AS Harus Segera Keluar Dari Venezuela

Daulat

January 10, 2026

Nkomo A Gogo

Protes terhadap invasi AS ke Venezuela. (credits: NBC News)

“Para politisi tidak akan menyelamatkan kita; PBB tidak akan menyelamatkan kita; pengadilan internasional tidak akan menyelamatkan kita. Hanya kekuatan kolektif kita sendiri, yang diorganisir secara independen dalam skala internasional, yang dapat mengalahkan imperialisme dan menghentikan kemungkinan perang dunia ketiga.” AIF

LEBIH dari 170 delegasi dari anti-imperialis mengadakan pertemuan darurat secara online pada tanggal 7 Januari 2026. Pertemuan darurat ini dilakukan sebagai tanggapan atas penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Menteri Luar Negeri Celia Flores oleh rezim Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Pertemuan itu menyatukan serikat pekerja, organisasi sosialis, dan gerakan solidaritas internasional dari Afrika Selatan, Amerika Latin, dan sekitarnya. Partisipasi dan keterlibatan yang luas ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang keseriusan situasi, tidak hanya untuk Venezuela dan Amerika Latin, tetapi untuk seluruh dunia.

Ada pengakuan yang jelas bahwa Afrika Selatan sendiri hidup di bawah ancaman dan pemerasan terus-menerus dari AS. Terutama karena sikapnya terhadap Palestina dan BRICS.

Pertemuan ini mengutuk aksi gangsterisme politik yang dilakukan AS. Sehingga, sebagai reakisnya, telah mendeklarasikan fase baru perlawanan massa yang terkoordinasi terhadap intimidasi imperialis, permusuhan, dan dorongan menuju bencana perang dunia ketiga.

“Kami mengutuk dengan sekeras-kerasnya penculikan dan penahanan ilegal Presiden Maduro dan Menteri Luar Negeri Flores. Ini bukan peristiwa yang terisolasi, tetapi ekspresi paling tajam dari era baru imperialisme yang lebih berbahaya, dan mendorong dunia ke ambang konflik yang lebih luas,” kata juru bicara Anti-Imprealist Front (AIF), Juli Eccles, melalui rilis yang diterima redaksi Amira, Kamis (8/1).

Rezim Trump, katanya, bertindak sebagai cambuk populis sayap kanan, penghasut perang dan bonapartis untuk pemodal AS, mencabik-cabik kepura-puraan hukum internasional dan tatanan dunia berbasis aturan. Trump tidak mencari sekutu, tetapi mencari pengikut, dan meluncurkan perang militer dan perdagangan untuk mengendalikan sumber daya alam dan manusia, dan juga pasar global.

Dari Venezuela ke Palestina, dari Kolombia ke Iran, Nigeria dan Afrika Selatan, sistem yang sedang krisis menyerang Global South dan negara-negara yang lebih lemah di mana-mana.

Menurutnya, penipuan “perang melawan narkoba”, narkoterorisme, kediktatoran dan dalih lainnya hanyalah kedok untuk agenda kolonial menjarah mineral dan mengeksploitasi tenaga kerja. Fitnah baru-baru ini terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro dan agresi yang sedang berlangsung terhadap Venezuela membuktikan bahwa tidak ada negara berdaulat yang menentang diktat AS yang aman.

“Agresi yang meningkat ini menandakan pengabaian yang mengerikan terhadap multilateralisme dan perdamaian, meningkatkan ancaman kebakaran global,” katanya.

Krisis ini, katanya, berakar pada jalan buntu sistem kapitalis, yang ditandai dengan produksi yang berlebihan, persaingan yang intens untuk pasar, dan perebutan putus asa untuk sumber daya yang memicu mesin perang.

“Kami tidak memiliki ilusi pada kekuatan kapitalis manapun, baik itu Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, atau Cina, untuk menentang imperialisme pada prinsipnya. Konflik mereka satu sama lain untuk dominasi, bukan dengan sistem eksploitasi itu sendiri, dan persaingan mereka beresiko meledak menjadi perang dunia ketiga,” katanya.

