Tembang Apsara Di Prambanan

Budaya & Seni

September 8, 2026

Jon Afrizal

Relief Apsara di Candi Prambanan. (credits: Zulfa Amira Zaed/amira.co.id)

“Dalam inkarnasi ke-17 Shri Narayana, Vyasadeva muncul di dalam rahim Satyavati melalui Rishi Parasara. Vyasa adalah orang yang membagi satu Veda besar menjadi beberapa cabang dan sub-cabang, yang melihat bahwa orang-orang pada umumnya kurang cerdas.” Srimad Bhagavatam 1.3.21

APSARA adalah peri air. Inilah deskripsi paling kuno yang dicatat tentang Apsara, atau makna yang mendekatinya.

Yang, dalam mitologi Yunani dikenal sebagai: Naiad. Yakni sejenis spririt yang berhubungan dengan kuasa air. Atau mungkin juga dekat ke kata Siren  atau Mermaid (putri duyung).

Dalam tradisi Yunani kuno, Naiad adalah objek kultus. Ia dipuja dan disembah, terutama bagi anak-anak yang sedang menuju remaja, di musim semi.

Naiad digambarkan sebagai perempuan muda yang elok rupawan. Terlepas dari pemahaman gender modern, begitulah mitologi dituturkan.

Namun, elok rupawan itu, dapat menjadi bahaya. Yang berhuhungan dengan Hylas dari putra Raja Theiodamas yang menjadi pelayan Hercules.

Hylas bersama awak kapal Argo diculik oleh Naiad. Hylas, diceritaksn selanjutnya, jatuh cinta kepada Naiad, dan mengikuti Naiad untuk pergi.

Selanjutnya, kata Apsara, yang adalah Bahasa Sansekerta, adalah gambaran dari seorang wanita cantik, muda dan elegan. Ia dapat mengubah wujud sesuka hati.

Apsara dapat membuat siapapun pun jatuh cinta pada kecantikannya.

Apsara, terkait asal usulnya, telah dijelaskan pada tiga epik; Ramayana, Purana, dan Mahabharata. Dan, Apsara terkait dengan air, dan juga kemampuannya untuk mengaduk-aduk laut.

Tari Apsara. (credits: Amazing Thailand)

Terdapat dua kelompok Apsara. Yakni; Laukika dengan kekuatan duniawi, dan, Daivika dengan kekuatan ilahiah.

Apsara, sama seperti mitologi Yunanai kuno, adalah sosok yang pandai menghibur orang lain. Ia pandai bernaynayi, dan juga menari.

Dalamm budaya Hindu, Apsara adalah penghuni surga, bersama Dewa Indra. Atau, mungkin juga ada catatan yang menhyatakan bahwa Apsara adalah “hamba” dari Dewa Indra.

Seiring dengan datangnya pengaruh India ke Nusantara, maka Apsara pun terpahat di Kompleks percandian Prambanan, atau yang juga disebuta dengan Candi Roro Jonggrang. Candi Prambanan adalah candi berbudaya Hindu yang dibangun di abad ke-9 M.

Pun juga, relief Apsara juga didapat di Candi Borobudur. Yang memiliki arti, bahwa kedua kompleks percandian ini adalah saling berhubungan.

Prasasti Siwagrha pada 778 Saka (856 M) mencatat bahwa candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 M oleh Rakai Pikatan, seorang penganut Siwa. Dimana, Rakai Pikatan mendirikan sivagrha (rumah Siwa).

Selanjutnya, candi ini terus dibangun dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, pada masa Kerajaan Medang Mataram.

Kompleks Percandian Prambanan terdiri dari tiga candi utama, yakni; Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa, sebagai perlambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu.

Ketiga candi itu menghadap ke arah timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu.

Selain itu, masih terdapat dua candi apit, empat candi kelir, dan empat candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Kompleks percandian Prambanan berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, pintu administrasi situs Unesco ini terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Candi ini kerap dinyatakan sebagia candi pemujaan dewa Siwa. Dewa Siwa dikenal sebagai perlambangan dan kemusnahan.

