Putri Duyung, Apakah Nyata?

Inovasi

January 8, 2026

Farokh Idris

Pulau Sicily, Italia. (credits: goldenrama)

Putri Duyung telah memasuki alam bawah sadar kolektif pada hampir seluruh masyarakat maritim di dunia. Dan telah menjadi konsep bersama yang menghubungkan orang-orang di seluruh dunia dari waktu ke waktu.

KRIPTOZOOLOGI adalah kata dari bahasa Yunani, yakni “kryptos” yang artinya: tersembunyi, dan “zoologi”. Secara harfiah prasa ini berarti sebagai ilmu tentang hewan tersembunyi. Dapat juga berarti: pencarian terhadap hewan yang keberadaannya belum terbukti.

Pencarian yang meliputi; spesimen hidup dari hewan yang dianggap telah punah, seperti pencarian dinosaurus sintas. Juga, hewan yang keberadaannya kurang terbuktikan secara fisik tetapi muncul dalam mitos, legenda, atau kesaksian sepihak, seperti Bigfoot dan Chupacabra. Pun termasuk hewan liar yang berada di tempat yang tak lazim sebagai wilayah persebarannya, seperti kucing hantu (Alien Big Cat).

Orang yang berkecimpung dalam kriptozoologi disebut kriptozoolog. Hewan yang diselidiki para kriptozoolog sering disebut kriptid, sebuah istilah yang dicetuskan oleh John Wall pada tahun 1983.

Namun, kriptozoologi tidak diakui sebagai cabang ilmu zoologi atau suatu disiplin ilmu ilmiah. Kriptozoologi adalah satu contoh pseudoscience (ilmu semu), karena sangat bergantung kepada bukti yang hanya berupa anekdot, kesaksian, dan dugaan penampakan.

Adalah mitologi Putri Duyung, yakni makhluk setengah manusia setengah ikan yang mempesona di lautan. Putri Duyung adalah makhluk laut legendaris yang tercatat dalam budaya maritim sejak lama.

Penyair epik Yunani kuno, Homer, menulis tentang Putri Duyung dalam The Odyssey. Sementara di Timur Jauh kuno, Putri Duyung adalah istri dari naga laut yang perkasa, dan bertugas sebagai pembawa pesan terpercaya kepada kaisar di darat.

Pun, komunal Aborigin Australia menyebut Putri Duyung dengan sebutan: yawkyawks. Yakni nama yang mungkin saja merujuk pada nyanyian mereka yang memukau.

Kepercayaan terhadap Putri Duyung, mengutip laman National Ocean Service (NOS), diperkirakan muncul sejak awal keberadaan spesies manusia.

Sosok perempuan magis ini pertama kali muncul dalam lukisan gua pada akhir periode Paleolitikum (Zaman Batu) sekitar 30.000 tahun yang lalu. Yakni ketika manusia modern menguasai daratan dan, berkemungkinan, mulai berlayar di lautan.

“The Siren” karya John William Waterhouse. (credits: Wiki Commons)

Dalam mitologi Yunani The Odyssey yang ditulis oleh Homer, Siren (Putri Duyung) adalah makhluk berwujud setengah wanita setengah burung yang hidup di laut. Siren menyanyikan lagu-lagu bagi para pelaut yang lewat. Dalam beberapa lukisan kuno, Siren acapkali digambarkan sedang memegang alat musik harpa.

Pelaut yang mendengar nyanyian Siren akan menjadi tidak sadarkan diri, sehingga menabrakkan kapal mereka ke batu karang atau menenggelamkan diri ke laut.

Siren, awalnya adalah para perempuan pelayan Persefone sang Dewi Dunia Bawah. Namun ketika Persefone diculik oleh Hades sang Dewa Dunia Bawah yang menguasai alam orang mati dan kekayaan, maka Demeter sang Dewi Pertanian, Panen, dan Kesuburan telah memberi mereka sayap untuk ikut mencari Persefone.

Siren akhirnya menyerah lalu tinggal di pulau Anthemoissa yang berada di lepas pantai Italia.

Odisseus sang Raja Yunanai dari Ithaca terkenal karena kecerdasan intelektualnya, tipu daya, dan keserbagunaannya. Sehingga, ia juga dikenal dengan julukan Odysseus si Licik.

