“Tuan Guru Tarekat” Dalam Sejarah Sumatra

Inovasi

June 12, 2026

Jon Afrizal

Pantai Barus, Tapanuli Tengah. (credits: Wiki Commons)

DALAM Bahasa Minang, seseorang yang pintar atau mengerti agama Islam, atau seseorang yang taat menjalankan ibadah secara Islam, kerap disebut “Urang Siak”. Sedangkan mereka yang sedang belajar agama di surau, disebut “Anak Siak”.

Meskipun, harus diakui, bahwa budaya Lalok Di Surau (tidur dan belajar agama Islam di surau) bagi anak laki-laki Minangkabau, kini telah banyak ditinggalkan.

Secara historis, penyebutan Siak ini terhubungan dengan tempat awal masuknya Islam ke Minangkabau. Yakni melalui Sungai Siak.

William Marsden dalam buku History of Sumatra menjelaskan bahwa terbukanya perdagangan di pulau Sumatra di abad ke-7 Masehi, terutama di Pantai Timur, tidak terlepas dari peranan Sungai Siak.

Sungai Siak, atau juga disebut Sungai Jantan, berada di di Provinsi Riau, dan bermuara ke Selat Malaka. Sungai Siak dengan panjang sekitar 370 kilometer, adalah sungai terdalam di Indonesia, dengan kedalaman antara 18 meter hingga 30 meter.

Sungai Siak, tentunya saja terhubung dengan kebesaran Kesultanan Siak Sri Inderapura.

Sungai Siak, Provinsi Riau. (credits: Wiki Commons)

Pun, buku Azyumardi Azra berjudul “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” menyebutkan hal yang sama. Ketika agama Islam dibawa oleh para pedagang Arab dan Gujarat, dan ketika itulah persebaran Islam menjangkau hingga ke bagian tengah Sumatra.

Dalam petetah petitih keadatan Minangkabau, dikenal prasa “adaik manurun, syarak mandaki”. Yang dapat diartikan bahwa adaik (adat) berasal wilayah pedalaman Minangkabau, atau dikenal dengan istilah darek (darat). Sementara, agama berasal dari wilayah rantau (pesisir) ke darat. 

Yang dimaksud dengan wilayah rantau oleh Urang Minangkabau, adalah, wilayah perluasan pemukiman masyarakat Minangkabau di luar wilayah awal atau inti dari Minangkabau, yang biasa disebut darek atau Luhak Nan Tigo. Yakni konfederasi Tanahdatar, Agam dan Limopuluh.

Ketiga konfederasi ini, secara tradisional, diwakilkan memalui Marawa (simbol) yang aslinya merujuk pada kata “Marwah” dalam Bahasa Melayu. Warna kuning adalah simbol untuk Tanahdatar, warna merah untuk Agam dan warna hitam untuk Limopuluh.

Semula, wilayah rantau adalah tempat untuk mencari penghidupan atau berdagang. Dan selanjutnya, menyebarkan kebudayaan atau dalam penelitian ilmiah kerap disebut dengan penetrasi.

Secara tidak langsung, Tambo Minangkabau pun telah menjelaskan tentang pola persebaran ini. Yakni dengan anjuran yang menggunakan prasa “Pergilah ke …”.

Jika dikaitkan dengan keberadaan Kesultanan Jambi, yakni di era Islam, maka, inipun terjadi pada Puteri Selaro Pinang Masak yang adalah cucu dari Maharajadiraja Adityawarman. Adityawarman adalah anak dari Dara Jingga.

Puteri Selaro Pinang Masak dianjurkan untuk pulang kembali ke Jambi. Ia bergerak dari Suruasu menuju ke wilayah Hilir Jambi, yakni Pulau Berhala, untuk mendirikan Kesulatanan Jambi di abad ke-14 M.

Selanjutnya, kerajaan yang dipimpinnya bersama Ahmad Barus II (Datuk Paduka Berhalo) terkenal hingga ke Jawa, di era perdagangan pinang (Areca catechu) di abad ke-14 M. Yang, dalam Bahasa Jawa, pinang disebut dengan “jambe”.

