“Muarajambi”, Bukan “Muarojambi”
Budaya & Seni
August 12, 2026
Jon Afrizal/Danau Lamo, Muarojambi

Pencarian di Google Chrome. (: screenshot)
SEHARUSNYA, Orang Jambi mulai kompak, untuk satu penyebutan. Bahwa kompleks percandian di Kabupaten Muarojambi, adalah “Muarajambi”, dan bukan “Muarojambi”.
Sebab, mesin pencarian internet akan segera mendeteks kompleks percandian itu, berikut sekian banyak data-data lama yang pernah disalin di internet, jika menggunakan kata pencarian: Muarajambi. Sebuah kawasan tua yang telah berdiri di abad ke-7 M.
Dan kini, kompleks percandian Muarajambi masih tetap berada di posisi Tentative List sebagai warisan budaya dunia di UNESCO, sejak tahun 2019. Banyak usaha yang dilakukan pemerintah, dengan berpeluh-peluh. Tetapi, posisi tidak kunjung beranjak.
Pada awal tahun 2000-an, seorang sejarahwan atau mungkin arkeolog pernah menegaskan di sebuah seminar di Kota Jambi, bahwa kompleks percandian itu adalah: Muarajambi. Sebab, begitulah yang tercatat di banyak catatan bangsa-bangsa asing. Dan terbukti, di laman UNESCO pun tertera Muarajambi, dan bukan Muarojambi.
Sementara, lidah Orang Jambi, dengan penyebutannya yang cenderung -o pada akhir kata -a, telah menggantinya dengan: Muarojambi. Sehingga, apapun tentang candi itu, lebih banyak menjadi “Muarojambi” ketimbang “Muarajambi”.
Jika masing-masing dari kita memahami, bahwa Search Engine Optimization (SEO) dapat mengubah perilaku pencarian, maka, setidaknya, marilah kita – Orang Jambi mulai menggunakan kata “Muarajambi”, dan bukan “Muarojambi” untuk kompleks percandian itu.

Pencarian di Google Chrome. (: screenshot)
Sebab, begitulah teknologi bekerja. Dan, dengan inilah, sebagai cara alternatif, untuk membuat UNESCO mensahkan Kompleks Percandian Muarajambi sebagai warisan budaya dunia.
Jika bicara sodal kelengkapan data, tentu saja telah lengkap.
Laman UNESCO menyebutkan, “Kompleks Percandian Muarajambi dikenal sebagai universitas kuno yang memiliki hubungan erat dengan Universitas Nalanda di India, sebagai pusat pendidikan Buddha terkemuka di dunia pada masa itu. Sebagian besar ahli sepakat bahwa Kompleks Percandian Muarajambi adalah tempat bagi para biksu untuk belajar bahasa sankrit dari Tiongkok dan India sebelum mereka pergi ke Nalanda (India).”
Selanjutnya, “Selain itu, I-Tsing, seorang biksu Buddha dari Kanton (Tiongkok), mencatat dalam perjalanan 25 tahunnya di Asia pada abad ke-7, ia menggambarkan kehebatan pusat pembelajaran Buddha di Sumatra. Bukti otentik lain tentang hubungan antara Sriwijaya dan Nalanda di masa lalu adalah prasasti Nalanda dari abad ke-9, yang menyebutkan pembangunan asrama untuk biksu dari Swarnadwipa atau Shih-li-fo-shih atau Sriwijaya.”
Dari bahasan itu saja, diketahui UNESCO telah mendata sekian banyak potensi kebudayaan yang ada di Kompleks Percandian Muarajambi.
Tapi, apakah kita semua mendukungnya, bahwa dalam setiap penulisan, pemberitaan dan berbagai bentuk penjelasan tertulis, haruslah seragam: Muarajambi. Dan, sepertinya, banyak dari kita tetap tidak mau mengubah kata “Muarojambi” menjadi “Muarajambi” untuk komples percandian itu.

Website Pemprov Jambi yang menerangkan tentang Kompleks Percandian Muaro Jambi. (: screenshot)
Dan jujur saja, bahkan kita di Jambi ini tidak memiliki sesuatu catatan lokal apapun, yang menyebutkan bahwa nama kompleks percandian itu adalah: Muarojambi. Tetapi, dengan logat Melayu Jambi, kita selalu memaksakan bahwa kompleks percandian itu memang bernama: Muarojambi.
Kenyataannya, di mesin pencari internet, Muarojambi adalah wilayah admisnitratif Kabupaten Muarojambi, dan bukan merujuk kepada Kompleks Percandian Muarajambi.
Yang, bahkan untuk website Prmpov Jambi pun masih menyebut: Kompleks Percandian Muaro Jambi.
Sehingga, ketimbang sibuk kasak-kusuk loba-lobi, yang belum jelas juga juntrungannya, dan masih tetap menjadi Tentative List di UNESCO, adalah lebih baik untuk mulai menyeragamkan penyebutan: Muarajambi.
Sebab, selain data, juga dibutuhkan dukungan banyak orang untuk meng-gol-kan Kompleks Percandian Muarajambi. Dan, dukungan menjadi tidak nyata, hanya gara-gara berubahnya huruf -a- di Muarajambi menjadi huruf -o- di Muarojambi.
Mari kita mulai, sejak hari ini: Muarajambi.*
