Playboy Yang Dihukum Gantung
Lifestyle
January 20, 2026
Jon Afrizal

“City hall of Batavia in 1682” karya Weduwe van Jacob van Meurs. (credits: Public Domain)
“Tambasia jadi kesalnya sungguh
Nona Ing Nino susah karena terganggu
Ada lamanya lah satu minggu
Dia suruh panggil guru yang tangguh.”
[Thio Tjin Boen – Buku Sair Tambasia]
PADA tahun 1903, Thio Tjin Boen menerbitkan buku berjudul “Tambahsia: Soewatoe tjerita jang betoel soedah kedjadian di Betawi antara tahoen 1851-1856”. Buku ini didasarkan pada kehidupan Oey Tambahsia.
Oei Tambah Sia, atau Oey Tamba Sia, atau Oei Tambahsia adalah sosok playboy legendaris di era Hindia Belanda, di Batavia.
Namun, Oei Tambasia dihukum gantung atas dakwaan serangkaian pembunuhan, di halamam depan Stadhuis, yang kini adalah Museum Fatahillah, Jakarta. Disaksiakan ratusan warga kota Batavia, lelaki berusia 31 tahun ini meregang nyawa, pada suatu sore, tanggal 7 Oktober 1856.
Ensiklopedia Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta menyebutkan sekelumit tentang Oey Tambahsia, “Namanya begitu legendaris di Betawi sebagai orang kaya raya. Namun, tingkah laku dan ulahnya tidak terpuji.”
Lalu, “Terkenal sebagai pemuda sombong, congkak, dan suka mengganggu anak-istri orang. Bahkan hampir tak ada kekuatan yang mampu mengekangnya.”
Banyak sekali folklore tentang Tamba Sia, baik itu benar atau hanya sedikit benarnya. Namun, skandal Tambahsia telah menjadi catatan tersendiri, baik dalam literature Indonesia maupun Eropa, di abad ke 19.
Oey Tamba lahir pada tahun 1827. Ia adalah anak dari Oey Thai Lo, yang juga dikenal sebagai Oey Thoa, seorang pebisnis tembakau asal Pekalongan, Jawa Tengah, Oey Thai Lo kemudian ditunjuk oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai Letnan Cina Kongsi Besar.
Secara otomatis, Oey Tamba mendapatkan gelar “Sia”. Sia adalah sebuah gelar kebangsawanan turun-temurun bagi keluarga dan keturunan Opsir Tionghoa dalam pemerintahan kolonial Belanda.
Setelah Letnan Oey Thai Lo meninggal dunia pada tahun 1838, ketiga anaknya mendapatkan warisan, termasuk Oey Tamba Sia.

Gapura Pecinan di Pekalongan, Jawa Tengah tahun 1900. (credits: Tropen Museum)
Oey Tamba Sia yang sewaktu itu masih berusia 15 tahun, pun mendapat total warisan sekitar NLG 2 juta, atau setara dengan IDR 17,8 miliar. Yakni berbentuk; lahan di Pasar Baru dan Curug Tangerang dengan sewa NLG 95.000 atau setara dengann IDR 900 juta per tahun, sejumlah rumah, uang, dan perhiasan.
Dengan warisannya yang banyak, Oey lalu menikahi Sim Hong Nio.
Phoa Kian Sioe dalam buku berjudul “Sedjarahnja Souw Beng Kong (tangan-kanannja G.G. Jan Pieterszoon Coen), Phoa Beng Gan (achli pengairan dalam tahun 1648), Oey Tamba Sia (hartawan mati ditiang penggantungan)”, menyebutkan Oey telakh meremehkan para pejabat Cina di Batavia, yang adalah teman dan kolega dari mendiang ayahnya di birokrasi Hindia Belanda.
Oey berperilaku tidak sopan kepada Tan Eng Goan, Mayor Cina Batavia pertama, karena Tan bergantung pada dukungan keuangan dari ayah Oey. Masih menurut Phoa Kian Sioe, Oey menolak desakan dari Tan agar dirinya berperilaku sopan sesuai ajaran Konfusianisme.
Oey juga menolak tawaran Tan yang berniat mengangkatnya menjadi letnan Cina. Dan, Oey lalu bersaing ketat dengan menantu Tan, yakni Lim Soe Keng Sia.
Selanjutnya, Oey memerintahkan orang untuk membunuh Sutedjo, saudara dari gundiknya, Mas Ajeng Gunjing. Sebenarnya, ia salah menduga kedua terlibat affair.
Pun, Oey juga mendalangi peracunan pelayannya, Oey Tjeng Kie, untuk memfitnah pesaingnya, Lim Soe Keng Sia. Walaupun Lim awalnya ditahan, investigasi polisi dan pengadilan kemudian menyimpulkan bahwa Oey lah yang sebenarnya mendalangi dua pembunuhan itu.
Landraad (pengadilan negeri) kemudian memvonis Oey Tamba Sia dengan hukuman gantung. Keluarga Oey lalu mengajukan banding ke Raad van Justitie (pengadilan tinggi), dan juga mengajukan grasi (pengampunan) ke Gubernur Jenderal Duymaer van Twist, tetapi dua upaya itu ditolak.
Alwi Shahab dalam bukunya berjudul “Oey Tambahsia, Playboy Betawi” memiliki bungalow bernama “Bintang Mas” di bilangan Ancol. Bungalow yang lebih mirip harem seperti yang digunakan oleh raja-raja di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya.

Oey Tamba Sia. (credits: Public Domain)
Ketika Khoe Tjin Yang, istri seorang pedagang kelontong di Tongkangan, berhasil dirayunya, pun disimpan di “Bintang Mas”.
Namun, Mas Ajeng Gunjing, seorang pesinden adalah perempuan terpenting bagi Oey. Oey pertama kali bertemua Mas Ajeng Gunjing di sebuah perhelatan di Pekalongan.
Mas Ajeng Gunjing pertama-tama ditempatkan di “Bintang Mas”. Namun, karena sakit, Mas Ajeng Gunjing pun dipindahkan ke rumah besar Oey di Pasar Baru, Tanggrang.
Suatu hari, datanglah seorang tamu bernama Mas Sutejo, yang adalah saudara kandung Mas Ajeng Gunjing dari Pekalongan.
Dan, cinta Oey pada Mas Ajeng Gunjing agak berlebihan. Dikarenakan cemburu, Oey memerintahkan tukang pukul bernama Piun untuk membunuh Mas Sutejo.
Rasa cemburu itu, kemudian menyebar, dan tukang pukul pun diperintahkan Oey untuk meracuni pembantunya, Tjeng Kie juga diracuni.
Polisi kemudian mengumpulkan bukti-bukti. Dan, Piun yang diketahui pernah memakai kain batik milik Mas Sutejo pun diperiksa. Ia akhirnya mengaku, bahwa Oey lah yang menyuruhnya.
Polisi pun menangkap Oey Tamba Sia. Setelah diperiksa dan disidang, Landraad (pengadilan negeri) menjatuhkan vonis mati kepada Oey Tamba Sia.*