Berdasarkan pengalaman Venezuela, sementara Venezuela mencapai keuntungan signifikan melalui nasionalisasi di bawah Chavez, pada akhirnya menunjukkan bahwa revolusi “setengah jalan”, atau tepatnya, reformisme, tidak dapat berhasil. Sehingga, negara kapitalis dan logikanya harus dipatahkan.

Pernyataan Kaja Kallas, EU High Representative for Foreign Affairs and Security Policy / Vice-President of the European Commission. (credits: X)

AIF mencatat bahwa penindasan hak-hak demokratis, kekuatan sosialis dan kelas pekerja di Venezuela, dan ikatan yang berkompromi yang dilalui oleh pemerintahnya. Satu-satunya ketergantungan kita yang tak tergoyahkan adalah pada kekuatan independen kelas pekerja internasional dan kaum tertindas untuk menghentikan pawai menuju perang, bukan birokrasi dan elit politik di Venezuela atau di mana pun.

“Kami salut dengan sikap Presiden Hugo Chavez, yang memutuskan semua hubungan dengan negara apartheid Zionis dan AS. Terlepas dari keterbatasan mendasar dari program reformisnya,” katanya.

Ia mengatakan AIF bersolidaritas bersama rakyat Venezuela, Palestina, Kolombia, Kuba, dan semua negara di bawah senjata imperialisme. Sembari menyatakan komitmen untuk membela kedaulatan dan hak penentuan nasib sendiri.

Perjuangan melawan blokade Gaza adalah perjuangan yang sama untuk melawan blokade dan agresi terhadap Venezuela. Perjuangan melawan hilangnya pekerjaan dan penghematan di Afrika Selatan, yang menjadi sasaran destabilisasi imperialis, secara intrinsik terkait dengan perang melawan korporasi yang mendapat keuntungan dari perang dan pendudukan.

Berdasarkan itu semua, terbentuklah AIF yang berorientasi pada aksi.

“Koalisi ini tidak bergantung pada posisi bersama pada setiap pemerintah, tetapi pada komitmen bersama untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan perang imperialis, penjarahan, dan ancaman bencana global yang membayangi,” lanjut Zaki Mamdoo juga dari AIF.

Aksi akan dimulai pada Senin, 12 Januari 2026, di Kedutaan Besar AS, Konsulat, dan situs simbolis kekuatan imperialis lainnya di seluruh Afrika Selatan.

Juga, mengintegrasikan mobilisasi anti-perang ini dengan kampanye “Penutupan Pabrik, Penghentian Pertumpahan Darah dalam Pekerjaan dan Deindustrialisasi” yang sedang berlangsung melawan penghematan, PHK massal, pencekikan industri dan penaklukan ekonomi ke dalam penggalian dan berkebun neokolonial.

Pun, AIF akan mengkampanyekan untuk mengekspos, memboikot, dan memblokade perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam imperialisme dan genosida, seperti Chevron, dan mereka yang ada dalam daftar BDS, dan, menarik hubungan antara eksploitasi ekonomi dan perang.

AIF, katanya, juga mendukung pembentukan badan koordinasi permanen, produksi buletin rutin, dan penggunaan media komunitas untuk mendidik, mengagitasi, dan mengorganisasi. Dan, akan terlibat dalam pengorganisasian akar rumput untuk mengklaim ruang publik untuk aksi politik dan pendidikan yang berkepanjangan.

AIF menyerukan kepada setiap serikat buruh dan organisasi masyarakat, mahasiswa, demokrat yang berprinsip dan pejuang keadilan sosial untuk bergabung bersama AIF. Komite-komite aksi anti-imperialis lokal di setiap wilayah dan pusat-pusat koordinasi provinsi di seluruh negeri dan bagian lain benua, dalam semangat dan tradisi internasionalisme.

Dan, mobilisasi besar-besaran untuk 6 Februari 2026 nanti. Sebab, musuh umat manusia saat ini adalah satu: imprealisme.*

Share:
avatar

Redaksi