“Jeme Gumai” Di Hulu Sungai Lematang

Budaya & Seni

May 25, 2026

Jon Afrizal

Tugu Simpang Empat Pasar Lematang, Kabupaten Lahat. (credits: Pesona Lahat)

Asal usul Suku Gumai tidak terlepas dari mitologi. Mitologi Gumai, menjelaskan bahwa nenek moyang mereka adalah bernama: “Diwe Gumai” yang turun dari Gunung Segungtan.

GUMAI adalah satu suku di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Anak keturunan mereka, yang berada dalam satu teritori, terdiri dari tiga marga. Yakni; Gumay Lembak, Gumay Ulu, dan Gumay Talang.

Suku Gumai sendiri satu rumpun dengan beberapa suku lainnya, seperti; Pasemah dan kaum kerabat atau klan atau marga Semidang. Suku Gumai adalah pendatang di pemukiman Hulu Sungai Lematang.

Mengutip “Kabupaten Lahat Dalam Angka 2025” keluaran BPS, jumlah penduduk Kabupaten Lahat pada akhir tahun 2024 sebanyak 448.141 jiwa. Penduduk Kabupaten Lahat, mengutip Pemkab Lahat, awalnya terdiri dari beberapa sumbai dan suku. Yakni; Gumay, Lematang, Pasemah, Lintang, Tebing Tinggi, dan Kikim.

Jika mengacu ke era pemerintahan kolonial Belanda, maka Lahat adalah terdiri dari tiga afdelling. Yakni; Lematang Oeloe, Lematang Ilir, dan, Pasemah Landen. Ketiga afdelling ini, pada tahun 1869, yang dipimpin oleh Asisten Residen PP Du Cloux, yang berkedudukan di Lahat. Afdelling ini berada di bawah Keresidenan Palembang.

Setiap anak keturunan dari Suku Gumai, terkadang disebutkan pula dengan kata “Gumay”, akan menempatkan kata “Gumay” di belakang namanya. Ini, tentunya, adalah penghormatan terhadap tradisi dan juga leluhurnya. Semisal, seseorang yang bernama “Iskandar”, kemudian, akan secara lengkap bernama “Iskandar Gumay”.

Hampir sama dengan banyak suku di Nusantara, asal usul Suku Gumay tidak terlepas dari mitologi. Mitologi Gumay, menjelaskan bahwa nenek moyang mereka adalah bernama: “Diwe Gumai”.

Dalam mitologi kebudayaan megalitik Besemah (Pasemah), terdapat tiga dewa yang menjadi puyang (nenek moyang) Orang Basemah. Yakni; Dewa Gumay, Dewa Semidang, dan, Dewa Atung Bungsu.

Kata “Diwe” dalam bahasa Lematang, berasal dari kata “dewa” (Sankrit) pada kebudayaan Hindu-Bhudda. Kata Diwe disini, merujuk pada Dewa atau entitas spiritual yang memiliki kekuatan sakti dalam kepercayaan lokal.

Diwe Gumay, menurut folklore Suku Gumay, adalah, sosok magis yang turun dari Gunung Segungtan di Palembang pada malam bulan purnama. Demikian mengutip Minako Sakai dalam buku berjudul buku “Sharing the Earth, Dividing the Land”.

Bukit Serelo (900 mdpl) dan Sungai Lematang di Kabupaten Lahat, sekitar tahun 1933. (credits: Wikimapia)

Dalam kasanah Sumatra lama, kata “Bukit” dan “Gunung” kerap bercampurbaur dan diartikan sama. “Gunung” adalah “Bukit”. Begitupula sebaliknya.

Yang dimaksud dengan Gunung Segungtan adalah mengacu pada situs Bukit Siguntang yang terletak di Kelurahan BukitLama, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Mengutip Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, Bukit Siguntang pada awal-awal masehi pemah menjadi titik penting perkembangan kebudayaan klasik Hindhu-Buddha, ketika masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7 M.

Selanjutnya, anak keturunan Diwe Gumai kemudian menyebar di sepanjang sistem sungai, yang mereka sebut dengan nama: Batang Hari Sembilan.

Terdapat tiga kelompok utama Gumai di Kabupaten Lahat. Yakni; Gumai Ulu, Gumai Lembak dan Gumai Talang.

Jeme (: orang) Gumai, memiliki aturan sosial yang sangat kompleks. Setiap pewaris laki-laki, yang mewakili penerus paling otentik dari nenek moyang pendiri dalam hal hubungan silsilah disebut dengan sebutan: Jurai Kebali’an.

Lalu, masing-masing anak cucu, kemudian mendirikan dusun. Pendiri dusun, yang adalah keturunan dari Diwe Gumai, disebut dengan nama: Puyang Ketunggalan Dusun.

Dan selanjutnya, persebaran anak keturunan Puyang Ketunggalan Dusun telah pula membentuk Jungkuk.  Yakni subkelompok yang kemudian dapat disebut sebagai dusun yang lebih kecil. Pemimpin dari setiap Jungkuk disebut Jurai Tue.

Namun, keberadaan Suku Gumay dan suku-suku lainnya di dataran tinggi Sumatra Selatan, sebenarnya, dapat dirujuk lebih lama lagi, bahkan hingga ke era budaya Megalitikum (: batu besar). Yakni jaman prasejarah, disaat manusia menciptakan berbagai monumen dan bangunan yang tersusun dari batu-batu berukuran masif, yang berfungsi sebagai sarana pemujaan roh nenek moyang serta tempat ritual.

