Tentang Keistimewaan Seberang Jambi

Budaya & Seni

July 24, 2026

Jon Afrizal/Kota Jambi

Wilayah Seberang Jambi. (credits: Wiki Commons/amira.co.id)

Ketika tentara Hindia Belanda merebut Kraton Tanah Pilih, yang berada di Masjid Agung Al Falah pada saat ini, pada tahun 1858, Belanda pun menghancurkan Kraton Tanah Pilih, dan membangun benteng tepat di atas puing-puing Kraton.

WILAYAH di Seberang Jambi, seperti Olak Kemang, telah lama tercatat dalam sejarah. Yakni sebagai wilayah yang terbuka bagi pendatang.

Sebagai bukti, banyak ditemukan keramik-keramik Tiongkok, yang menunjukkan bahwa wilayah ini atau orang-orang yang bertempat tinggal di sini, berhubungan dengan Tiongkok sejak dinasti Song (960 M – 1279 M). Dinasti ini didirikan oleh Kaisar Taizu, dan kerap dianggap sebagai era kekaisaran termakmur dalam sejarah Tiongkok.

Dan, juga terdapat “Pecinan” (pemukiman Tionghoa) di wilayah Seberang. “Pecinan” di Seberang, menurut catatan-catatan Belanda, masih bertahan hingga tahun 1930-an. Meskipun sebagian besar orang Tionghoa telah pergi sejak tahun 1700-an.

Dapat juga ditarik hubungan wilayah Seberang dengan India, yang telah terjadi sejak akhir abad pertama Masehi. Ini dapat terlihat dari pahatan-pahatan berbahan kayu, yang hingga kini banyak ditemukan di sana, yang menjelaskan hubungan ini.

“Penduduk asli menempati seluruh tepi kanan, dan beberapa orang Arab dan orang asing lainnya yang menetap di bagian dari kiri”. Demikian mengutip laporan pejabat Inggris, Letnan Crooke pada awal abad ke-19 M, dalam buku John Anderson yang berjudul “Mission to the East Coast of Sumatra in 1823”.

Laporan Crooke juga menjelaskan bahwa wilayah Kota Jambi membentang seluas 3,4 mil (5,4 kilometer) di sepanjang kedua tepi Sungai Batanghari.

Penjelasan ini, juga telah menunjukan bahwa para pedagang Inggris dan Belanda, yang selanjutnya juga mendirikan pabrik di Seberang pada abad ke-17 M. 

Namun, ketika tentara Hindia Belanda merebut Kraton Tanah Pilih, yang berada di Masjid Agung Al Falah saat ini, pada tahun 1858, Belanda pun menghancurkan Kraton Tanah Pilih, dan membangun benteng tepat di atas puing-puing Kraton.

Jejak dari Kraton Tanah Pilih yang tampak depan adalah sama persis dengan tampak depan Masjid Agung Al Falah, masih dapat ditelusuri.

Jembatan Gental Arasy yang menghubungkan wilayah Seberang Jambi ke Pasar Jambi. (credits: Wiki Commons/amira.co.id)

Secara budaya Melayu Jambi, mereka yang telah meninggal dunia, akan dimakamkan di bagian belakang rumah setiap kelaurga yang ditinggalkan. Dan, pada bagian belakang Kraton, yang saat ini adalah di sekitar Museum Perjuangan dan Kantor Lurah Danau Sipin, masih dapat ditemui banyak makam-makam lama.

Pun, Putri Ayu, seorang keturunan Kraton Tanah Pilih, juga dimakamkan di titik yang sekarang adalah tepat di bagian depan loket PDAM, di tower air PDAM, di bawah kerindangan pohon, yang berbatasan dengan Puskesmas Putri Ayu. Putri Ayu, dimakamkam kembali pada awal tahun 1980-an di TPU Putri Ayu, yang kini berada di sekitar Danau Sipin.

Atas dasar penghormatan terhadap Putri Ayu, yang adalah kerabat Kraton, maka nama Puskesmas dan TPU yang hadir setelahnya, pun disematkan nama Putri Ayu padanya.

Perpindahanan kerabat Kraton Tanh Pilih dari wilayah Pasar Jambi ke Seberang ini, juga dapat disinkronkan dengan pernyataan dari KDYMM Sayid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah sebagai Sultan Jambi Daarul Haq. Ia dinabalkan sebagai Sultan Jambi pada tanggal 28 Juli 2022.

Sejak saat itu, wilayah Seberang pun menjadi tempat mediasi, dimana para bangsawan Arab bertemu dan bernegosiasi dengan Belanda, atas nama Sultan Jambi. Padahal, Sultan Thaha Syaifuddin, yang adalah Sultan Jambi yang sah kala itu, yang tengah bergerilya di wilayah huluan Jambi, tepatnya, di Muara Tebo dan sekitarnya, sejak dari Muaro Ketalo ke Mangun Jaya, hingga ke Tanah Garo.