Penetapan wilayah rantau ini, tentu saja, terlepas dari persetujuan orang tempatan, yang awalnya telah berada di wilayah rantau itu. Demikian mengutip Tambo Minangkabau, dalam beberapa versi. Meskiapun, selanjutnya tercatat dalam mitologi di masing-masing wilayah yang disebut rantau, bahwa masing-masingnya telah saling terhubung dalam kekerabatan darah.

Pun secara tidak langsung, juga menjelaskan tentang persebaran agama Islam, yang berasal dari wilayah pesisir (rantau). Dan, sejauh ini, penjelasan yang akurat,bahwa wilayah Siak dan sekitarnya, adalah juga termasuk wilayah rantau Urang Minangkabau. Hingga kini pun memang demikian faktanya.

Yang, jika mengutip Jon Afrizal dalam buku “Mantra Melayu”, bahwa penjelasan tentang petatah petitih ini akan semakin jelas mengungkapkan pola persebaran Urang Minangkabau, melalui Sungai Siak dan Sungai Kampar.

Yang kemudian termanifestasi dalam gerakan perlawanan terhadap Belanda selama 30 tahun, yakni Perang Padri di tahun 1803 hingga 1837. Gerakan yang menghubungkan antara tiga wilayah. Yakni; Bonjol di Pasaman – Tapanuli Selatan – Rokan di Riau.

Secara geografis, ketiganya adalah tiga wilayah yang saling berdekatan. Meskipun kini berada di tiga provinsi yang berbeda, Yakni; Sumatra Barat, Sumatera Utara dan Riau.

Dan dari ketiga wilayah ini, dapat disimpulkan bahwa Tuanku Rao, Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai, adalah berada dalam satu kekerabatan, yang disebut dengan Urang Rao. Demikian mengutip Amran Datuk Jorajo dalam buku “Orang Rao Dari Masa Klasik Hingga Kontemporer”.

Patung Tuanku Rao di Lubuk Sikaping, Pasaman, Sumatra Barat. (credits: Urang Rao)

Ketiganya, melanjutkkan perjuangan dari Harimau Nan Salapan. Yakni delapan pemuka agama ini, yang adalah; Tuanku nan Renceh dari Kamang, Tuanku Lubuk Aur dari Canduang, Tuanku Barapi dari Pasir, Tuanku Biaro, Tuanku Kapau, Tuanku Padang Luar, tuanku Ladang Lawas, Tuanku Galung, dan Tuanku Mansingan. Pemimpin dari delapan pemuka agama ini, disepakati, adalah Tuanku Mansingan.

Adapun yang dimaksud dengan wilayah rantau, secara tradisional, adalah; Rantau Pesisir yang memanjang di sepanjang pesisir barat pulau Sumatra, sejak dari Barus dan Sibolga, kawasan Padang, hingga pantai barat daya Aceh.

Lalu, Rantau Timur yang meliputi wilayah sepanjang aliran sungai-sungai besar. Seperti Kampar, Kuantan, Indragiri di Riau, serta sebagian wilayah yang berbatasan dengan Jambi, seperti Bungo dan sekitarnya, dan utara Bengkulu.

Selanjutnya, Rantau Selatan yang meliputi kawasan bagian selatan Minangkabau. Seperti daerah Pasaman hingga wilayah perbatasan ke arah Sumatra Utara (Mandailing) dan daerah Rao.

Pun, wilayah Kampar, juga kerap dimasukan ke dalam Luhak Limopuluh.

Adapun terkait dengan keberadaan Islam di Tapanuli Selatan, data yang dihimpun menyebutkan bahwa Islam telah tersebar di wilayah ini, sejak abad ke-7 M. Dapat juga disebutkan, persebaran di Tapanuli Selatan ini terkait dengan sejarah Tarekat, termasuk Tarekat Naqsabandiyah dan Tarekat Syattariyah, di Sumatra.

Artinya, adalah sama waktunya dengan masuknya Islam di wilayah tengah Sumatra, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dimana Tuan Guru Tarekat berperan dalam persebaran agama Islam. Demikian mengutip Jon Afrizal.