Terdapat, mengutip RMOL Sumsel, situs megalitik yang tersebar di 16 kecamatan dari 24 kecamatan di Kabupaten Lahat.

Di artikel ini, dapat disebutkan empat bentangan situs Batu Besar di Kabupaten Lahat. Yakni; Situs Tinggihari, Situs Tanjung Telang, Situs Batu Betangkup, dan Situs Batu Putri.

Maka, jika dinyatakan bahwa adanya Jeme Gumay, adalah sejak mitologi Gunung Segungtan, tentunya, harus ditarik lagi hubungannya dengan banyaknya situs-situs, yang menandakan kebudayaan mereka telah ada lebih lama dari yang tersebutkan dalam mitologi lokal. Yang, jika merunut kepada teori dari Robert von Heine Geldern, arkeolog dari Austria, kebudayaan yang berusia antara rentang tahun 1.000 hingga 2.500 Sebelum Masehi (SM).

Mengutip laman Kemendikdasmen, Bahasa Lematang adalah bahasa asli di Provinsi Sumatra Selatan. Bahasa Lematang terdiri dari lima dialek, yakni; Pegagan, Lematang Lahat, Lematang Ujan Mas Lama, Rambutan, dan, Rambang.

Situ megalitik Tinggihari, di Kabupaten Lahat, sekitar tahun 1933. (credits: Tropen Museum)

Bahasa Lematang, menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, berstatus: terancam punah.

Suku Gumai menggunakan Bahasa Lematang. Yakni bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang berada di satu aliran sungai: Sungai Lematang.

Sungai Lematang dengan panjang 244 kilometer, memiliki Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 7.380 kilometer persegi. Sungai Lematang melewati tiga kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Yakni; Kabupaten Lahat, Muara Enim dan Musi Bayuasin. Sungai Lematang bermuara ke Sungai Musi.

Jon Afrizal dalam buku berjudul “Debalang Rimbo; Kosmologoi Orang Batin Sembilan” menyebutkan bahwa, kata “Batang Hari Sembilan” kerap dinyatakan sebagai sembilan anak sungai dari Sungai Musi. Kesembilan anak sungai itu, adalah; Klingi, Bliti, Lakitan, Rawas, Rupit, Lematang, Leko, Ogan, dan, Komering.

Dalam buku Jon Afrizal ini juga dapat menjadi perbandingan, tentang mitologi dari Orang Batin Sembilan menyebutkan bahwa asal usul komunal ini yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, adalah, Puyang Semikat yang merantau dari Palembang, mengikuti arus Sungai Musi. Dimana nama Puyang Semikat lebih dekat kepada mitologi Dewa Semidang.

Dan, patut juga menjadi catatan, bahwa persebaran Orang Besemah, adalah juga hingga ke perbatasan Provinsi Jambi saat ini.

Namun, juga dibutuhkan pembuktian lanjutan tentang nama “Batang Hari Sembilan”. Sebab kata “Musi” tentu saja berbeda dengan kata “Batang Hari”.

“Batang Hari” lebih merujuk ke prasa “batang air” dalam kasanah Sumatra lama, yang artinya adalah “aliran air” atau “air yang mengalir”.

Sementara, kata “Musi” lebih merujuk kepada penamaan yang berasal dari Bahasa Tionghoa, yakni “Mu Ci”. Yang berarti: Dewi Ayam Betina, yakni dewi keberuntungan.

Secara ilmu bahasa, sehingga, sangat rumit untuk mempersandingkan kata “Batang Hari” dan “Musi.

“Batang Hari” adalah nama sungai yang melintasi sejak dari Provinsi Sumatra Barat hingga ke Provinsi Jambi. Secara geografis dan hidrologis, Sungai Batanghari dan Sungai Musi tidak terhubung secara langsung sebagai satu aliran air yang saling menyatu.

Masing-masing sungai adalah DAS yang terpisah, dan juga memiliki muara yang berbeda.

Sungai Batanghari yang memiliki panjang sekitar 800 kilometer, berhulu di Gunung Rasan Pesisir Selatan Provinsi Sumatra Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera, yakni Selat Berhala dan/atau Laut Cina Selatan.

Sedangkan Sungai Musi dengan panjang sekitar 720 kilometer berhulu di Bukit Kelam di Curup Provinsi Bengkulu, dan bermuara di Selat Bangka.

Terkait dengan persoalan nama sungai, akan dibahas di artikel yang lain.

Di era lampau, dikisahkan, bahwa di setiap dusun di dataran tinggi Sumatera Selatan, terdapat sebuah rumah kecil yang berada tepat di tengah-tengah dusun. Rumah kecil itu biasa disebut “Lunjuk” atau “Rumah Puyang”.

Rumah kecil ini digunakan sebagai tempat untuk melakukan ritual penghormatan kepada arwah puyang (roh leluhur) yang menjadi asal usul dusun. Ritual ini dipimpin oleh Jurai Tue, Mimbar dan Jurai Kebali’an.

Tetapi, kini, setelah pengaruh Islam datang ke dataran tinggi Sumatera Selatan, rumah kecil itu tidak ada lagi.*

Share:
avatar

Redaksi