“Human Zoo” Yang Tidak Manusiawi
Hak Asasi Manusia
May 19, 2026
Jon Afrizal

Eksposisi Etnologis di Paris, tahun 1870-an. (credits: messy nessy)
Dengan istilah yang terkesan ilmiah, yakni: “eksposisi etnologis”, kota-kota di Eropa dan Amerika di abad ke 19 dan 20 telah memamerkan manusia dari benua yang berbeda.
HUMAN Zoo didasarkan pada unilinealisme, rasisme ilmiah, dan versi Darwinisme Sosial. Dimana sejumlah penduduk asli ditempatkan, terutama orang Afrika, di sebuah kontinum di suatu tempat, diantara kera besar dan manusia dari keturunan Eropa.
Tentu saja, atas alasan ini, Human Zoo dikritik. Sebab sangat merendahkan martabat manusia dan bersikap rasial.
Satu pameran manusia untuk publik modern pertama, mengutip Jim Crow Museum, adalah pameran dari PT Barnum dari Joice Heth pada 25 Februari 1836. Dan, selanjutnya, pameran kembar Siam Chang dan Eng Bunker.
Meskipun, ada alasan lainnya, yang seolah menjadi pembenaran dari tindakan itu. Yakni gagasan tentang keingintahuan terhadap sejarah manusia, setidaknya selama masa kolonialisme.
Columbus, misalnya, yang membawa orang India ke Pengadilan Spanyol pada tahun 1493, setelah ia berlayar ke Dunia Baru.
Contoh lainnya, adalah, Saartjie Baartman, anggota suku Namaqua, yang lebih dikenal sebagai “Hottentot Venus”. Saartjie ditampilkan di London, hingga kematiannya pada tahun 1815.
Saartjie kemudian diperiksa oleh ahli anatomi Prancis Georges Cuvier, dan jenazahnya dipamerkan di Paris Musee de l’Homme sampai tahun 1974.
Human Zoo, menjadi hal yang biasa di Eropa pada tahun 1870-an di tengah-tengah periode Imperialisme Baru. Human Zoo ditemukan di Hamburg, Anvers, Barcelona, London, Milan, New York, dan Warsawa dengan 200.000 hingga 300.000 pengunjung pada setiap pamerannya.
Di Jerman, Karl Hagenbeck, seorang pedagang hewan liar dan pengusaha dari banyak kebun binatang Eropa, membuka pameran pada tahun 1874. Ia menampilak orang Samoa dan Sami (Pandar) sebagai populasi yang “murni alami”.
Pada tahun 1876, Karl Hagenbeck mengirim seorang kolaborator ke Sudan Mesir untuk membawa kembali beberapa orang, termasuk juga beberapa binatang buas dari Nubia. Pameran Nubia sangat sukses di Eropa dan melakukan tur Paris, London, dan Berlin.

Eksposisi Etnologis di Tervuren tahun pada 1897. (credits: A Gautier)
Sedangkan Geoffroy de Saint-Hilaire, direktur Parisian Jardin d’acclimatation melakukan pameran pada tahun 1877. Ia mengatur dua “tontonan etnologis” yang menyajikan Orang Nubia dan Inuit. Pada tahun itu juga, penonton Jardin d’acclimatation berlipat dua kali menjadi satu juta pengunjung. Selanjutnya, antara 1877 dan 1912, sekitar tiga puluh “pameran etnologis” dipresentasikan di Jardin zoologique d’acclimatation.
Sementara, Parisian World’s Fair mempresentasikan “desa Negro” pada tahun 1878 hingga 1889, yang dikunjungi oleh 28 juta orang. Pada tahun 1889, World’s Fair, Pameran Dunia menampilkan 400 penduduk asli sebagai daya tarik utama. Lalu, pada World’s Fair tahun 1900, menampilkan “Living in Madagascar”.
Sedangkan Pameran Kolonial di Marseilles pada tahun 1906 dan 1922, dan, di Paris pada tahun 1907 dan 1931 juga menampilkan manusia di dalam kerangkeng. Yang kadang, manusia yang ditampilkan tidak berbusana.
Pameran tahun 1931 di Paris dihadiri oleh 34 juta pengunjung.
Sementara, sebuah counter-exhibition yang lebih kecil berjudul “The Truth on the Colonies”, diselenggarakan oleh Partai Komunis, sangat sedikit diminati. Dengan menampilkan “desa Senegal” yang nomadik.
Pameran itu dibuat untuk mengenang Albert Londres dan kritik Andre Gide terhadap kerja paksa yang dialami penduduk asli di daerah koloni.

Eksposisi Etnologis di Tervuren tahun pada 1897. (credits: RMCA)
Penduduk asli Suriname ditampilkan dalam International Colonial and Export Exhibition di Amsterdam diadakan di belakang Rijksmuseum pada tahun 1883.
Lalu, pada tahun 1906, sosialita dan antropolog amatir Madison Grant, yang menjabat sebagai kepala New York Zoological Society, memamerkan pigmen Ota Benga dari Congo di Bronx, New York City. Yang ditampilkan bersama dengan kera dan hewan lainnya.
Selanjutnya, atas perintah Grant, direktur kebun binatang menempatkan Ota Benga berada satu kandang dengan orangutan dan ia diberi nama “The Missing Link”. Yang menggambarkan bahwa dalam hal evolusi Afrika, Ota Benga lebih dekat dengan kera ketimbang orang Eropa.
Pendeta Gereja Baptis Calvary di New York, Dr. Robert Stuart MacArthur, mengutip The New York Times pada 10 September 1906, merasa geram.
“Orang yang bertanggungjawab atas pertunjukan ini telah merendahkan dirinya sendiri sama seperti ia merendahkan orang Afrika,” katanya.
Sebab, ketimbang memperlakukan Ota Benga layaknya seperti hewan, pemilik pameran seharusnya menyekolahkan Ota Benaga. Agar Ota Benga dapat mengembangkan kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Dan, sejak saat itu, protes demi protes terhadap Human Zoo pun terjadi. Hingga akhirnya benar-benar di-stop setelah era Perang Dunia Ke-2.
Terlepas dari alasan ilmiah dan ilmu pengetahuan yang dilakukan di masa kolonialisme, bagaimanapun, tidak ada pembenaran untuk: rasialisme.*
