Dilema Nobel Perdamaian; Kapitalisme Populer dan Petrostate

Hak Asasi Manusia

January 7, 2026

Jon Afrizal

Satu demonstrasi di Venezuela. (credits: AFP)

“Venezuela akan runtuh. Kami akan mengambil alih, dan mendapatkan seluruh cadangan minyak buminya.” [Pernyataan Donald Trump, 11 Juni 2023]

PRESIDEN Venezuela Nicolas Maduro, ditangkap oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui Operation Absolute Resolve, pada tanggal 3 Januari 2026 pukul 2 dini hari waktu setempat. Turut juga ditangkap Cilia Flores, istri dari Maduro.

Pasukan AS, menangkap Maduro setelah meningkatkan tekanan militer terhadap Venezuela selama berminggu-minggu, sejak November 2025 lalu. Maduro telah dibawa keluar dari Venezuela ke New York. Maduro didakwa dengan tuduhan terkait narkoba dan senjata di pengadilan Distrik New York Selatan.

Pemerintah AS telah menetapkan Nicolas Maduro dan kelompoknya sebagai anggota organisasi teroris narkotika. Penyebutan ini, dikaitkan dengan “Cartel de los Soles”, yakni kelompok jaringan perdagangan Narkotika yang diklaim AS dipimpin oleh Maduro, dan tokoh-tokoh politik senior dalam pemerintahannya.

“AS menjalankan pemerintahan Venezuela hingga ke masa transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Presiden Donald Trump, mengutip Council on Foreign Relations (CFR).

Lebih dari 150 pesawat Angkatan Bersenjata Amerika Serikat terlibat dalam operasi ini, yang membom infrastruktur di seluruh Venezuela utara untuk mendukung pasukan penangkapan yang mendarat di Caracas. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengecam penangkapan itu sebagai “tidak sah” dan terkesan “penculikan”. Demikian mengutip Reuters.

Pejabat pemerintah Venezuela dan Kuba mengklaim bahwa lebih dari 80 orang tewas dalam serangan itu. Termasuk 32 anggota militer dan anggota badan intelijen Kuba.

Hanya beberapa pekan sebelum penangkapan Maduro, Maria Corina Machado Parisca (58), pemimpin oposisi dari partai politik (parpol) Vente Venezuela menerima penghargaan Nobel Perdamaian 2025, di City Hall, Oslo, Norwegia, Rabu (10/12) lalu.

Maria Machado diwakili oleh putrinya, Ana Corina Sosa. Putrinya berpidato panjang lebar tentang tindakan represif dan militeristik pemerintahan Nicolas Maduro di Venezuela, dan bagaimana Maria Machado menghadapinya.

Maria Machado menyisihkan 337 kandidat dari 244 individu dan 94 organisasi. Satu kandidat itu, termasuk, yang paling sering dibicarakan, adalah: Donald Trump.

Nicolas Maduro dibawa keluar dari Venezuela dengan kapal perang USS Iwo Jima. (credits: United States Department of Defense)

Adapun alasan pemberian penghargaan Nobel Perdamaian terhadap Maria Machado, mengutip Nobel Prize, adalah atas kerja kerasnya yang tak kenal lelah dalam mempromosikan hak-hak demokrasi bagi rakyat Venezuela dan atas perjuangannya untuk mencapai transisi yang adil dan damai dari kediktatoran menuju demokrasi.

Semuanya terkesan, ehm, ironis, atau mungkin, ambigu.

Saat ini, Maria Machado dan pihak oposisi Maduro tengah “merayakan” kesuksesan intervensi militer AS di Venezuela. Mereka, secara terbuka memuji tindakan intervensi yang dilakukan oleh Donald Trump.

Maria Machado, mengutip CBS News, menyebut Trump sebagai “pejuang kebebasan” di belahan bumi barat.

Meskipun, mengutip CFR, Donald Trump menolak untuk mendukung kepemimpin Maria Machado. AS memilih untuk melanjutkan intervensi ini dengan langkah kehati-hatian dan dengan tujuan strategis yang lebih besar dari Operation Absolute Resolve untuk memeriksa berbagai tantangan dan ketidakpastian utama yang dapat terjadi ke depannya.

“Maria Machado adalah pilihan utama Washington, dan banyak kalangan Demokrat di dunia. Meskipun, jalan menuju kekuasaan tidaklah mudah,” kata Christopher Sabatini, peneliti dari Chatham House, mengutip Newsweek.

Sabatini mengatakan bahwa para elite pemerintahan Maduro, yang banyak di antaranya berada di bawah sanksi AS, akan berupaya sekuat tenaga mempertahankan posisi mereka. Meskipun, tidak benar-benar menjadi kepentingan bagi mereka untuk menyingkir, dan membiarkan Maria Corina Machado memasuki istana presiden dengan mudah.

“Terutama karena Maria Machado telah berbicara tentang memastikan keadilan bagi mereka yang melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), atau terlibat dalam kegiatan ilegal,” kata Sabatini.

