Protes Dinding Sekolah
Hak Asasi Manusia
May 18, 2026
Jon Afrizal

Ilustrasi sepatu dan dinding sekolah. (credits: shutterstock)
“We don’t need no education
We don’t need no thought control
No dark sarcasm in the classroom
Teacher, leave them kids alone.”
47 tahun silam. Pink Floyd, grup band rock progresif dari Inggris merilis album The Wall, pada tahun 1979.
Album berisi 26 lagu ini, memuat satu lagu yang ikonik hingga saat ini; “Another Brick in The Wall”.
Lagu ikonik “Another Brick in the Wall”, terutama “Another Brick in the Wall (Part 2)” yang musik dan liriknya diciptakan oleh Roger Waters. Ia adalah bassist sekaligus penulis lagu utama di Pink Floyd.
Pun ia adalah konseptor dari album The Wall. Dan, Roger Waters juga adalah konseptor Pink Floyd, tentunya.
Terlepas dari pemahaman “terpimpin”, grup band selalu membutuhkan leader figure yang kuat. Titik. Dan prasa ini tidak dapat didebat.
Sebab, realitanya, jika leader sebuah band adalah lebih dari satu, maka, akibatnya, arah dan konsep band akan selalu berubah-ubah, mengikuti konsep setiap leader.

Pink Floyd, pada tahun 1968. (credits: Wiki Commons)
Dan, banyak contoh untuk itu, yang pada akhirnya akan berujung pada kehancuran band itu sendiri, kadang dalam waktu yang sangat cepat. Bahkan sebelum band itu sempat disebut sebagai “Legend”.
Konsep dari album The Wall adalah sebagai kisah otobiografi tentang tekanan hidup dan keterasingan sosial. Yang berangkat dari pengalaman masa kecil, dan, dampak pendidikan bagi kejiwaannya.
Lagu ini, khususnya, adalah komentar yang kuat tentang efek dehumanisasi dari praktik pendidikan tertentu, dan, penolakan individu untuk dibentuk oleh status quo.
Pada lagu “Another Brick in the Wall (Part 2)”, menampilkan kritik tajam terhadap sistem pendidikan formal yang kaku. Lagu ini juga diisi dengan paduan suara 23 anak-anak dari Islington Green School Choir di London Utara.
Lagu ini, mengutip Letras, adalah lagu yang beresonansi dengan tema pemberontakan dan individualitas, dengan latar belakang sistem pendidikan yang menindas. Dan, juga, mencerminkan ketidakpuasan mendalam dengan sifat kaku dan konformis sekolah.
Lirik yang diulang seperti; “We don’t need no education”, bukanlah kecaman literal terhadap pembelajaran. Tetapi protes terhadap jenis pendidikan yang menghambat kreativitas dan menegakkan kesesuaian.
Sedangkan paduan suara anak-anak pada lirik “All in all, it’s just another brick in the wall” adalah sebuah metafora. Metafora tentang dinding, untuk mewakili hambatan dan kendala yang terjadi pada masyarakat.

Ilustrasi anak perempuan dan dinding sekolah. (credits: chroniclelive)
Sebab setiap “brick” (: batu bata) melambangkan upaya untuk homogenisasi individu. Yang melucuti mereka dari keunikan mereka. Dan juga mengurangi mereka menjadi hanya sebagai “komponen” semata dalam struktur impersonal yang lebih besar.
Paduan suara anak-anak turut menambah dimensi magis pada lagu ini, Yang menekankan suara kolektif para anak-anak yang menjadi sasaran sistem pendidikan.
Suara yang menyela dengan lirik “Wrong, do it again!”, dan juga reffrain “If you don’t eat your meat, you can’t have any pudding!” adalah bentuk dari otoritarian dan kesewenang-wenangan, karena murid tidak mengikuti aturan yang ada.
Lagu ini adalah kritik keras terhadap sistem pendidikan.
“Jelas, saya sangat peduli dengan pendidikan,” kata Roger Waters, mengutip The Wall Street Journal pada tahun 2015..
Tetapi, katanya, ia ingin mendorong siapa pun yang mengkuti “ketukan” yang berbeda untuk kembali mencoba mengendalikan pikirannya. Ketimbang mundur dan terdesak di dinding emosional.
Roger Waters mengatakan bahwa lagu ini adalah pengalamannya sendiri di sekolah. Pengalaman yang meninggalkan rasa tidak nyaman pada dirinya.
“Lirik ini adalah reaksiku sewaktu aku bersekolah di Cambridgeshire High School for Boys pada tahun 1955. Ketika itu aku berusia 12 tahun,” katanya.
Ia melanjutkan, “Beberapa guru di sana terkunci dalam gagasan bahwa murid-murid perlu dikendalikan dengan sarkasme dan latihan kekuatan kasar untuk menundukkan murid-murid pada kehendak guru. Itulah ide guru-guru di sana tentang pendidikan.”
Maka, terciptalah lirik lagu yang tajam, “Hey, teacher, leave us kids alone”.*
