Salah Tafsir Tentang Gunung Kemukus
Lifestyle
July 31, 2026
Jon Afrizal

Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. (credits: Google Photos)
“Siapapun yang memiliki tujuan untuk apa yang mereka inginkan, hanya dapat tercapai dengan hati yang tulus, teguh, dan murni. Janganlah lalai. Seringlah menuju tujuan itu, dekatkan perasaan cinta kepada Gusti Allah, seolah-olah engkau akan mengunjungi orang yang engkau cintai.” [Pangeran Samudra]
GUNUNG Kemukus berada di Desa Pendem Kecamatan Sumberlawang Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Dataran tinggi ini, lebih tepat, jika disebut bukit, yang berada di ketinggian sekitar 300 mdpl.
Dikarenakan puncaknya sering diselimuti kabut putih di pagi hari, yang asap itu mirip dengan asap yang keluar dari kukusan penanak nasi, maka dinamakanlah bukit itu: Gunung Kemukus.
Di bukit ini, dimakamkan seorang putra dari Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dengan seorang selirnya. Putra itu bernama Pangeran Samudra.
Dalam Serat Momana disebutkan Prabu Brawijaya V yang memerintah sejak tahun 1337 hingga 1341 bernama asli Lembu Amisani. Ia memiliki seorang permaisuri yakni Ratu Handarwati yang berasal dari Champa.
Dan, dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad 19 M, diceritakan bahwa Majapahit menjadi besar di bawah pemerintahan Brawijaya V. Namun, terdapat sekitar 101 nama yang dianggap keturunan Brawijaya V.
Mengutip laman Pemkab Sragen, Pangeran Samudra, kadang disebut Pangeran Samadra, dan kadang juga Pangeran Samudro, melakukan syiar Agama Islam dari Demak hingga di wilayah itu.
Sehingga, Pangeran Samudra adalah saudara tapi beda ibu dengan Raden Patah, yang bergelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panataagama. Raden Patah adalah pendiri Kesultanan Demak yang bercorak Islam. Ia memerintah dari tahun 1475 – 1518.
Raden Patah adalah putra dari Dara Petak. Dara Petak adalah satu dari dua putri Bumi Melayu yang diboyong ke Jawa di masa Ekspedisi Pamalayu (1275 – 1286) yang dilakukan oleh Raja Kertanagara dari Kerajaan Singhasari.
Satu putri lagi bernama Dara Jingga, yang adalah ibu dari Adityawarman, yang kemudian menjadi Maharajadiraja Kerajaan Melayupura.

Makam Pangeran Samudra di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. (credits: Google Photos)
Raden Patah adalah murid Sunan Ampel (Sayyid Ali Rahmatullah). Sunan Ampel (1401 – 1481) adalah bersilsilah raja-raja Majapahit.
Pangeran Samudra memutuskan untuk tinggal di Demak Bintoro. Ia mendalami agama dan ajaran Islam kepada Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Sunan Kalijaga (1450 – 1531) adalah ulama sekaligus penasehat pemerintahan Majapahit di era Prabu Bhre Kertabhumi, Maharaja Majapahit ke-11, yang berkuasa dari tahun 1468 hingga 1474.
Pangeran Samudra ditemani oleh Raden Ayu Ontrowulan, yang adalah ibu tirinya.
Selanjutnya, Sunan Kalijogo mengutus Pangeran Samudro mengembara ke arah selatan menuju Gunung Lawu (3.265 mdpl), yang kini secara administratif berada di perbatasan Karanganyar Provinsi Jawa Tengah dan Magetan/Ngawi Provinsi Jawa Timur. Ia diminta belajar kepada ulama-ulama Islam yang dijumpainya selama perjalanan ke arah kidul (selatan), agar ilmu agamanya lengkap.
Pun, Pangeran Samudra mendapat tugas tambahan. Yakni sowan (menyambung tali silaturahmi) ke kerabat-kerabat kraton Majapahit di sekitar Gunung Lawu. Terdapat dua situs peninggalan Majapait di sini, yakni; Candi Sukuh dan Candi Cetho.
Satu dari kerabat kraton Majapahit itu, adalah Kyai Ageng Gugur yang bertempat tinggal di Desa Pandan, atau mungkin, Karangpandan atau Lembah Pandan, di lereng Gunung Lawu.
Gunung Lawu, dalam mitologi Jawa, adalah tempat moksa (menghindar dan menghilang) bagi Prabu Brawijaya V dari kejaran pasukan Raden Patah.
Menurut Babad Tanah Jawa dan Serat Kanda, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit. Sebab, Brawijaya V adalah tetaplah ayah dari Raden Patah, meskipun berbeda agama. Inilah muasal terbentuknya Kerajaan Demak.
Kembali ke kisah Pangeran Samudra, ia menyambangi Kyai Ageng Gugur untuk meminta restu. Setelah itu, ke arah pulang ke Demak Bintoro, ia menyebarkan agama Islam, ditemani dua orang abdinya.
Di perjalanan pulang, ketika berada di sekitar Dukuh Doyong, yang kini masuk wilayah Kecamatan Miri, kesehatan Pangeran Samudra memburuk. Satu dari abdi pengiring diminta untuk melanjutkan perjalanan untuk menjelaskan kondisi ini kepada Sultan Demak Bintoro.
Namun, ketika, abdi itu diutus kembali untuk menemui Pangeran Samudra, tetapi Pangeran Samudra telah wafat. Sesuai amanat Sultan Demak, jenazah Pangeran Samudra dimakamkan disebuah bukit di sebelah barat laut Dukuh Doyong, di bukit dengan ketinggian sekitar 300 mdpl.
Sementara, Raden Ayu Ontrowulan yang berada di Demak, bertakziah ke makam almarhum Pangeran Samudra. Dan, ketika berada di sana, Raden Ayu Ontrowulan menuju ke sebuah sendang dan mengambil air untuk bersuci.

