Punk Rock Dad; Kekuatan yang Tak Terlihat

Hak Asasi Manusia

January 2, 2026

Jon Afrizal

Saat Foster mengadopsi Mikey. (credits: New and Tips)

Perjalanan hidup seorang punk rocker bernama Foster, yang mengadopsi seorang anak yang mengalami trauma bernama Mikey. Berikut adalah pengakuan Foster, mengutip New and Tips, untuk pembaca Amira.

SUATU sore di musim gugur yang sejuk, aku duduk di meja dapur, formulir pengasuhan anak terbentang di depanku. Tanganku gemetar saat mengisinya, beban keputusan itu membayangi pikiranku.

Aku berusia 19 tahun, penuh mimpi, dan hati yang ingin membuat perbedaan. Tetapi ayahku tidak memiliki optimisme yang sama.

Suaranya bergema di ruangan itu, tegas namun penuh perhatian, saat ia berkata, “Engkau tidak dapat membesarkan anak laki-laki itu.”

Kata-katanya menusuk hati, dan aku dapat merasakan keraguan dalam tatapannya, seolah-olah ia bisa melihat setiap celah dalam kesiapanku.

Aku tidak memiliki penghasilan tetap. Tempat tinggalku tidak aman. Aku tidak memiliki pengalaman nyata dengan anak-anak. Hidupku tidak stabil, sama sekali tidak. Namun, ada api yang membara di dalam diriku, sebuah keyakinan yang dalam dan tak tergoyahkan bahwa aku harus mencoba.

Baru sepekan setelah Mikey hidup denganku. Aku menemukannya sendirian di luar gedung apartemen, ransel tersampir di tubuh kecilnya, matanya lebar penuh ketidakpastian. Tidak ada orang di sekitar. Tidak ada orang dewasa, tidak ada pengasuh; hanya seorang anak kecil yang ketakutan dan membutuhkan seseorang.

Aku menghubungi pihak berwenang dan tetap berada di sisinya, memastikan dia tidak sendirian. Beberapa hari kemudian, aku pergi untuk mengecek keadaannya, dan ketika aku melihatnya lagi, pertanyaannya menghantamku lebih keras daripada apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya.

“Apakah kau akan kembali?” tanya Mikey.

Saat itulah segalanya berubah bagiku. Pertanyaan itu, polos namun sarat dengan begitu banyak kebutuhan hidup, bergema di hatiku. Saat itulah aku tahu bahwa aku menginginkannya. Aku tahu bahwa betapa pun sulitnya, aku harus menemukan cara untuk mewujudkan ini.

Keputusan untuk menjadi orang tua asuh bukanlah keputusan yang mudah, sama sekali tidak. Prosesnya menakutkan, serangkaian langkah yang menuntut lebih dari yang aku perkirakan sebelumnya. Ada kelas yang harus diikuti, pemeriksaan latar belakang yang harus dilewati, wawancara yang menguji bukan hanya pengetahuanku saja, tetapi juga tekadku.

Aku gagal dalam inspeksi pertama ke rumahku, sebuah pukulan telak yang membuatku mempertanyakan kemampuanku untuk terus maju. Tetapi sesuatu di dalam diriku menolak untuk membiarkan semjua ini mengalahkan saya.

Aku menghabiskan dua hari berikutnya untuk memperbaiki semuanya, mulai dari mengecat ulang dinding untuk memastikan rumahku aman dan nyaman. Setiap saat luang, aku bekerja untuk mempersiapkan rumah saya, dan, ketika inspektur kembali, rumahku telah berubah total.

Foster dan Mikey ketika Mikey menjadi polisi. (credits: New and Tips)

Menyeimbangkan tanggungjawab baru ini dengan pekerjaanku adalah rintangan lain. Aku bekerja malam hari untuk memastikan bahwa aku tidak melewatkan rapat atau kelas apa pun. Aku harus siap, bukan hanya untuk Mikey, tetapi untuk semua hal yang menyertai peran sebagai orang tua asuh.

Ini semua melelahkan, tetapi tidak ada lagi jalan untuk mundur sekarang. Ini lebih besar dari apa pun yang pernah aku lakukan sebelumnya. Ini bukan hanya tentang aku lagi, ini tentang Mikey, seorang anak kecil yang membutuhkan rumah yang stabil. Dan apa pun yang terjadi, aku akan memberikannya.

