Melawan Pemikiran Mayoritas

Resonansi

October 11, 2026

Khusnul Zaini*

Ilustrasi demonstran memegang toa. (credits: PNGTree)

ARUS pemikiran mayoritas terbentuk karena dua hal.

Pertama, karena ketidakpahaman memaknai sebuah permasalahan yang sebenarnya terjadi, dan Kedua, karena ada kepentingan soal kemapanan status dan posisi seseorang atas kedudukan/jabatan yang sedang dinikmati.

Organisatoris adalah individu masyarakat atau mahasiswa yang aktif di dalam sebuah organisasi tertentu (Ormas, Orsospol, Parpol, NGO, Serikat, Organisasi Profesi, Senat Mahasiswa/UKM) yang punya kepentingan membesarkan organisasinya.

Kata bijak KH Ahmad Dahlan “Aku sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa memperbaiki urusan yang terlanjur salah dan disalahgunakan atau diselewengkan adalah merupakan kewajiban setiap manusia, terutama kewajiban umat Islam” ini, mungkin bisa dijadikan referensi.

Sebab, meraih kemenangan dalam pertarungan dengan cara curang, menihilkan etika perkawanan,  mengejar eksistensi demi popularitas pribadi, hingga menganggap anggota organisasi lainnya sekedar pelengkap, adalah prilaku yang tidak termaafkan dalam perjalanan sejarah organisasi.

“Teori Keseimbangan atau equity theory” yang dikemukakan John Stacey Adams, psikolog kerja dan perilaku pada tahun 1963 menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia menyenangi perlakuan yang adil/sebanding, berhubungan dengan kepuasan relasional dalam hal persepsi distribusi yang adil/tidak adil dari sumber daya dalam hubungan interpersonal.

Ini adalah sebuah upaya “membangun kesadaran diri” yang lebih luas terhadap dimensi penilaian masing-masing individu sebagai manifestasi keadilan yang lebih luas dibanding teori motivasi lainnya.

Kata kunci membangun kesadaran diri itu, dimaksudkan agar generasi penerus organisasi tidak mencontoh para pimpinan pendahulunya yang tidak patut diteladani. Prilaku menyelewengan amanat pemimpin pendahulunya itu menciderai sikap profesional dan intelektualitas diri.

Memang, setiap orang memiliki motivasi tersendiri saat melakukan suatu pekerjaan. Motivasi adalah proses psikologi yang dapat menyebabkan adanya stimulasi, kegigihan, serta arahan terhadap kegiatan yang dilakukan seseorang dengan sukarela pada suatu tujuan tertentu.

Konsep penting dari teori motivasi MC Clelland terletak pada kekuatan yang ada dalam diri manusia yaitu motivasi prestasi. Menurut pendapatnya, individu dapat memiliki motivasi jika memang dirinya memiliki keinginan untuk berprestasi lebih baik disbanding yang lainnya.

Terdapat tiga kebutuhan yang dijelaskan dalam teori ini, dengan penjelasan sebagai berikut. 

Ilustrasi masyarakat dampingann. (credits: Shutterstock)

Pertama, kebutuhan prestasi yang tercermin dari keinginanya untuk mengambil tugas yang bisa dipertanggung jawabkan secara individu. Dalam hal ini, seseorang harus bisa menentukan tujuan yang logis dengan memperhitungkan resiko yang ada serta melakukannya secara kreatif dan inovatif.

Kedua, kebutuhan afiliasi, yaitu kebutuhan memelihara sikap yang hangat dan bersahabat dalam membangun hubungan dengan orang lain dengan motif alasannya yaitu pengaruh positif, perhatian atau penghargaan, dukungan emosional, dan perbandingan social.

Ketiga, kebutuhan Kekuasaan, yaitu kebutuhan seseorang yang ingin memiliki pengaruh atas diri orang lain. Mereka harus peka terhadap struktur pengaruh antara satu sama lainnya, bahkan mencoba untuk menguasai orang tersebut hingga mengatur tingkah lakunya.

Motivasi seseorang dalam berorganisasi, bisa dianalogikan dengan Teori hierarki Abraham Maslow. Teorinya mengungkap 5 (lima) kebutuhan manusia berdasarkan hirarkinya, dimulai dari kebutuhan yang sangat mendasar hingga mencapai kebutuhan yang paling tinggi.

Terkait lima kebutuhan manusia berdasarkan hirarki Teori Hierarki Abraham Maslow adalah sebagai berikut.

Pertama, Kebutuhan Fisiologis, sebagai bentuk kebutuhan paling mendasar setiap manusia berupa makanan, minuman, pakaian, udara, tempat tinggal, yang semata-mata untuk bertahan hidup.