Dan ketika Belanda memposisikan diri di tepi kanan Sungai Batanghari (wilayah Pasar Kota Jambi saat ini), sejak kala itu pula penduduk Tionghoa yang berada di Pecinan di Seberang, ikut berpindah. Dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari peluang perdagangan, tentunya.

Sementara Orang Melayu Jambi, berpindah ke wilayah yang sebelumnya adalah “Pecinan”. Demikian dijelaskan Fiona Kerlogue dari Research Associate di School of Oriental and African Studies di University of London dalam buku berjudul “Kinship and Food in South East Asia”.

Dapat dijelaskan bahwa Kota Jambi saat ini, secara geografis, dibagi menjadi dua bagian menurut tepi Sungai Batanghari.

Pada bagian utara Sungai Batanghari, adalah wilayah Seberang. Dan di bagian selatan adalah wilayah Pasar Kota Jambi.

Wilayah Seberang terdiri dari dua kecamatan, yakni; Kecamatan Danau Teluk dan Kecamatan Pelayangan. Kecamatan Danau Teluk terdiri dari lima kelurahan/desa. Yakni; Kelurahan Pasir Panjang, Tanjung Raden, Tanjung Pasir, Olak Kemang, dan Ulu Gedong.

Peta wilayah Pasar Jambi tahun 1886. (credits: Eigen Haard/amira.co.id)

Dan Kecamatan Pelayangan terdiri dari enam kelurahan/desa. Yakni; Kelurahan Tengah, Jelmu, Mundung Laut, Arab Melayu, Tahtul Yaman, dan Tanjung Johor.

Akibat dari kondisi di akhir tahun 1800-an tadi, maka penduduk di wilayah hulu Seberang, seperti Olak Kemang, adalah tetap Orang Melayu Jambi.

Sedangkan penduduk di wilayah hilir Seberang, seperti Arab Melayu, adalah pembauran dari keturunan para pedagang dari wilayah Timur Tengah (Arab) dengan Orang Melayu Jambi. Sehingga, hingga hari ini, mereka menyebut diri sebagai: Arab Melayu.

Meskipun, juga tidak dapat dinafikan, bahwa juga terjadi perbauran dengan para pendatang dari Jawa, Palembang, dan Bugis-Mengkasar.

Dan, orang Melayu Jambi di wilayah Seberang, dalam hal ini, juga mentoleransi adanya perkawinan yang berbeda suku. Meskipun, secara kepercayaan, sebagai batasannya, yakni sesama penganut Muslim.

Sehingga, sebagai dampak dari perbauran ini, akan sulit untuk mengklarifikasi tentang persoalan klaim atas warisan budaya. Sebagai kekerabatan yang terbentuk sejak lama, yang menjadi ambigu, hingga hari ini.

Fakta dari pembauran ini, sebagai bukti secara linguistik, banyak orang-orang tua (sepuh) di wilayah Seberang, tidak menyebut diri mereka Aku atau Sayo (Saya), seperti Orang Melayu Jambi pada umumnya. Orang-orangtua di Seberang menyebut dirinya: Kulo.

Kata Kulo dalam bahasa Jawa, berada dalam tingkatan Kromo (Bahasa Halus).

Pun juga, akan menjadi soal, tentang bagaimana Provinsi Jambi mengklaim bahwa Batik Jambi adalah memang Budaya Jambi. Meskipun jejak Batik di Seberang telah ada sejak tahun 1800-an.

Yang, menurut Yohanes Primus Supriono dalam buku berjudul “Ensiklopedia The Heritage Of Batik, Identitas Pemersatu Kebanggaan Bangsa” dibawa oleh keluarga Haji Muhibat dari Jawa Tengah pada tahun 1875. Keluarga ini berkemungkinan menetap di Kelurahan Tengah di wilayah Seberang.

Pada awalnya, Batik dikhususkan untuk kerabat Keraton di Kesultanan Jambi.

Senyatanya, budaya bathik, lengkap dengan malam (lilin) dan canting, diketahui adalah budaya yang berasal dari Jawa.

Mengutip laman UNESCO, Batik Indonesia secara resmi diakui oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Takbenda) pada tanggal 2 Oktober 2009.

Sementara, budaya Melayu terkait kain, adalah Songket. Yang juga disebut dengan Kain Emas, Kain Songket Jambi telah menjadi catatan negeri China pada abad ke-13 M.

Mengutip Jon Afrizal dalam buku berjudul “Mantra Melayu”, kata “Songket”, mungkin saja, berasal dari kata sungkit dalam bahasa Melayu, yang berartinya: mengait. Kata ini mengacu pada cara pembuatan songket, yakni mengait dan mengambil seutas benang, dan lalu menyelipkan benang emas 14 karat ke dalamnya.

Sehingga, budaya, dan juga sejarah, adalah pembuktian. Dan bagaimana kita harus menjelaskannya, sesuai dengan nalar keilmuan.*

Share:
avatar

Redaksi