Saat Memperoleh Izin Adopsi

Ada momen dalam setiap perjalanan pengasuhan anak asuh dimana segalanya berubah. Bagi sebagian orang, itu terjadi ketika semua dokumen akhirnya selesai, dan mereka menggendong anak asuh mereka untuk pertama kalinya.

Bagiku, itu terjadi di sebuah ruangan kecil yang sunyi, dipenuhi dengan antisipasi dan ketakutan. Ketika lembaga adopsi bertanya siapa yang akan mengasuh Mikey, jantung saya berdebar kencang. Aku berdiri tanpa ragu, suaraku tetap tenang meskipun beban keputusan itu menekan pundak saya.

“Aku,” kataku. Saat itulah Mikey menjadi anak asuhku, dan, saat itulah perjalanan hidupku sebagai orangtua dimulai.

Hari-hari setelah momen itu berlalu begitu cepat, dipenuhi dengan urusan administrasi, transisi, dan penyesuaian diri dengan kehidupan bersama Mikey. Ada amukan, air mata, dan kesalahpahaman. Tetapi ada juga momen-momen tenang yang penuh kedekatan; senyum bersama, pertama kali dia memanggilku “Ayah”, dan pertama kali dia meraih tanganku.

Momen-momen inilah yang membuat semuanya terasa berharga. Prosesnya tidak mudah, tetapi ada sesuatu dalam diri Mikey yang membuat semuanya terasa benar. Dia membutuhkanku, dan aku juga sangat membutuhkannya.

Mengasuh seorang anak, terutama yang telah mengalami trauma, jauh lebih menantang daripada yang pernah aku bayangkan. Mikey datang padauk dengan ketakutannya sendiri, luka-lukanya sendiri, baik fisik maupun emosional. Dia tidak mudah percaya, begitu pula aku.

Kami berdua menavigasi medan yang asing, masing-masing dari kami tidak yakin akan jalan di depan. Ada hari-hari ketika aku meragukan diriku sendiri, ketika kelelahan terasa terlalu berat untuk ditanggung. Tetapi Mikey tidak pernah menyerah padaku. Dan sebagai balasannya, aku pun menolak untuk menyerah padanya.

Ada momen-momen penting yang kami rayakan bersama, bahkan ketika momen-momen itu tampak kecil. Pertama kali Mikey duduk di meja makan tanpa ragu-ragu. Pertama kali dia tertawa tanpa menahan diri. Pertama kali dia cukup mempercayaiku untuk berbagi sesuatu yang sangat pribadi tentang masa lalunya. Momen-momen inilah yang membuktikan bahwa kami sedang membuat kemajuan, bahkan ketika rasanya kami bergerak maju dengan sangat lambat.

Melalui semua itu, Mikey mengajariku pelajaran yang tidak pernah aku duga. Dia menunjukkan kepadaku bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat direncanakan, cinta adalah sesuatu yang diberikan dengan bebas, tanpa mengharapkan imbalan, dan tanpa mengetahui apa hasilnya.

Dia mengajariku kesabaran, ketahanan, dan bagaimana menjadi rentan. Aku belajar bahwa menjadi orangtua bukan berarti harus sempurna; itu berarti hadir setiap hari, bahkan ketika aku takut, bahkan ketika aku tidak memiliki semua jawaban.

Dan melalui Mikey, aku belajar arti keluarga yang sebenarnya. Keluarga bukan hanya tentang hubungan darah saja, tetapi tentang koneksi, dukungan, dan cinta. Kami membangun versi keluarga kami sendiri, yang berantakan, tidak sempurna, dan unik milik kami. Itu tidak selalu mudah, tetapi selalu berharga.

Sampul buku “Punk Rock Dad” karya Jim Lindberg, vocalist band Punk “Pennywise”. (credits: Amazon)

Mikey Sekolah

Hari pertama sekolah adalah momen yang campur aduk bagi kami berdua. Mikey gugup, seperti anak-anak lainnya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, dan begitu pula aku. Tetapi saat aku melihatnya berjalan masuk ke kelas itu, ranselnya sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang kecil, aku tidak bisa menahan rasa bangga. Dia sudah siap. Dia lebih dari siap.

