Baru Klinthing Rawa Pening
Resonansi
January 6, 2026
Jon Afrizal/Semarang, Jawa Tengah

Danau Rawa Pening. (credits: Wiki Commons)
Danau Rawa Pening dengan luas 2.670 hektare, meliputi Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru, di Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Danau ini berada di cekungan terendah antara tiga gunung; Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran.
RAWA Pening terletak di cekungan vulkanik Ambarawa, terbentang antara Ambarawa dan Salatiga. Rawa Pening diperkirakan telah terbentuk antara 18.000 dan 13.500 SM, setelah periode peningkatan curah hujan. Danau yang arti harfiahnya adalah “rawa berair bening” ini mencapai ukuran terbesarnya pada tahun 11.000 SM hingga 9.000 SM, tetapi sekitar 6.000 SM mengalami penyusutan hingga mencapai ukuran saat ini.
Bicara tentang Rawa Pening, terkait dengan folklore tentang Baru Klinting. Dalam persaksian masyarakat lokal, ketika malam hari, sering terdengar bunyi klinting (: sejenis lonceng) yang nyaring di Rawa Pening, tapi tidak diketahuui sumber suaranya.
Mengutip folklore lokal yang dituliskan kembali oleh Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, sepasang suami-istri; Ki Hajar dan Nyai Selakanta bertempat tinggal di desa Ngasem yang berada di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo. Namun, mereka belum memiliki seorang anak pun.
“Istriku, mengapa engkau terlihat sedih?” tanya Ki Hajar kepada Nyai Selakanta, pada suatu hari.
Nyai Selakanta yang saat itu sedang duduk bermenung sendirian di depan rumah mereka terkejut dengan pertanyaan suaminya, yang datang tiba-tiba dari arah samping rumah, dan langsung duduk di sampingnya.
Nyai Selakanta yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Lalu, Nyai Selakanta berkata, “Aku hanya merasa kesepian, terlebih jika engkau sedang pergi. Jika saja di rumah kita ini selalu terdengar suara tangis dan rengekan seorang bayi, tentu hidup kita tidaklah sesepi ini.”
Terdengar Ki Hajar menghela nafas panjang.
Nyai Selakanta melanjutkan pembicaraannya, “Sejujurnya, aku ingin sekali mempunyai anak. Aku ingin merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.”
“Mungkin, belum waktunya Tuhan memberi kita anak. Yang penting kita harus berusaha dan terus berdoa kepada-Nya,” kata Ki Hajar.
Air mata pun menetes dari empat pasang mata. Tangis kerinduan untuk mendapatkan seorang anak.
Untuk mewujudkan impian keduanya, maka Ki Hajar meminta izin kepada Nyai Selakanta untuk bertapa lereng Gunung Telomoyo. Dan, sekali lagi, Nyai Selakanta seorang diri dengan hati yang semakin sepi.

Ilustrasi Klinting. (credits: blibli)
Hari berganti pekan, bulan berlalu berganti tahun. Ki Hajar belum juga pulang ke rumah mereka di Desa Ngasem.
Dalam suasan hati yang diliputi kecemasan terhadap nasib Ki Hajar, Nyai Selakanta merasa mual dan kemudian muntah-muntah. Ia pun hamil. Semakin hari perutnya semakin membesar.
Setelah tiba saat melahirkan, ia terkejut, karena yang dilahirkannya bukanlah seorang anak manusia, melainkan seekor naga.
Seekor naga itu ia beri nama: Baru Klinthing. Nama ini diambil dari nama tombak milik Ki Hajar.
Kata “Baru” berasal dari kata bra yang artinya adalah: keturunan Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pandhita. Sementara kata “Klinthing” berarti sejenis lonceng, yang digunakan di leher Baru Klinthing.
Meskipun berwujud naga, Baru Klinthing dapat berbicara seperti manusia, dan membuat Nyai Selakanta terheran-heran. Namun, Nyai merasa kecewa, karena merasa malu, bahwa ia melahirkan seekor naga.
Untuk menutupinya, Nyai pun berniat mengasingkan Baru Klinthing ke Bukit Tugur di lereng Gunung Telomoyo.
Sebelum masa pengasingan itu, Nyai tetap merawat Baru Klinthing, agar kelak ia kuat menempuh perjalanan menuju ke Bukit Tugur yang jaraknya cukup jauh dari Desa Ngasem.
Setelah Baru Klinthing remaja, ia pun bertanya kepada Nyai Selakanta.
“Siapakah ayahku,” tanya Baru Klinthing, dan membuat Nyai Selakanta tersentak.
Meskipun, kemudian ia berkata, “Ayahmu bernama Ki Hajar. Tapi, ayahmu saat ini sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Pergilah temui dia, dan katakan padanya bahwa engkau adalah putranya,” kata Nyai.
Nyai Selakanta pun melanjutkan, “Bawalah pusaka tombak Baru Klinthing ini sebagai bukti bahwa engkau adalah anaknya.”
Selanjutnya, berjalanlah Baru Klinthing menuju lereng Gunung Telomoyo. Sesampai di sana, kaki-kakinya menuju ke sebuah gua, dan mendapati seorang laki-laki sedang duduk bersemedi. Laki-laki itu adalah Ki Hajar.
Ki Hajar yang terusik ketenangan pertapaaanya pun bertanya. “Siapa engkau?”
“Maafkan aku. Aku adalah Baru Klinthing, anakmu,” jawab Baru Klinthing.

