Tanggap Darurat Gunung Semeru Diperpanjang

Daulat

November 27, 2025

Mahendra Wisnu

Kondisi Gunung Semeru pada tanggal 25 Desember 2025. (credits: PVMBG-BG-KESDM)

GUNUNG Semeru, dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Selasa (25/115) pukul 04.45 WIB. Erupsi disertai kolom abu setinggi kurang lebih 800 meter di atas puncak, atau sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut.

“Kolom abu tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, condong ke arah utara. Aktivitas ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi erupsi sekitar 1 menit 59 detik,” kata petugas Pos Pengamatan Gunungapi Semeru di Gunung Sawur, Mudkas Sofian, mengutip Pemkab Lumajang, Selasa (25/11).

Mudkas Sofian mengatakan, peningkatan aktivitas ini telah terpantau sejak dini melalui sistem pemantauan visual dan instrumental. Seluruh data pemantauan diperbarui secara real time, untuk mendukung langkah mitigasi.

“Status Gunung Semeru masih berada di Level IV (: Awas). Kami minta masyarakat  di sekitar lereng Semeru benar-benar mematuhi seluruh rekomendasi resmi. Sebab ini bukan soal jarak di peta, tapi soal keselamatan,” katanya.

Dalam status Level IV (Awas) ini, katanya, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 kilometer dari puncak. Serta menjauhi radius 8 kilometer dari kawah karena potensi lontaran batu pijar.

Warga juga dihimbau mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar yang dapat sewaktu-waktu melintas di sepanjang sungai-sungai berhulu di puncak Semeru. Seperti; besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, dan anak sungainya.

Menurutnya, upaya mitigasi dilakukan melalui kesiapsiagaan posko darurat, pemantauan jalur evakuasi, dan koordinasi lintas instansi untuk memastikan setiap perubahan aktivitas gunung dapat direspons dengan cepat dan tepat.

“Dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk tetap tenang, memantau informasi resmi, dan tidak terpancing kabar tidak benar menjadi faktor penting yang membantu mengurangi risiko,” katanya.

Tim lapangan, katanya, bekerja siaga penuh 24 jam per hari. Sebab, Semeru ini aktif, dan tugas tim adalah memastikan masyarakat mendapatkan informasi paling akurat agar dapat mengambil langkah aman.

Banjir lahar letusan Gunung Semeru, pada 4 Desember 2021. (credits: BNPB)

“Status tanggap darurat erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, resmi diperpanjang hingga 2 Desember 2025,” kata Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengutip Antara, Selasa (25/11).

Meski status sebelumnya telah berakhir, tetapi material erupsi dan ancaman gangguan lingkungan masih memengaruhi kehidupan masyarakat. Dan, mengingat, bahwa berdasarkan Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/610/KEP/427.12/2025, upaya penanggulangan darurat harus tetap dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu.

Sehingga, perpanjangan status tanggap darurat ini, katanya, adalah sebagai upaya untuk memastikan perlindungan maksimal dan kelancaran penanganan dampak bencana bagi masyarakat.

Perpanjangan yang berlaku sejak tanggal 26 November 2025, katanya, menjadi dasar hukum bagi perangkat daerah, terutama BPBD, untuk melanjutkan penanganan darurat, pemulihan infrastruktur, serta perlindungan bagi warga terdampak.

Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi sejak erupsi yang terjadi pada Rabu (19/11), dengan memuntahkan abu setinggi 2.000 meter dan awan panas hingga sejauh 7 kilometer.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pada Senin (24/11); tiga warga mengalami luka berat akibat terdampak material vulkanik. Selain lahan pertanian seluas 204,63 hektare rusak, 21 rumah rusak berat, serta masing-masing satu fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan gardu PLN yang juga rusak berat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengutip Kompas, mengatakan bahwa kerusakan terparah terjadi di Desa Supiturang dan Oro-oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo. Serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro—seluruhnya berada di jalur langsung muntahan material vulkanik.

Tercatat sebanyak 528 warga mengungsi hingga Minggu (23/11). Mereka ditempatkan di dua titik pengungsian resmi: SMP Negeri 02 Pronojiwo (307 jiwa) dan SDN 04 Supiturang (221 jiwa). Meski berada di lokasi pengungsian, aktivitas warga tetap berlangsung sebagaimana biasa.

Gunung Semeru. (credits: Wiki Commons)

Gungung Semeru berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Sejak erupsi tahun 2021, akses pengunjung menuju ke Gunung Semeru dibatasi.

Letusan tertua yang tercatat terjadi pada tahun 1818. Sejak saat itu, letusan besar telah terjadi, yakni pada tahun 1941, 1942, 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955–1957, 1958, 1959, 1960, 1977, dan 1978 hingga 1989.

Letusan kecil terjadi pada Januari 2021 terjadi. Lalu terjadi letusan 4 Desember 2021, sebagai rangkaian letusan eksplosif di gunung berapi itu sejak tahun 2014.

Pada letusan Gunung Semeru tanggal 29 Agustus 1909, aliran piroklastik dan lava menghancurkan 38 pemukiman, dan 600 hingga 800 hektare lahan pertanian. Letusan ini merenggut 208 korban jiwa.

Sejak letusan 1909 itu, sebagian besar aktivitas letusan gunung berapi terbatas pada letusan strombolian kecil. Letusan pada tahun 1994 menyebabkan kematian tiga orang.

Sementara letusan Gunung Semeru pada tanggal 4 Desember 2021 menewaskan setidaknya 57 orang, dan 22 orang hilang. Sebanyak 45 orang mengalami luka bakar karena letusan itu.

Jembatan Gladak Perak, jembatan penghubung jalur selatan antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang terputus akibat diterjang lahar dingin letusan gunung Semeru. Aliran piroklastik dan lahar merusak sedikitnya 5.205 rumah dan beberapa bangunan umum.

Gunung Semeru adalah gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia. Setelah Gunung Kerinci (3805 mdpl) dan Rinjani (3726 mdpl).

Gunung Semeru ini memiliki tiga danau. Yakni; Ranu Kumbolo, Ranu Pani, dan Ranu Regulo. Dari ketiganya, yang paling terkenal adalah Ranu Kumbolo.*

avatar

Redaksi