Kedua, Kebutuhan Keamanan, yaitu kebutuhan dari rasa aman akan kekerasan fiisk ataupun psikis, misalnya saja seperti lingkungan yang bebas polusi, rasa aman dari kekerasan dan ancaman, dan lainnya.

Ketiga, Kebutuhan Sosial, bahwa karena manusia adalah makhluk sosial, tentu membutuhkan orang lain dalam kehidupan mereka agar bisa mencintai dan dicintai.

Keempat, Kebutuhan Penghargaan, sebagai wujud kebutuhan ingin diakui dan dihargai orang lain, setelah kebutuhan fisiologis, sosial, dan keamanan sudah terpenuhi.

Terakhir, Kebutuhan Aktualisasi Diri, merupakan kebutuhan yang tertinggi dalam bentuk kebutuhan seseorang yang ingin memenuhi ambisi pribadi.

Tingkatan kebutuhan para elite organisasi yang sedang berkuasa, bisa jadi untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri (level 5) sebagaimana penjabaran teori Abraham Maslow, meski cara pencapaiannya masih ada kekhawatiran soal kesejahteraan atau kebutuhan fisiologis (level 1).

Karena para elite organisasi yang sedang berkuasa ini merasa tidak percaya diri dengan kapasitas intelektualnya, karena sadar diri dengan prestasi yang diraihnya selama memimpin organisasi, dilakukan dengan kecurangan-kecurangan tertentu.

Setidaknya, eksistensinya telah mengelabui pandangan umum yang terlanjur simpati, bahkan ditafsirkan para kolega mitra kerjanya maupun masyarakat umum dengan penilaian luar biasa karena kecakapan dan keberhasilannya dalam memimpin organisasinya.

Sedangkan untuk anggota organisasi yang dimobilisasi, ada yang dengan sadar atau terpaksa mendukung ajakan pimpinan organisasi dengan cara curang demi kepentingan pimpinannya. Kesediaan anggota tersebut karena masih dalam tahap Kebutuhan Fisiologis (level 1) semata.

Kekuasaan memang merupakan kewenangan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang yang sedang menjalankan suatu hal. Kekuasaan ini bisa meliputi berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Dalam KBBI disebutkan jika kekuasaan merupakan kemampuan individu atau sekelompok orang untuk menguasai individu atau kelompok lainnya yang didasarkan pada wibawa, wewenang, kharisma atau kekuatan fisik.

Ditengarai ada dua, pertama dirinya sendiri karena tabiatnya, dan kedua, lingkaran orang terdekat atau para staf organisasi agar bisa tetap merasa aman dengan status dan kedudukan jabatannya.

Dalam realitas politik, prilaku itu mendapat legitimasi teori politik yang dikaji Max Weber, seorang ahli politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap salah satu pendiri awal dari Ilmu Sosiologi dan Administrasi negara modern.

Max Weber mendefinisikan kekuasaan atau power sebagai peluang atau sarana bagi seorang individu untuk dapat mencapai keinginannya sendiri bahkan sekalipun harus menghadapi perlawanan dari orang lain dalam hubungan sosialnya.

Sedangkan Miriam Budiardjo dalam buku Pengantar Ilmu Politik (2015), kekuasaan merupakan kemampuan individu atau sekelompok orang untuk mempengaruhi perilaku individu atau kelompok lainnya sesuai dengan yang diinginkan.

Jika menggabungkan definisi dari kedua pakar politik di atas, maka tafsir kata kuncinya bisa berarti “prilaku terencana untuk memuaskan ego/kepentingan pribadi dan atau faksinya demi membangun eksistensi diri dengan cara yang diyakini benar secara subyektif”.

Sebagai organisatoris, ketika menjalani dan berupaya menjaga harmoni interaksi antar anggota dan pimpinannya, tentu menghadapi berbagai masalah, drama, hingga permainan emosional jiwa pelaku, semata untuk menjaga ruh organisasi tetap terjaga sesuai cita-cita dan visi-misi ideal organisasi.

Meskipun, tidak dipungkiri selama proses perebutan kepemimpinan organisasi, keanggotaannya terbelah dalam faksi-faksi tertentu. Bahkan lazim bila terjadi perbedaan dalam cara pandang, selama prosesnya disandarkan pada etika berorganisasi yang benar dan santun.  

Meskipun dalam praktiknya, upaya meraih kemenangan bisa ditempuh dengan cara sesuai aturan dan mekanisme organisasi berbasis nilai etis-demokratis, atau dengan cara sebaliknya “memanipulasi kekuasaan, mengabaikan nilai etis, meski prosesnya dikemas demokratis”. *

*Artikel ini dipublished dengan tujuan untuk mengingat gagasan almarhum Khusnul Zaini

Share:
avatar

Redaksi