“Tanah Pilih”, Siapa Penemunya?
Daulat
August 5, 2026
Jon Afrizal

Rumah “Kajang Lako”. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Bukankah, lurah-lurah di kawasan Benteng hingga Broni dulunya adalah jajaran candi-candi? Sebab, berdasarkan tulisan yang tertera di empat makara di Candi Solok Sipin, didapat angka 986 Saka atau 1064 Masehi.
SEJARAH adalah pembuktian. Jika kita bicara tentang “Tanah Pilih”, yang kerap juga disebut sebagai wilayah Kota Jambi saat ini, siapakah penemunya?
Tulisan ini, sejujurnya, adalah penegasan pertanyaan dari almarhum Aulia Tasman pada Malpu. Mungkin saja, judul yang diberikan almarhum terkesan terlalu keras, “Kontradiksi Tentang Tokoh – “Penemu Tanah Pilih”.
Tetapi, sekali lagi, sejarah adalah pembuktian. Jika pun itu awalnya adalah berangkat dari mitologi, legenda atau folklore pada umumnya, maka, dapatkah dijelaskan secara nalar?
Dua buku cetakan yang ditulis oleh Orang Jambi yang mengkisahkan tentang Jambi, dan memuat tentang “Tanah Pilih”, adalah; “Silsilah Raja-Raja Jambi Undang-Undang Piagam dan Cerita Rakyat Jambi” dari Ngebi Sutho Dilogo Priyai Rajo Sari, dan, “Napak Tilas Liku-Liku Provinsi Jambi” dari Usman Meng.
Dan, akan tidak dapat untuk disangkal, jika itu adalah Orang Jambi, sebagaimana tradisi Melayu, bahwa mitologi, legenda atau folklore akan selalu ada di alam pikirannya, sejak lahir hingga meninggaldunia. Ini adalah fakta, yang sulit untuk dibantah. Demikian mengutip Jon Afrizal dalam buku “Mantra Melayu”.
Dan, teramat sulit untuk melepaskan “identitas” yang melekat. Sebagaimana sekian banyak penulis dan atau peneliti yang rela membiarkan pikirannya diisi oleh identitas. Terlebih, jika itu bercerita tentang wilayah tempat ia lahir dan dibesarkan.
Pada buku “Silsilah Raja-Raja Jambi Undang-Undang Piagam dan Cerita Rakyat Jambi”, di Pasal Cerita Tanah Pilih disebutkan bahwa; Rang Kayo Hitam anak dari Datuk Paduko Berhalo dan Putri Salaro Pinang Masak yang berada di Ujung Jabung menghulu (mudik) hingga ke Kuala Air Hitam, anak dari Sungai Tembesi.
Wilayah yang disebutkan, kini, berada di Kabupaten Sarolangun, atau, lebih ringkas disebut dengan landscape Taman Nasional Bukit Daubelas (TNBD).
Di wilayah Air Hitam, Rang Kayo Hitam bertemu dengan dua orang raja. Yakni; Tumenggung Merah Mato sebagai Raja Tembesi, dan, saudaranya, Tumenggung Temuntan sebagai anak Raja Dewa Keturunan Maget-Magetan.

Rumah “Kajang Lako”. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Sejauh ini, jika ditafsirkan itu sejaman, maka terdapat folklore tentang Nenek Semulo Jadi, yang berada di Bukit Seguntang Sarolangun. Yang diyakini, sebagai cikal bakal Orang Batin Pengembang. Nenek Semulo Jadi, berdasarkan folklore, adalah keturunan dari Kerinci dan Mataram Tanah Jawa.
Lantas, apakah itu adalah tokoh yang sama, Temenggung Merah Mato? Yang kemudian bermanifestasi menjadi Temenggung Kabul Di Bukit, sebagai keturunan Mataram yang ditugaskan Raja Jambi untuk menetapkan depati-depati di Kerinci?
Lalu, dikisahkan, Orang Kayo Hitam melamar Mayang Mangurai untuk dijadikan isteri. Mayang Mangurai adalah anak dari Tumenggung Merah Mato.
Setelah kedua menikah, keduanya menghilir ke arah Ujung Jabung. Tumenggung Merah Mato, mengisyaratkan dengan menyertakan melepas sepasang angsa. Dengan pesan, bahwa, dimana sepasang angsa itu ngepur (berhenti), maka disanalah Orang Kayo Hitam dan Mayang Mangurai bermukim.
Selanjutnya, tempat sepasang angsa itu berhenti, kini, dapat disebut dengan kawasan Masjid Agung Al Falah. Dan selanjutnya, dalam catatan-catatan Belanda, wilayah ini pun berdiri Kraton Tanah Pilih yakni istana Kesultanan Jambi, dengan Sultan Thaha sebagai sultan terakhir yang mendiaminya.
Meskipun, sejujurnya, tidak didapat catatan-catatan detail lainnya tentang Kraton Tanah Pilih. Terkecuali, bukti-bukti fisik terkait budaya yang menguatkannya. Sebab, Kraton Tanah Pilih telah dihancurkan oleh Belanda dan diubah menjadi benteng, setelah wafatnya Sultan Thaha di tahun 1906.
Dan, setelah Indonesia merdeka, semasa pemerintahan Presiden Soekarno, benteng diubah peruntukannya menjadi masjid. Khusus untuk bahasan ini, masih banyak orang-orangtua di Kota Jambi yang mengingatnya.
Namun, jika anggapan Rangkayo Hitam hidup di tahun 1500 M, yang notabene adalah Kesultanan Jambi bernafas Islam, maka, bagaimana kita harus menjelaskan temuan begitu banyak batu-batu candi di sekitar wilayah Masjid Agung Al Falah itu. Yang sebagian dari batu kini telah berubah bentuk menjadi dinding-dinding rumah penduduk dan juga jalan setapak.
Sehingga, sebagaimana penelusuran sejarah, jika kita bersabar sejenak dan tidak begitu cepat menyimpulkan, maka, lurah-lurah (wilayah di darat yang berlekuk dan naik turun) akan sampailah ke situs Candi Solok Sipin, di dekat makam Raden Mat Taher.