Dalam dunia Tarekat, pemimpin setiap kelompok kerap disebut dengan Mursyid. Namun, dalam tradisi Nusantara, penyebutan hormat seperti “Tuan Guru” adalah lebih sering dijumpai.

Sehingga, adalah menjadi lazim, jika kemudian para pemimpin Perang Padri, selanjutnya disebut dengan “Tuanku”.

Pun, hingga hari ini, ketiga wilayah yang saling berdekatan yakni Bonjol di Pasaman – Tapanuli Selatan – Rokan di Riau, kerap dijumpai Rumah Suluk. Suluk dalam tarekat, adalah praktek pensucian diri, dengan melebihkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta, dan mengurangkan dunia dan kebendaannya.

Jika mengutip Ellya Roza dalam penelitian berjudul “Mengungkap Jejak Sejarah: Titik Nol Di Barus Sebagai Gerbang Awal Peradaban Islam di Nusantara”, maka, Titik Nol Barus adalah tempat dimana peradaban dan budaya Islam di Nusantara berawal.

Sehingga, jika terdapat rujukan yang lain, terlebih tentang “melebih-lebihkan hal-hal buruk” yang terjadi di era Perang Padri, maka tidak dapat ditampilkan di sini. Ini dengan tujuan untuk menghindari pseudohistory ataupun cryptohistory.

Dan, tulisan ini hanya menampilkan rujukan yang sahih saja. Yakni dengan data dan referensi yang jelas, yang merujuk tepat pada masanya, dan tanpa intepretasi yang kontroversial dan okultisme, dan juga pemutarbalikan fakta sejarah.

Terlebih, Hamka pun telah dengan terang menjelaskannnya. Dan satu buku yang patut untuk dirujuk, karena kejelasan referensinya, adalah karya Hamka yang berjudul “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao”.

Adapun, Barus yang dimaksud dalam sejarah adalah Barus Raya. Yakni kawasan yang dahulunya adalah penghasil kapur barus (kamper) dari pohon Dryobalanops aromatica, dan juga gaharu.

Barus Raya, Tapanuli Tengah. (credits: Liputan6)

Terutama, Lobu Tua. Wilayah ini terletak di pantai barat Sumatera.

Sebagian wilayah Barus Rayanya yang dulu, kini, adalah termasuk ke dalam Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Demikian mengutip Nurfaezal dalam penelitian berjudul “Barus Dan Kamper Dalam Sejarah Awal Islam Nusantara”.

Bahkan, jika merujuk pada catatan-catatan lama, maka, wialyah Barus Raya telah dikenal di perdagangan sejak abad ke-5 M. Sehingga, sejak saat itu pula persebaran agama Islam telah menuju ke wilayah-wilayah tengah Sumatra.

Tetapi, dari tulisan yang sederhana ini, juga terbuka kemungkinan lain. Bahwa “kamper” adalah juga mengacu pada nama Sungai Kampar.

Sebab, dua sungai yang bertemu, yakni aliran Sungai Kampar Kanan menyusuri Kabupaten Pasaman, Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Kampar. Sedangkan aliran Sungai Kampar Kiri melewati Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Kampar.

Sehingga, tentu saja, kedua sungai ini terhubung dengan wilayah tengah Sumatra. Wilayah tengah yang dikenal dengan berbagai sumber daya alam yang diperdagangkan pada masa itu.

Adapun Jambi, pada abad ke-7 M, adalah pelabuhan yang mandiri, dengan Sungai Batanghari yang bermuara ke Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Pengakuan terhadap keberadaan agama Islam, secara resmi adalah pada abad ke-14 M. Yakni dengan berubahnya Kerajaan Jambi menjadi Kesultanan Jambi, semasa pemerintahan Datuk Paduka Berhala dan Putri Selaro Pinang Masak.

Sedangkan wilayah-wilayah lain, yang belum sempat tersebutkan di tulisan ini, akan dijelaskan pada artikel-artikel berikutnya.*

Share:
avatar

Redaksi