Apsara pada prangko Indochina tahun 1931. (credits: Wiki Commons)

Kata “Prambanan” diduga adalah perubahan bentuk dan bunyi dari kata “Para Brahman”, dalam dialek Jawa.

Candi Prambnana dihiasi oleh relief-relief naratif dua epic, yakni; Ramayana dan Krishnayana. Relif berkisah ini diukirkan pada dinding sebelah dalam pagar langkan sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama.

Mengutip laman Candi Prambanan, relief ini harus dibaca dari kanan ke kiri, dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi. Ini agar sesuai dengan ritual pradaksina. Yakni ritual mengelilingi bangunan suci searah jarum jam oleh peziarah.

Kisah Ramayana bermula di sisi timur candi Siwa dan dilanjutkan ke candi Brahma.

Mengutip laman Indica Today, Apsara, adalah bidadari surgawi, yang berusaha membebaskan dirinya dari kutukan. Apsara sering turun ke bumi dan berendam di Sungai Yamuna. Untuk menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang dan bermain-main dengan mandi dan menikmati sungai-sungai ini.

Mengacu pada epik Purana, seorang pertapa mengunjungi Sungai Yamuna untuk melakukan ritual. Setelah berendam di air, pertapa itu berdiri di air setinggi lutut dan berdoa.

Namun, Apsara mempermainkan pertapa itu. Apasa menarik kaki pertapa, dan menbguncinya.

Pertapa yang terganggu ritualnya pun menjadi marah. Ia pun mengutuk Apsara untuk tetap menjadi ikan di Sungai Yamuna. Sejak kala itu, nama Apsara menjadi: Adrika

Apsara Adrika memohon ampunan, tetapi karena kutukan telah terucap, maka kutukan itu tidak dapat dihilangkan. Lalu pertapa mengubah kutukannya, dengan membuka jalan bagi pembebasan Apsara.

Ia meyakinkan bahwa Apsara Adrika akan tetap menjadi ikan. Tetapi, Apsara akan bebas dari kutukan setelah ia melahirkan dua anak manusia dalam wujudnya yang menyerupai ikan.

Apsara melahirkan dua anak; yakni Matsya dan Matsyagandha (: dia yang berbau seperti ikan). Matsyagandha, kemudian dikenal sebagai Satyawati. Satyawati adalah ibu dari Resi Vyasa yang menulis kitab Mahabharata. Satyawati adalah istri kedua dari Raja Santanu dari Kerajaan Hastinapura, dan adalah nenek buyut dari Pandawa dan Kurawa.

Setelah kelahiran Matsya dan Matsyagandha, maka Apsara pun terbebas dari kutukan. Ia tidak lagui berwujud sebagai ikan Adrika, dan kembali ke wujud surgawinya.

Apsara, mengutip Britannica, digambarkan dengan indah dalam patung dan lukisan di India dan di seluruh wilayah Asia Selatan dan Tenggara yang dipengaruhi oleh Hinduisme dan Buddhisme.

Tidak hanya di Candi Prambanan saja, tapi juga di lukisan dinding abad ke-5 M hingga ke-6 M di Ajanta di India. Dan juga di Sigiriya di Sri Lanka. Pun patung dan relief Apsara juga menghiasi kuil-kuil Angkor, Kamboja.

Yang membuat Apsara menjadi istimewa adalah karena Apsara selalu menari.

Maka, Apsara telah mengejawantah menjadi tari-tarian. Mengutip Amazing Thailand, Tari Apsara telah menjadi bagian dari budaya Khmer selama berabad-abad.

Mungkin saja akan selalu ada perbedaan penafsiran tentang Apsara. Namun mitologi memiliki kebenarannya sendiri, dan, berbeda dan tidak dapat disamakan dengan kebenaran yang lainnya.*

Share:
avatar

Redaksi