Rumah “Kajang Lako”. (credits: Jon Afrizal/amira.co.id)
Bukankah, lurah-lurah di kawasan Benteng hingga Broni dulunya adalah jajaran candi-candi? Sebab, berdasarkan tulisan yang tertera di empat makara di Candi Solok Sipin, didapat angka 986 Saka atau 1064 Masehi.
Sehingga, jika menggunakan angka tahun 1500-an semasa hidupnya Rangkayo Hitam, maka, kita telah menghilangkan “kehidupan” yang ada sebelumnya. Atau, dengan kata lain, kita telah mengecilkan usia “Tanah Pilih” yang sesungguhnya.
Buku yang kedua, “Napak Tilas Liku-Liku Provinsi Jambi” menyebutkan bahwa Puti Salaro Pinang Masak memohon kepada orangtuanya untuk pergi ke Negeri Melayu atau Dharmasraya. Semestinya, jika mengutip “Tambo Mingakabau” yang ditulis ulang oleh Datoek Toeah, maka, bahasanya adalah memerintah Puti Salaro Pinang Masak untuk pergi ke Jambi. Dengan tujuan: mengamankan jalur-jalur perdagangan.
Masa yang sama dengan Kaba Cindur Mato, ketika pemerintahan Pagarruyung menugaskan Cindur Mato untuk mencari emas di wilayah Kerinci Rendah dan Kerinci Tinggi, dengan kiasan: berperang dengan Tiang Bungkuk.
Lalu, kepergian Puti Salaro Pinang Masak yang adalah cucu dari Adityawarman itu, disertai dengan melepas sepasang angsa. Untuk sementara, demikian kesimpulannya, bahwa Puti Salaro Pinang Masak adalah cucu dari Adityawarman.
Buku “Napak Tilas Liku-Liku Provinsi Jambi” menyebutkan bahwa Ananggawarman memiliki tiga orang keturunan. Yakni; Puti Salaro Pinang Masak, Puti Panjang Rambut, dan, Puti Bungsu (Tuan Gadih).
Terjadi kontradiksi, dimana dalam Kaba Cindur Mato disebutkan bahwa Anggawarman (1300 M) tidak mempunyai seorang keturunan pun. Sehingga terjadilah huru hara di Pagarruyung, terkait siapa yang berhak uuntuk menjadi raja penerus.
Dan, akan menjadi semakin unik, jika kerajaan matrilenal dipimpin oleh seorang raja. Bahwa, diketahui konsep kerajaan matrilenal secara umum adalah dipimpin oleh seorang ratu. Sebagai contoh, kerajaan-kerajaan matrilenal di Eropa. Sehingga, pembahasan tentang kerajaan matrilenal ala Pagarruyung adalah pengecualian.
Lantas, dari Pagarruyung, jika menilik Kaba Cindur Mato, adalah di Nagari Lunang Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat, menyusur mengikuti aliran Sungai Batanghari hingga ke wilayah yang sama, di sekitar Masjid Agung Al Falah, tempat ditunjuk angsa itu untuk mendarat.
Dan, akan menjadi semakin membingungkan, jika, secara linguistic, kata dari Batanghari itu adalah sama dengan prasa batang aia dalam Bahasa Minang. Yang artinya, adalah: sungai. Sehingga, sebagai klaim, bahwa di sepanjang aliran sungai (hanya sungai tanpa menyebutkan nama) adalah wilayah Pagarruyung. Entah sampai ke mana sungai-sungai itu, atau sungai apapun itu, mengalir.
Setelah berpanjang-panjang, siapa yang sebenarnya menemukan “Tanah Pilih”, jika bukti-bukti peradaban telah ada bahkan sebelum kesultanan bercorak Islam hadir di wilayah Kota Jambi.
Dan, bagaiman kita harus menyelaraskan, secara sejarah, berdasarkan bukti-bukti fisik Candi Solok Sipin bahwa usia Kota Jambi dengan slogan “Tanah Pilih Pseko Betuah” adalah hanya 625 tahun saja pada tahun 2026.
Literatur soal ini masih sangat minim, dan kita – Orang Jambi – terlalu cepat menyimpulkan, dan kurang memiliki kesabaran untuk memahaminya.*