Sendang Ontrowulan di di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. (credits: Google Photos)
Setelah beribadah, ia memutuskan untuk tinggal di Gunung Kemukus, hingga akhir hayatnya.
Mata air tempat Raden Ayu Ontrowulan bersuci itu dikenal dengan nama “Sendang Ontrowulan”. Letaknya tak berapa jauh, di bawah area makam Pangeran Samudra.
Meskipun berada di ketinggian 300 mdpl, sendang itu tidak pernah kering airnya walaupun di musim kemarau.
Kecamatan Sumberlawang berada di jalur penghubung Surakarta dan Purwodadi. Berbatasan langsung dengan dengan Kecamatan Miri di sebelah kidul (selatan), Kecamatan Mondokan di sebelah lor (utara), Kecamatan Tanon di sebelah wetan (timur), dan Kabupaten Grobogan di sebelah kulon (barat).
Hasta, seorang juru kunci makam Pangeran Samudra, mengutip Solo Pos, menyebutkan bahwa makam Pangeran Samudra sering dikunjungi peziarah dari luar Sragen, terutama di malam Jumat Pon dalam penaggalan Jawa. Yakni hari dimana Pangeran Samudera wafat.
Pengunjung mengadakan tirakatan, tawasuf, dan tahlilan di sini.
Namun, Gunung Kemukus kerap diberi stigma negatif.
Menurut Hasta, ini terjadi karena miskomunikasi antara juru kunci terdahulu yang hanya dapat berbahasa Jawa, dengan pengunjung dari luar Jawa.
Yang, dalam Bahasa Jawa, disebutkan bahwa jika berziarah ke makam Pangeran Samudra adalah seperti mendatangi demenan (kekasih). Tetapi pengunjung malah salah kaprah.

Petunjuk Jalan ke Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. (credits: Google Maps)
Mereka malah mendatangi makam dengan membawa pacarnya.
“Jangan meminta kepada makam Pangeran Samudra. Berdoa hanya kepada Allah,” kata Hasta menjelaskan.
Mengutip BPS, jumlah pengunjung Objek Wisata Gunung Kemukus pada tahun 2018, adalah 39.974 orang.
Pada medio April 2016, mengutip laman Universitas Gajah Mada (UGM), sebanyak lima mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, meneliti mitos ritual seks yang ada di Gunung Kemukus. Penelitian ini berawal dari tayangan video di You Tube yang berjudul “Sex Mountain”, yang dirilis oleh seorang jurnalis Australia, Patrick Abbout.
Berdasarkan penelitin dari kelima mahsiswa ini, didapat kesimpulan bahwa praktik ritual seks di Makam Pangeran Samudro dilegitimasi oleh tafsir yang sengaja dibelokkan oleh beberapa orang tentang riwayat dan wasiat Pangeran Samudro. Pangeran Samudro berwasiat bahwa siapa saja yang nantinya datang berziarah harus mempunyai hati yang senang, percaya, dan mantap, seperti akan datang ke rumah kekasihnya.
“Wasiat ini yang disalahtafsirkan oleh beberapa orang. Bahwa ngalap berkah di Makam pangeran Samudro harus berhubungan badan,” kata Taufiqurrahman, satu dari lima peneliti.
Pada tanggal 27 April 2022, mengutip Detik, Ketua DPR Puan Maharani meresmikan tempat wisata unggulan “New Kemukus” di Gunung Kemukus. Tempat wisata yang dulunya sering dianggap negatif karena ritual seks itu, kini dijadikan tempat wisata religi dan keluarga.
Puan menyarankan agar Pemkab Sragen benar-benar menggarap potensi wisata di Gunung Kemukus ini. Terutama wisata edukasi, dengan tujuan agar “New Kemukus” dapat memiliki citra yang kuat sebagai tempat wisata keluarga.*
