjuk yang dapat membantu menentukan umur, sedangkan perbandingan gaya arsitektumya pun tidak dapat dilakukan. Yang sedikit membantu Krom ialah ditemukannya beberapa kepingan emas yang bertulisan huruf Nagari, tetapi isinya yang lebih banyak menyerupai mantra-mantra memberi kecenderungan untuk memihak kepada Bosch. Lagi pula, munculnya kembali penggunaan huruf Nagari pada Candi Jago dalam abad ke-XIII merupakan peringatan untuk tidak menentukan umur atas dasar adanya tulisan Nagari saja.
Sehingga, dari segi arkeologinya tidak ada bahan yang dengan meyakinkan dapat menyokong pendapat Moens untuk melokalisasikan Sriwijaya di daerah Muara Takus. Disertai hasil rekonstruksi pantai daerah Pekanbaru dan Rengat, yang tidak menghasilkan unsur-unsur yang cukup kuat untuk melokasikan Sriwijaya di daerah khatulistiwa, maka kiranya dapat disimpulkan bahwa kedudukan Jambi menjadi semakin kuat, jika saja dapat dipastikan bahwa Malayu bukan di Jambi letaknya.
Meskipun belum dapat ditetapkan tempatnya lokasi Sriwijaya haruslah di pulau Sumatra, baik sebelum maupun sesudah kunjungan I-tsing, bahkan sejak mulanya sampai akhirnya. Pendapat-pendapat yang mencarinya di luar pulau Sumatra sudah tidak ada lagi gemanya.
Namun telaah Chand Chirayu Rajani dalam tahun 1974 yang selalu dimuat dalam Journal of the Siam Society hingga tahun 1976, lebih banyak menampilkan penyaduran kurang sempurna dari telaah orang-orang lain daripada hasil usahanya sendiri atas dasar penelitian yang mendalam.
Meskipun, terdapat dua hal yang pantas mendapat perhatian. Yaknni; digunakan sumber sejarah yang tertulis dalam bahasa Thai dan karena itu tertutup sama sekali untuk kita semua, dan, ditemukannya keterangan oleh penulisnya bahwa tanah-genting dekat Kra itu dahulunya laut atau selat.
Mengenai sumber bahasa Thai itu, yang bagi Chand adalah dukungan paling kuat untuk melokasikan Sriwijaya di Chaiya, lebih banyak mengungkapkan pentingnya daerah itu dalam jaman Sriwijaya ketimbang menentukan lokasinya.
Memang dari sumber-sumber lainpun jelas bahwa daerah itu tidak dapat diabaikan sebagai pelabuhan persinggahan yang menghubungkan lautan Teluk Siam dengan Samudra Hindia. Adanya bangunan-bangunan stupa dan peninggalan-peninggalan purbakala lainnya kiranya belum juga menetapkan secara mantap akan kedudukannya sebagai ibukota Sriwijaya.
Mengenai selat yang memisahkan jazirah Malaka dari daratan Asia, Chand sendiri rupanya kurang meyakini.
Wheatly, yang dengan tandas merekonstruksi peta daerah sekitar jazirah Malaka dengan menggunakan semua sumber sejarah yang berupa berita-berita Tionghoa, Yunani, Arab dan India, sama sekali tidak menyinggung adanya selat yang dikemukakan Chand, bahkan menelusuri jalan-jalan darat yang dipakai dahulu untuk menghubungkan pantai Timur dan pantai Barat jazirah Malaka.*
*Dikutip dan diedit tanpa mengurangi arti dari “Pra seminar penelitian Sriwijaya”, Jakarta, 7 – 8 Desember 1978
