Siaga Anak Krakatau

Lingkungan & Krisis Iklim

September 7, 2026

Farokh Idris

Erupsi Anak Krakatau pada tahun 2010. (credits: Volcano Discovery)

“Hari Ahad nyatalah tentu

Pukul empat jam di situ

Berbunyi guruh menderu-deru

Dikatakan kapal apinya itu”

[Muhammad Saleh; “Syair Lampung Karam”]

ANAK Krakatau terbentuk dari erupsi katastrofis pada tanggal 26 hingga 28 Agustus 1883 yang menghancurkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau (813 mdpl), dan meninggalkan lubang kaldera raksasa di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Setelah itu, aktifitas vulkanik terus berlanjut di dasar laut dalam kawasan kaldera itu.

Pada tahun 1927, material vulkanik mulai muncul ke permukaan laut dan akhirnya melahirkan pulau yang dinamakan Anak Krakatau. Pertumbuhan itu terus berlanjut, atau dapat disebut bahwa Anak Krakatau sedang dalam fase konstruksi membentuk tubuh gunung.

Anak Krakatau terus aktif dan bertambah tinggi maupun besar akibat material erupsi yang terus keluar secara berkala.

Setiap tahunnya, mengutip Jurnal Geologi Indonesia, estimasi percepatan pertumbuhan rata-rata Gunung Api Anak Krakatau adalah empat meter per tahun. Terhitung sejak pertumbuhan di tahun 1930 sampai dengan tahun 2005, tinggi puncak Gunung Api Anak Krakatau dari adalah 315 mdpl.

Pada pengukuran tahun 2000, volume tubuh Anak Krakatau adalah 5,52 kilometer kubik.

Yang patut digarisbawahi, adalah, bahwa kegiatan letusan Gunung Api Anak Krakatau dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2001 terjadi hampir setiap hari. Sehingga dalam sembilan tahun, Gunung Api Anak Krakatau bertambah tinggi lebih dari 100 meter, dengan penambahan luas area seluas 378.527 milimeter.

Sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi, dan hingga Minggu (6/9) erupsi masih terjadi. Gunung Api tipe A ini berstatus Level III (Siaga), pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB.

Mengutip laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), aktifitas erupsi Gunung Anak Krakatau disertai suara gemuruh (dentuman) serta fenomena lava fountain.

Berdasarkan pemutakhiran status operasional bandara pada Minggu (6/9) pukul 07.41 WIB, empat bandara mengalami penutupan sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan, yakni Bandara Soekarno-Hatta (CKG), Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Bandara Radin Inten II (TKG), dan Bandara Budiarto (BTO).

Erupsi Anak Krakatau pada bulan November 2018. (credits: Volcano Discovery)

Aktifitas erupsi yang berlangsung saat ini adalah kelanjutan dari peningkatan aktifitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB terjadi erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam tebal bergerak ke arah barat laut. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 23 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 20 detik.

Gunung Krakatau, dalam bahasa Melayu disebut “Kelakatu”. Artinya adalah semut bersayap putih, seperti bentuk yang terlihat pada peta.

Anak Krakatau terletak di Selat Sunda, selat antara Pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dan menjadi bagian dari Cincin Api Pasifik.

Mengutip The Independent, kekuatan letusan Gunung Krakatau pad atahun 1883 menciptakan suara paling keras yang pernah tercatat. Letusan itu terdengar hingga 4.653 kilometer di Pulau Rodriguez di Samudera Hindia, dan sekitar 4.800 kilometer di Alice Springs.

Pun menyebabkan terjadinya sebanyak tujuh kali gelombang kejut di seluruh dunia, dengan perkiraan kekuatan ledakan adalah sekitar 10.000 kali lebih besar dari bom hidrogen yang dijatuhkan di Hiroshima pad Perang Dunia Kedua.

Erupsi Anak Krakatau pada bulan Juli 2009. (credits: Volcano Discovery)

Letusan Gunung Api Krakatau 1883 telah menewaskan 36.000 orang. Sedangkan orang-orang yang berhasil selamat, berjuang untuk mengatasi tsunami, letusan lebih lanjut dan awan abu yang panas panas.

Sementara Anak Krakatau, runtuhan sektor berskala besar pada tubuh gunung api ini terjadi pada tanggal 22 Desember 2018, dan memicu tsunami di Selat Sunda, dengan gelombang setinggi hingga lima meter yang menghantam daratan. Tsunami ini berdampak hingga 300 kilometer dari garis pantai di Sumatra dan Jawa.

BNPB pada tanggal 31 Desember 2018 menyatakan bahwa 437 jiwa meninggaldunia, dan 14.059 orang mengalami luka-luka. Serta, 40.000 orang mengungsi.

Saat awal September 2026 ini, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik dihimbau untuk tetap tenang dan tidak panik. Sedangkan masyarakat yang beraktifitas di luar ruangan agar menggunakan masker dan pelindung mata, terutama ketika terjadi hujan abu atau konsentrasi abu meningkat.

Masyarakat diminta mengurangi aktifitas di luar rumah apabila sebaran abu meningkat, menutup sumber air dan makanan agar tidak terkontaminasi abu, serta membersihkan abu vulkanik dengan memperhatikan keselamatan.

Sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat pun tidak diperkenankan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi. Nelayan, wisatawan dan pengguna kapal tradisional juga diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan gunung api yang masuk dalam radius bahaya.

Bagi masyarakat yang merasakan suara dentuman atau getaran, tetap tenang dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau dapat diperoleh melalui BNPB, PVMBG/Badan Geologi, MAGMA Indonesia dan BPBD setempat.*

Share:
avatar

Redaksi