Hikayat Kerajaan-Kerajaan Hindu Nusantara

Inovasi

September 22, 2026

GJF Biegman*

Candi Sewu, dekat Candi Pramban. (credit: Neerlands-Oost-Indie. Reizen over Java, Madura)

Terdapat satu cerita Jawa, namanya Baron Sakendar. Dalam ceritera itu tersebutlah Hikayat Mur Jang Kun, yaitu Gouverneur-General Yan Pieterszoon Kun, maka hikayat itu begitu berbumbu-bumbu. Sehingga berlainan sakali dengan Hikayat Tuan Besar Are, yang ditulis oleh orang Belanda.

BAHWA tidak nyata pada kita, tentang kedatangan orang Hindu, dan dimana bermula tempat kedudukannya. Adapun pokok hikayat, yang menyatakan hal tanah Hindia pada zaman purbakala, yaitu surat dan barang, yang tinggal dari pada masa itu.

Seperti tulisan yang terukir pada candi, dan pada batu dan loyang yang berkeping-keping. Ada juga yang tercat pada batu besar di lereng gunung.

Tetapi dari tulisan itu, sedikit saja atau bahkan setengahnya, hingga saat ini belumlah terfahami artinya.

Selain itu, terdapat banyak dongeng dan syair dari zaman dulu. Tetapi tiada tersinkronisasi secara jelas dengan ilmu pengetahuan. Sebab dalam cerita itu diriwayatkan dewa-dewa Hindu dan orang yang sakti, seperti Arjuna dan Kresyna dan Bima.

Terdapat satu cerita Jawa, namanya Baron Sakendar. Dalam cerita itu tersebutlah hikayat Mur Jang Kun, yaitu Gouverneur-General Yan Pieterszoon Kun, maka hikayat itu begitu berbumbu-bumbu. Sehingga berlainan sekali dengan hikayat Tuan Besar Are, yang ditulis oleh orang Belanda.

Maski pun hikayat yang lama, seperti babad belum jelas kebenarannya. Tetapi tidak ada tulisan di masa lalu yang lainnya. Sehingga, dibawah ini diriwayatkan beberapa kerajaan Hindu sepanjang babad Jawa itu.

Alkisah, maka tersebutlah perkataan seorang orang Hindu, yang bernama Aji Saka. Ia membunuh raja di Mendang Kamulan dengan tipu daya. Maka raja itu, raksasa serta biasanya, telah memakan pedagang, yang masuk ke dalam negerinya.

Kemudian Aji Saka menjadi raja di sana. Agar pemerintahannya baik, dihaluskannya adat anak buahnya, dan diajarkannya tarikh Hindu dan huruf Jawa.

Adapun kerajaan Mendang Kamulan tiada tentu tempatnya. Entah keraton Aji Saka di Blora, entah pula di Prambanan.

Setelah kerajaan Mendang Kamulan hilang, maka ada pula beberapa kerajaan yang berturut-turut. Yakni; kerajaan Ngastina di gunung Dieng, kerajaan Daha di Madiun, kerajaan Jenggala di Sida-arja.

Hatta, maka Raja Jenggala; yang amat mashyur Lembu Hamiluhur Namanya. Pada masa kecilnya ia belajar di Hindustan.

Maka puteranya bernama Panji Ina Kerta Pati. Dan menjadi awal beberapa cerita wayang.

Candi Plaosan Lor dengan latar Gunung Merapi. (credits: Wiki Commons/amira.co.id)

Ia dipuji amat sangat karena beraninya dan kepandaiannya dan bijaksananya yang tiada berhingga. Pada akhirnya ia mati kena tombak dalam perang dengan orang Madura.

Syahdan, setelah kerajaan Jenggala habis binasa oleh banjir dan gempa, maka raja berangkat ka tanah Jawa sebelah barat, lalu di dirikannya karajaan Pejajaran; keratonnya di negeri Giling-Wesi dekat Cianjur.

Maka kata sahibu’l hikayat, terdapat seorang anak raja di Pejajaran, Raden Tanduran Namanya. Maka ia pun dihalau oleh adiknya.

Pada suatu saat, Raden Tanduran bertemu dengan seorang orang bertapa. Orang itu memberi nasehat kapadanya, “Jika Tuanku menjumpai buah maja yang pahit rasanya, sebaiknya Tuanku membuat kota di sana. Niscaya kota itu akan menjadi mashur di seantero bumi.”

Lalu pada suatu hari Raden Tanduran duduk di bawah pohon kayu, sambil memakan buah maja. Kebetulan buah itu pahit rasanya.

Sehingga Raden Tanduran, terkenang akan perkataan orang bertapa itu, lalu disuruhnya pengiringnya membuat keraton di sana. Selanjutnya, keraton itulah menjadi awal Majapahit.

Syahdan, dalam babad itu pun diceritakan, bahwa Majapahit dibangunkan pada tahun 1300. Namun, pada zaman ini didapati orang sakeping loyang yang bertulis, bahwa “Maharaja Majapahit menganugerahkan sebidang tanah kepada saorang menteri pada tahun 840.”

