Musim Durian Di Bulan Juni
Lingkungan & Krisis Iklim
July 2, 2026
Jon Afrizal/Kota Jambi

Seorang pedagang durian di Jambi, di era Hindia Belanda, sekitar tahun 1910. (credits: Universiteit Leiden, editing: amira.co.id)
“hujan turun sepanjang jalan
hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan
kembali bernama sunyi
kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali”
[Sapardi Djoko Damono]
BULAN Juni, seperti puisi Sapardi Djoko Damono. Hujan selalu datang hampir setiap hari.
Di bulan Juni tahun 2026 ini, musim durian pun tiba. Durian (Durio zibethinus Murr.) adalah King Of Fuits (raja dari segala buah-buahan). Tentunya, berbagai vitamin dan protein dari seluruh buah-buahan, akan berada dalam buah durian. Demikian penjelasan secara singkat.
Sehingga, adalah wajar, untuk tidak dianjurkan untuk memakan buah durian terlalu banyak. Apalagi jika mencampurnya dengan berbagai varian zat, yang dapat menyebabkan “rangsangan” pada sistem tubuh manusia.
Umumnya, buah durian di Jambi akan panen pada bulan-bulan puncak musim penghujan. Yakni sejak November hingga Januari.
Namun, sejak musim kabut asap pertama di tahun 1991 di Jambi, kekacauan pun terjadi. Sejak saat itu, banyak pohon durian yang hanya berbunga saja, tapi tidak berbuah. Bahkan, jika pun berbuah, sangatlah sedikit, dan ada pula yang gugur.
Para ahli menyatakan bahwa ketidakteraturan ini terjadi karena anomali cuaca (perubahan iklim). Yang menyebabkan kacaunya siklus alami pohon.
Mengutip laman Pemprov Jambi, Provinsi Jambi beriklim tropis khatulistiwa. Dengan suhu yang relatif stabil dan kelembapan udara yang tinggi sepanjang tahun. Wilayah ini mengalami dua musim utama. Yakni musim penghujan dan musim kemarau, dengan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 22 derajat Celcius hingga 32 derajat Celcius.
Pun juga ditambah dengan pemeliharaan pohon durian yang masih tradisional, dan penurunan ketersediaan bibit yang berkualitas.
Mari kita mulai story tentang bagaimana pohon durian bertumbuh di Jambi.