Ilustrasi Naga Baru Klinthing. (credits: Kemendikbudristek)
Belum hilang keterkejutan Ki Hajar yang terkesima melihat seekor naga dapat berbicara bahasa manusia, dan kini mengaku sebagai anaknya. Lalu, Baru Klinthing pun menunjukan pusaka Baru Klinthing kepada Ki Hajar, sesuai pesan Nyai Selakanta.
“Baiklah, aku percaya jika pusaka Baru Klinthing itu adalah milikku. Tapi, bukti itu belum cukup bagiku. Jika kamu memang benar-benar adalah anakku, coba engkau melingkari Gunung Telomoyo ini,” kata Ki Hajar.
Baru Klinthing pun melaksanakan perintah itu untuk meyakinkan Ki Hajar. Lalu, ia pun melingkari Gunung Telomoyo.
Keyakinan Ki Hajar telah bulat. Selanjutnya, ia memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur. Ini dengan tujuan agar tubuh naganya berganti wujud menjadi manusia.
Tersebutlah sebuah desa bernama Pathok. Kala itu, desa yang makmur dengan penduduk yang angkuh ini akan mengadakan merti dusun (: sedekah bumi setelah panen).
Untuk tujuan itu, maka para warga berburu binatang di Bukit Tugur. Namun, setelah hampir seharian mereka berburu, tidak satu pun binatang yang tertangkap.
Ketika hendak kembali ke desa, tiba-tiba warga melihat seekor naga, yang tidak lain adalah Baru Klinthing yang sedang bertapa. Mereka pun menangkap dan mencincang daging naga itu lalu membawanya pulang. Setiba di desa, daging naga itu mereka masak untuk dijadikan hidangan dalam pesta.
Ketika para warga sedang berpesta, datanglah seorang anak laki-laki yang tubuhnya penuh dengan luka sehingga menimbulkan bau amis, yang adalah penjelmaan Baru Klinthing. Baru Klinthing yang kelaparan meminta makanan kepada warga. Tetapi, tidak satu warga yang mau memberi makan.
“Pergilah, jangan mengemis di sini. Tubuhmu bau amis sekali,” kata warga.
Baru Klinthing yang terusir, dengan perut kelaparan berjalan hendak meninggalkan desa. Namun, di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung.
Nyi Latung pun mengajak Baru Klinthing ke rumahnya. Nyi Latung segera memberinya makanan.
“Terima kasih, Nyai. Ku pikir seluruh isi desa adalah manusia-manusia sombong saja. Tetapi aku salah, ternyata masih ada warga yang baik hati di desa ini,” kata Baru Klinthing.
Nyi Latung menceritakan bahwa, memang, warga-warga di desa ini memiliki sifat angkuh. Mereka pun tidak mengundang Nyi Latung karena mereka merasa jijik melihatnya.
“Mereka harus diberi pelajaran,” kata Baru Klinthing.
Baru Klinthing melanjutkan, “Jika nanti engkau mendengar suara gemuruh, segeralah siapkan lesung.”
Lesung (: lumpang) adalah alat untuk menumbuk padi.
Kemudian, Baru Klinthing kembali ke area merti dusun, dengan membawa sebatang lidi. Setiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi itu ke tanah.
Ia pun menantang warga, “Jika kalian telah merasa hebat, maka cabutlah lidi yang ku tancapkan ini.”
Satu per satu, warga yang merasa diremehkan berebut hendak mencabut lidi itu. Tapi tak seorang pun yang berhasil.
“Mencabut lidi saja tidak bisa. Maka, jangan sombong,” kata Baru Klinthing.
Segera setelah Baru Klinthing mencabut lidi itu, terdengar suara gemuruh yang menggentarkan seluruh isi desa. Yang disambung dengan air yang menyembur keluar dari bekas tancapan lidi itu.
Semakin lama, semburan air semakin besar.
Banjir besar pun terjadi, dan seluruh warga berusaha menyelamatkan diri.
Terlambat, banjir telah menenggelamkan mereka semua. Desa itu pun berubah menjadi rawa (danau), yang kini dikenal dengan nama: Rawa Pening.
Setelah mencabut lidi, Baru Klinthing segera berlari menemui Nyi Latung yang telah menunggu di atas lesung, yang berubah fungsi menjadi perahu. Nyi Latung pun terselamatkan dari banjir besar.
Setelah peristiwa itu, Baru Klinthing kembali menjadi naga, untuk menjaga Rawa Pening.
Maka, jika di malam hari terdengar bunyi klintingan di Rawa Pening, itu adalah tanda dari Baru Klinthing. Tanda pengingat bagi sesiapa saja tentang sikap rendah hati, yang jauh dari kesombongan.*