Sehingga, kesimpulannya, Majapahit didirikan terlebih daluhu, lebih lama dari tahun 1300.

Hingga saat ini, masih terdapat bekas-bekas keraton dan candi Majapahit dekat desa Maja-agung di kabupaten Maja-kerta.

Meskipun berjuta-juta batu temboknya telah diambil orang untuk membuat rumah ibadah dan pabrik gula dan rumah dan jalan. Tetapi saat ini terdapat di sana beribu-ribu juta batu terserak-serak pada sebidang tanah yang amat luas.

Keraton Maharaja memiliki tembok setinggi 30 kaki, dan, 100 kilometer persegi. Istana yang berada di tengah-tengah, memiliki tinggi 40 kaki tingginya.

Terdapat sekitar 300 manteri dan hulubalang, bersama-sama dengan anak isterinya dan anak buahnya dan hambanya, yang berdiam di dalam keraton itu.

Hana Caraka. (credits: Wiki Commons)

Selain keraton raja terdapat pula beberapa keraton sanak saudara raja.

Maharaja memerintah ibu kota dengan daerahnya saja. Sedangkan selebihnya dibagi atas beberapa bahagian. Masing-masing beraja (bupati) sendiri-sendiri.

Maka bupati itu berkewajiban menghadap Maharaja dan menghantar upeti sekali dalam setahun. Dan para bupati berkewajiban membantu Maharaja dalam perang.

Adapun orang besar-besar dan hulubalang dan menteri tidak digaji. Melainkan dianugerahi Maharaja sebidang tanah.

Tanah itu dikerjakan oleh anak buahnya. Maka orang yang ditugasi itu adalah sama halnya dengan bekerja untuk negeri itu. Serta wajib mempersembahkan sebagian hasil sawah ladangnya kepada tuannya.

Orang negeri dikampungkan oleh kepalanya.

Panewu untuk kepala kampung umpulan dengan 1.000 cacah (jiwa). Panatus untuk 100 cacah. Paneket untuk 50 cacah, dan, Panglawe untuk yang 25 cacah.

Sehingga, nama-nama kepala kampung itu pun masih digunakan di Solo dan di Jogya.

Demikianlah pemerintahan dalam segala kerajaan Hindu serta dalam kerajaan Islam, yang didirikan kemudian, di pulau Jawa.

Sebermulanya, maka dalam raja-raja Hindu di tanah Hindia tidak ada yang lebih besar dan mulia daripada Raja-Raja Majapahit. Armadanya, baik kapal perang, ataupun kapal niaga berlayar hingga ke Hindustan dan benua Cina.

Jika orang Majapahit singgah di tanah yang asing, maka acap kali dibuatnya kampung di sana. Diantara kampung itu ada yang menjadi bandar yang ramai. Karena itulah, jajahan Majapahit bertambah luasnya.

Syahdan, maka tanah dan pulau yang takluk kepada Maharaja di Majapahit, yaitu tanah Jawa tengah dan timur, pulau Bali, Selaparang (pulau Lombok), pulau Sumbawa, pulau-pulau Riau dan Lingga, Jambi, Inderagiri, Palembang, Pasai (telock Semawe) pantai pulau Brunai, pulau Banda, pulau Serang (Ceram) dan pulau Ternate.

Dalam hikayat Melayu diceriterakan, bahwa Singapura pada masa itu amat ramai. Negeri itu dibinasakan oleh rakyat Majapahit, serta Raja Singapura, Seri Iskandar Syah lari menyeberang selat Singapura, lalu mendirikan Malaka.

Setelah beberapa lama, maka Malaka menjadi ramai, sehingga pedagang banyak berpindah ke sana, terutama kampung Jawa di Malaka amat luas.

Hatta, maka pada abad ke-14 di pulau Perca tengah, terdapat sebuah karajaan Hindu. Namun, mungkin saja, rajanya takluk kepada raja Jawa sebelah barat.

Menurut batu bersurat, yang sekarang berada di Tanah Datar, terdapat serang raja, yang bernama Aditia Warman. Adapun karajaan itu pun diserang oleh balatentara Majapahit.

Setelah kedua belah pihak berperang sekian lama, maka ditentukan oleh orang Melayu dan orang Jawa, bahwa diadunya kerbau dua ekor, maka bangsa orang itulah pemenangnya. Yang kerbaunya mengalahkan kerbau yang lain.

Akhirnya, kerbau orang Melayu menang, lalu orang Jawa pulang ke negerinya. Kabarnya orang karajaan Melayu itu pun sejak masa itu dinamai karajaan Menangkabau atau Minangkabau.*

*Dinukil dan disesuaikan ejaannya tanpa mengurangi arti, dari buku “Enam Belas Ceritera Pada Menyatakan Hiakyat Tanah Hindia” tahun 1894.

Share:
avatar

Redaksi