Kopi durian. (credits/editing: amira.co.id)
Dokumentasi pertama, berupa photo tentang penjulan durian di Jambi, yakni pada masa Hindia Belanda, sekitar tahun 1910. Photo itu adalah berkas dari Universiteit Leiden, Netherland.
Berdasarkan folklore, para orang-orangtua di era lampau tidak serta merta membibitkan buah durian yang mereka dapatkan di hutan-hutan di Provinsi Jambi. Ketika ia mendapatkan satu buah durian, kemudian biji-bijinya disebarkan di kebun atau di halaman belakang rumahnya. Pun begitu seterusnya.
Inilah yang menjelaskan, mengapa, buah-buah durian di Provinsi Jambi pada saat ini, tidak satu macam rasa. Melainkan ada banyak varian rasa dan warna.
Daging buah durian dapat saja berwarna putih, ataupun berwarna kuning. Yang berwarna kuning, kerap disebuat “Durian Tembago”.
Pun besaran setiap buah durian berbeda. Juga tekstur dagingnya.
Mengutip data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2025, luas panen tahunan durian di Provinsi Jambi mencapai 16.558 hektare. Yang tersebar di banyak wilayah, dengan sentra perkebunan terbesar berada di wilayah hulu, seperti; Kabupaten Kerinci, Merangin, dan Sarolangun. Sementara produksi buah durian di Provinsi Jambi tercatat mencapai 398.424 kilogram per tahun.
Satu buah durian yang jatuh pertama pada setiap musimnya, adalah untuk Datuk (Harimau Sumatra/panthera tigris). Demikian mengutip Jon Afrizal dalam buku “Membangunkan Bangsa Yang Tidur”.
Datuk Belang akan mendatangi kebun durian, lalu memilih satu buah durian yang matang dengan alami. Yakni buah durian yang jatuh dari pohon, akibat hembusan angin, karena memang telah masak di batang.
Lalu, Sang Datuk mengubak (membuka) buah durian itu dengan kuku-kukunya. Dengan sangat rapi, ia memakannya, dan meletakan biji-bijinya di sekitar buah durian yang dibukanya.
Hanya satu buah durian saja, dan setelah itu, ia pergi.
Mungkin saja, biji buah durian yang diletakan Datuk akan tumbuh kembali menjadi pohon-pohon durian. Yang tentunya, adalah duian pilihan. Sebab, tidaklah mungkin Raja memakan sembarang buah, melainkan buah pilihan.
Pada satu kesempatan perjalanan-liputan ke Hutan Harapan, di sekitar tahun 2018, aku melihat satu buah durian yang telah dibuka oleh Datuk Belang. Jenis durian yang di makannya adalah “Durian Daun” (Tekawai), yang berbeda dengan durian di Jambi pada umumnya. Mungkin, ditanam oleh seorang pembibit.
Dikarenakan kedatangan kami, dan Sang Datuk terusik, maka ia pun membiarkan buah durian yang masih terbuka setengahnya.
Dengan kerendahan hati, kami pun mencicipi bagian lain dari buah durian yang telah dibukanya. Sebagai tanda, bahwa kami adalah bagian dari hutan, dan kami menghargainya sebagai Raja Hutan.

Memilih buah durian di Jambi. (credits/editing: amira.co.id)
Pada kala itu, seorang teman berbisik, “Beliau ada di di sana, memperhatikan kita.”
Begitulah hubungan antara durian, hutan, konservasi dan ekologi, di Jambi.
Tetapi, Beruang Madu atau Beruang Matahari (Helarctos malayanus) juga senang mencari buah durian di kebun penduduk. Untuk satwa yang satu ini, kerap dianggap mengacau buah panenan durian.
Maka, biasanya, untuk mengusir Beruang Madu, penduduk akan berbicara sambil berbisik ke arah kebun. Yakni, “Hoi, sudahlah, jangan lagi diganggu. Durian ini untuk anak cucu kami.”
Biasanya, Beruang Madu akan pergi dan tidak lagi mengusik kebun durian. Tapi, kadang, ia pun akan datang lagi. Makanya, penduduk menyebutnya “mengacau”.
Jika panenan buah durian sangat banyak, maka Orang Melayu Jambi akan menjadikannya sebagai tempoyak atau lempok. Tempoyak adalah daging buah durian yang telah diasamkan dan terfragmentasi.
Daging buah durian diletakan di dalam tempayan atau guci, yang sekarang biasa disebut dengan guci keramik antik. Lalu diletakan sebuah cabai merah dengan ditusuk lidi di bagian atasnya. Selanjutnya, tempayan atau guci ditutup rapat.
Tempoyak akan dicampurkan dengan masakan. Seperti masakan Tempoyak Ikan Patin, misalnya.
Sedangkan Lempok, adalah durian yang dijadikan dodol. Meskipun, bukanlah dodol yang sebenarnya. Lempok adalah sejenis perisa durian.
Daging buah durian diambil dengan mencampurkannya dengan gula pasir. Lalu diaduk sangat lama di dalam kuali dengan api besar, persis seperti membuat dodol.
Lempok akan tahan lama. Lempok akan dicampurkan dengan bubur kacang hijau, dan sejenisnya. Sehingga, meskipun tidak sedang musim durian, bubur akan berasa durian.
Begitulah jika di Jambi. Mungkin, di tempat lain di Nusantara akan ada persamaannya, meskipun ada pula perbedaannya.*