Sebelumnya, pada sebuah wawancara, Maria Machado menyatakan bahwa ia mendedikasikan penghargaan Nobel Perdamaian yang didapatnya kepada Donald Trump. Ia menilai Trump berhasil menempatkan krisis Venezuela sebagai prioritas utama bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

“Kami telah meminta intervensi ini selama bertahun-tahun, dan akhirnya terjadi. Itulah mengapa saya yakin rezim Maduro akan runtuh,” katanya, mengutip CNN.

Dukungan Maria Machado terhadap intervensi Trump mencakup berbagai langkah keras yang diambil Washington dalam beberapa pekan terakhir. Termasuk penguatan aset militer AS di kawasan Amerika Latin.

Maria Maduro juga mendukung serangan AS terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dan penyitaan anjungan minyak bumi milik Venezuela.

“Meskipun ada resiko ekonomi bagi rakyat Venezuela yang sudah miskin akibat sanksi dan penyitaan minyak, namun, intervensi ini perlu diambil demi keselamatan nyawa warga dalam jangka panjang,” lanjutnya.

Maria Machado adalah anti-Chavismo. Chavismo adalah ideologi politik populis dan otoriter sayap kiri berdasarkan ide, program, dan gaya pemerintahan yang terkait dengan Hugo Chavez, dan selanjutnya, Nicolas Maduro. Chavismo menggabungkan unsur-unsur patriotisme sosialis, Bolivarianisme, dan integrasi Amerika Latin.

Padahal, mentor politik Maria Machado adalah Hugo Chavez.

Maria Machado, penerima Nobel Perdamaian 2025 dari Venezuela. (credits: flickr)

Dan, selama bertahun-tahun pula, Maria Machado dianggap sebagai musuh bebuyutan partai penguasa, sekaligus tokoh oposisi yang bahkan di puncak kekuasaan Chavismo tetap mengkritik Hugo Chavez dan sistem pemerintahannya.

Maria Machado, mengutip Associated Press, adalah: seorang konservatif dan pendukung pasar bebas yang dipandang radikal bahkan di antara oposisi yang condong ke kanan karena keengganannya untuk bernegosiasi dengan pemerintah Maduro.

Sehingga, Maria Machado adalah orang Venezuela yang paling dipercaya oleh dunia barat. Mungkin saja, ia dapat disebut sebagai koalisi barat di Venezuela.

Sebagai advokat “kapitalisme populer”, Maria Machado bertujuan untuk mengubur sosialisme selamanya. Ia adalah anti-komunis, issue yang dari dulu disukai dunia barat, dan Maria Machado adalah penandatangan Piagam Madrid 2020.

Piagam Madrid tercipta dari Forum Madrid, yakni organisasi anti-komunis yang dibentuk pada 26 Oktober 2020 oleh Disenso Foundation, bagian dari parpol Vox, yakni parpol konservatif Spanyol.

Ini semua, tentunya, bukan sebuah kebetulan semata.

Venezuela, mengutip CFR, adalah negara Petrostate. Yakni negara dengan; pendapatan pemerintah sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas alam, kekuatan ekonomi dan politik sangat terkonsentrasi pada minoritas elit, dan, institusi politik lemah dan tidak akuntabel, dan korupsi tersebar luas.

Negara-negara yang sering digambarkan sebagai Petrostate, adalah; Aljazair, Kamerun, Chad, Ekuador, Indonesia, Iran, Kazakhstan, Libya, Meksiko, Nigeria, Oman, Qatar, Rusia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan, Venezuela.

Cadangan minyak bumi Venezuela, mengutip CFR, adalah yang terbesar di dunia. Dengan perkiraan 304 miliar barel atau 18 persen dari cadangan global, pada 2020. Venezuela menjadi satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Produksi minyak memuncak pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Donald Trump mengawasi penangkapan Nicolas Maduro. (credits: flickr)

Pada 2006, Venezuela adalah salah satu pemasok minyak terbesar ke AS. Venezuela mengekspor sekitar 1,4 juta barel per hari untuk AS, pada tahun itu.

Namun, seluruh sumber daya alam itu, telah menyebabkan krisis. Yang berawal dari ekonomi yang bergantung sepenuhnya terhadap minyak bumi, dan terjainya penurunan produksi minyak bumi pada tahun 2023.

Yang telah menyebabkan krisis ekonomi di sepanjang tahun 2014 hingga 2021. Dan telah menambah beban hutang negara sebesar USD 150 miliar, hingga, terjadilah hiperinflasi.

Pun, ditambah dengan otoritarianisme yang dilakukan oleh Presiden Nicolas Maduro dan kelompoknya.

Lantas, dimana posisi Nobel Perdamaian, jika yang terpilih adalah “by design”? Mungkin saja, terbuka ruang perdebatan yang sangat luas untuk itu semua.

Padahal, untuk mengingatkan, Nobel Prize yang diberikan oleh The Nobel Foundation adalah sesuai dengan prinsip: untuk kepentingan terbesar bagi umat manusia.

Dan, sepertinya makna dari kata; “intervensi” dan “campur tangan” pun telah terlalu jauh “berkembang”, dan menjadi bagian dari definisi: perdamaian.*

Share:
avatar

Redaksi