Dalam perjalanannya, Odisseus harus melewati tempat para Siren. Lalu, ia memerintahkan para awak kapal untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin, dengan tujuan agar mereka tidak mendengar nyanyian Siren.

Namun, Odisseus lebih memilih untuk diikat di tiang kapal, dan tidak mau telinganya disumbat. Sebab ia penasaran dengan nyanyian Siren.

Ketika akhirnya ia mendengar suara merdu para Siren, ia memberontak dan memerintahkan para awak kapal untuk melepaskan tali yang mengikatnya. Tentu saja para awak kapal menolak perintah itu.

Dan setelah kapal mereka sudah jauh dari Siren, dan Odisseus menjadi lebih tenang, barulah ikatannya dilepaskan.

Para Argonaut, yakni sekelompok pahlawan Bangsa Minya yang berlayar dengan kapal “Argo” untuk mencari Bulu Domba Emas, juga pernah bentrok dengan para Siren. Para Siren menyanyikan lagu untuk membunuh para Argonaut.

Namun, terdapat seorang Argonaut bernama Orfeus, yang adalah seorang musisi hebat. Orfeus lalu memainkan musik yang lebih merdu dari nyanyian para Siren. Dikarenakan kesal karena kalah, para Siren akhirnya meceburkan diri ke laut.

Selain Putri duyung, terdapat pula chimera. Chimera dalam mitologi Yunani, adalah mahluk yang mengerikan, sebagai gabungan singa, kambing dan ular.

“A Crowned Merman” karya Arthur Rackham. (credits: Public Domain)

Juga ada centaur yang bijaksana. Yakni makhluk setengah manusia di bagian atas dan setengah kuda di bagian bawah, yang sering digambarkan liar dan brutal namun juga bijaksana.

Kemudian, satyr yang liar, makhluk roh alam liar, berwujud setengah manusia di tubuh atas dan setengah binatang dengan tanduk, kaki, dan ekor kambing atau kuda. Satyr terkenal karena sifat hedonistik, suka mabbok minuman keras, bermain musik, dan mengejar perempuan, serta adalah pengiring Dionysus, sang Dewa Anggur dan Kesuburan.

Lalu, ada minotaur yang menakutkan, monster berbentuk manusia berkepala banteng. Wujudnya ini akibat dari kutukan Poseidon sang Dewa Laut, Gempa Bumi, dan Kuda pada Minos sang Raja Kreta.

Dan masih banyak lagi mahluk-mahluk berwujud aneh dalam mitologi Yunani.

Apakah putri duyung benar-benar ada? Masih mengutip laman NOS, tidak ada bukti keberadaan humanoid air yang pernah ditemukan.

Namun, Putri Duyung telah memasuki alam bawah sadar kolektif di banyak komunal maritim, dan juga pelaut.

Dalam bahasa Inggris, Putri Duyung adalah berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak hanya Mermaids untuk perempuan saja, tetapi juga Merman untuk laki-laki.

Hingga hari ini, masih banyak kastil di Eropa juga menggunakan simbol Putri Duyung untuk menunjukkan kekuatan dan kekayaan kerajaan, bahkan juga di negara-negara yang tidak memiliki lautan, seperti Austria, misalnya.

Meskipun Putri Duyung tidak benar-benar ada, namun Putri Duyung dapat menciptakan imajinasi dan memicu kreativitas banyak orang. Putri Duyung, mengutip Kompas, juga penting, karena mereka adalah konsep bersama yang telah menghubungkan orang-orang di seluruh dunia untuk waktu yang sangat lama.

Pun termasuk para pelaut yang percaya takhayul seperti Christopher Columbus, dan yang lainnya, melaporkan telah melihat Putri Duyung dalam perjalanan mereka. Merskipun para ilmuwan dan sejarawan menyatakan bahwa para pelaut itu mungkin telah melihat hewan yang sebenarnya, seperti manatee (anjing laut).

Hingga hari ini, banyak orang sering membuat cerita, yang lebih tepat adalah fiksi, untuk membantu menjelaskan segala macam hal yang tidak dapat mereka pahami tentang Putri Duyung. Dari cerita itu, orang lain terbantu untuk memahami impian, keinginan, dan ketakutan mereka sendiri.*

Share:
avatar

Redaksi