Waspada Cacar Air

Lifestyle

January 4, 2026

Junus Nuh/Pekanbaru

Cacar air (chickenpox). (credits: Getty Images)

SEBANYAK dua kasus cacar air (chickenpox) kembali ditemukan. Kali ini di Kepulauan Meranti Provinsi Riau.

Kasus pertama, BS (13). Suspect mengeluh demam pada tanggal 12 September 2025. Gejala demam diikuti dengan munculnya bintik merah yang kemudian berkembang menjadi lesi dan terus menyebar setiap hari.

Selanjutnya, pada tanggal 17 September, karena kondisinya terus memburuk, BS dibawa ke RSUD Kepulauan Meranti untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Namun, BS dilaporkan meninggal dunia pada tanggal 20 September 2025.

Mengutip laman Kemenkes RI pada Selasa (23/9), secara klinis kondisi BS mengarah pada varicella atau cacar air (chickenpox). Pasien memiliki komorbid berupa infeksi selaput otak.

Kasus kedua, Zu (17). Zu mengeluhkan gejala demam dan ruam merah pada tanggal 18 September 2025. Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit, dan setelah tiga hari mendapatkan perawatan, suspect diperbolehkan pulang untuk melanjutkan isolasi mandiri di rumah.

Cacar air (chickenpox), mengutip Alodokter, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Penyakit ini ditandai dengan munculnya ruam lepuh atau bentol-bentol berisi cairan yang terasa sangat gatal di seluruh tubuh.

Cacar air pernah menjadi penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Namun, setelah vaksinasi cacar air dilakukan pada tahun 1990-an, kasus cacar air terus berkurang.

Cacar air dapat menyebabkan dampak buruk lebih lanjut pada kelompok tertentu. Teruatama; bayi, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS.

Virus Varicella zoster menular melalui percikan ludah, atau kontak langsung dengan cairan yang berasal dari ruam maupun bentol penderita cacar air. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, adalah; berusia di bawah 12 tahun, belum pernah terkena cacar air, belum menerima vaksin cacar air, dan, kontak dengan penderita cacar air.

Selain itu, daya tahan tubuh lemah karena pertambahan usia, atau memiliki kondisi tertentu, seperti HIV/AIDS, kanker, atau sedang menjalani kemoterapi. Juga, bekerja di fasilitas umum, seperti rumah sakit, sekolah, atau tempat penitipan anak.

Gejala cacar air akan muncul sekitar 10 hingga 21 hari setelah terpapar virus Varicella zoster. Gejala utamanya yaitu munculnya ruam lepuh atau bentol-bentol kemerahan yang berisi cairan. Ruam ini biasanya timbul di area wajah, leher, perut, atau punggung, dan dapat menyebar ke berbagai bagian tubuh. Ruam lepuh ini dapat berlangsung selama lima hingga 10 hari.

Sekitar satu atau dua hari sebelum ruam atau bentol terlihat, penderita akan mengalami; demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, sakit perut, lelah dan lemas (malaise), hilang nafsu makan.

Cacar air (chickenpox). (credits: Getty Images)

Untuk itu, segera periksakan diri ke dokter jika mengalami kondisi demam tinggi selamaempat hari. Atau, jika batuk parah sampai sesak napas, dehidrasi, kulit di sekitar bentol terasa panas ketika disentuh, nyeri, bengkak, sangat merah, atau mengeluarkan nanah.

Juga, sering mengantuk atau sulit bangun dari tidur, sulit berjalan, muntah terus-menerus, tampak linglung, sakit kepala berat, dan, leher kaku.

Umumnya, untuk mendiagnosis cacar air, akan dilakukan tes PCR (polymerase chain reaction), dengan mengambil sampel cairan dari bentol yang belum atau sudah pecah.  Juga, tes darah, dengan mengambil dan memeriksa sampel darah pasien, guna mengetahui ada atau tidaknya infeksi virus Varicella zoster. Serta, tes kultur virus, dengan mengambil dan meneliti sampel cairan dari bentol yang telah pecah. Namun, tes ini hasilnya tidak seakurat PCR.

Meskipun cacar air akan hilang dengan sendirinya dalam rentan waktu satu hingga dua pekan, namun pengobatan cacar air diperlukan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala atau mencegah terjadinya komplikasi. 

Sehingga, dapat saja dokter meresepkan salep atau antihistamin minum. Seperti; diphenhydramine (Sedares), loratadine (Alloris dan Loran), cetirizine (Incidal dan Cetrol), atau fexofenadine (Telfast) untuk meredakan gatal.

Juga memberikan obat antiinflamasi nonsteroid (OINS) yang mengandung paracetamol. Seperti; Sanmol dan Sumagesic. Obat ini berfungsi untuk meredakan gejala sakit kepala, demam, lelah, atau nyeri otot. 

Serta meresepkan antibiotik jika ruam cacar mengalami infeksi bakteri.

Tak lupa juga, meresepkan obat antivirus minum. Seperti; valacyclovir (Iclovir dan Valciron), acyclovir (Acifar dan Clinovir), atau famciclovir (Famvir) pada pasien yang berisiko terkena komplikasi.

Selain itu, untuk perawatan mandiri, disarankan untuk minum air putih yang banyak dan mengkonsumsi makanan bertekstur lembut, dan, tidak asin atau asam, terutama jika terdapat ruam cacar di mulut.

Tidak menggaruk ruam atau luka cacar air. Pasien akan dianjurkan untuk memotong kuku sampai pendek atau memakai sarung tangan, terutama pada malam hari. Juga, mengenakan pakaian longgar dan berbahan lembut.

Berendam atau mandi menggunakan air hangat tiga hingga empat kali sehari, selama beberapa hari setelah timbul ruam.

Mengoleskan calamine lotion pada area tubuh yang gatal, kecuali mata dan kelamin. Mengompres ruam atau luka dengan air dingin untuk meredakan gatal. Serta beristirahat yang cukup dan tidak kontak dengan orang lain untuk mencegah penyebaran cacar air.*

avatar

Redaksi