Hari itu aku duduk di dalam mobil, menunggunya pulang, dan aku teringat kembali pada hari pertama aku melihatnya di luar gedung apartemen itu. Dia telah menempuh perjalanan yang panjang, begitu pula aku. Kami berdua telah tumbuh dengan cara yang tak pernah kusangka. Dan saat aku melihatnya berjalan kembali ke rumah kami sore itu, aku tahu bahwa apa pun tantangan yang ada di depan, kami akan menghadapinya bersama.

Perjalanan Mikey bukannya tanpa tantangan, begitu pula perjalanan saya. Ada saat-saat perjuangan yang berat, saat-saat ketika aku merasa tidak mampu melanjutkan. Tetapi kekuatan Mikey menjadi kekuatanku.

Kemampuannya untuk bangkit mengatasi trauma yang dialaminya, untuk terus maju terlepas dari segalanya, menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Aku melihat dalam dirinya ketahanan yang bahkan tidak aku ketahui ada dalam diriku sendiri.

Di saat-saat tergelap, ketika rasanya beban dunia berada di pundakku, aku teringat Mikey. Aku teringat betapa jauhnya ia telah melangkah, betapa banyak yang telah ia atasi. Dan aku menyadari bahwa, bersama-sama, kami mampu melakukan apa pun. Tidak ada rintangan yang terlalu besar, tidak ada halangan yang terlalu tinggi. Selama kami saling memiliki, kami akan selalu menemukan jalan.

Menjadi Polisi

Tahun-tahun berlalu, dan Mikey tumbuh menjadi seorang pemuda, pribadi yang kuat dan berintegritas. Aku menyaksikan dia bersekolah di SMA, lulus, dan memutuskan untuk mengikuti jejak para petugas yang telah membantunya ketika dia masih kecil. Tetapi ada satu petugas khususnya, yang telah membantunya selama masa sulit di lingkungan sekitar, yang meninggalkan kesan paling mendalam pada Mikey.

“Aku ingin menjadi sosok yang stabil bagi orang lain,” kata Mikey kepadaku suatu malam, suaranya penuh keyakinan. Saat itu aku tahu bahwa Mikey tidak hanya berbicara tentang menjadi seorang polisi. Dia berbicara tentang menjadi seseorang yang dapat membuat perbedaan nyata di dunia. Dia berbicara tentang meneruskan rasa kasih sayang, kekuatan, dan tekad yang sama yang telah membantunya melewati perjuangannya sendiri.

Perjalanan Mikey bukannya tanpa tantangan. Dia menghadapi rintangan, kemunduran, dan saat-saat keraguan. Tetapi dia terus maju. Dia mendaftar di akademi kepolisian, bertekad untuk menjadi petugas yang dapat memberikan dampak nyata. Saya menyaksikan dia bekerja tanpa lelah, mencurahkan waktu, usaha, dan hati yang dibutuhkan untuk menjadi orang yang selalu dia impikan.

Akademi itu sangat melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Tapi Mikey tidak pernah goyah. Dia tahu apa yang diinginkannya, dan dia bersedia memperjuangkannya. Dia mengatasi rasa sakit, kelelahan, dan keraguan, dan pada akhirnya, dia berhasil. Dia mendapatkan lencananya, dan dengan itu, babak baru dalam hidupnya dimulai.

Hari ketika Mikey lulus dari akademi adalah satu momen paling membanggakan dalam hidupku. Aku berdiri di antara penonton, air mata mengalir di wajahku, menyadari bahwa setiap pengorbanan, setiap tantangan, setiap momen ketidakpastian telah terbayar. Mikey telah berhasil. Dia telah mengatasi semua yang dilemparkan kehidupan kepadanya, dan dia melakukannya dengan anggun, kuat, dan penuh ketulusan.

Saat aku melihatnya melangkah maju untuk menerima lencananya, aku tahu bahwa setiap momen perjuangan itu sepadan. Mikey bukan hanya menjadi seorang polisi, dia menjadi tipe orang yang bisa membuat perbedaan nyata di dunia. Dan aku tidak bisa lebih bangga dari itu semua.

Perjalanan ini tidak mudah, tetapi semuanya sepadan. Setiap pertengkaran, setiap tantangan, setiap air mata, semuanya telah mengarah ke momen ini.

Dan saat Mikey berdiri di sana, babak baru dalam hidupnya dimulai, aku tahu bahwa cinta yang telah kami bangun bersama akan terus membimbingnya, kemana pun hidup membawanya selanjutnya.*

avatar

Redaksi