Memindahkan Ratusan Gajah Sejauh 70 Kilometer

Lingkungan & Krisis Iklim

February 5, 2026

Jon Afrizal

Rombongan gajah yang digiring pada “Operasi Ganesya” tahun 1982. (credits: Helfianet)

Ratusan ekor gajah digiring dengan menempuh jarak sejauh 70 kilometer dari tempat asalnya, dengan waktu perjalanan selama 44 hari.

BUKANLAH tidak pernah ada kegiatan menggiring gajah dan memindahkannya ke tempat lain, di Indonesia. Sudah pernah terjadi, dan ini adalah yang pertama dan terbesar dalam catatan peradaban modern.

Sandi: “Operasi Ganesya”, demikian namanya, yang terjadi dua kali, yakni pada tahun 1982 dan 1984. Kegiatan penggiringan gajah (Elephas maximus sumatranus) itu terjadi dari Air Sugihan di Sumatra Selatan (Sumsel) ke Lebong Hitam di perbatasan Provinsi Lampung.

Bahkan, “Operasi Ganesya”, yang adalah realita, terjadi jauh sebelum film “Operation Dumbo Drop” yang ksatria dan enviromentalist dirilis di tahun 1995. Sebuah film rekaan bergenre komedi perang bersetting Vietnam War, yang diproduksi oleh Walt Disney, dengan Danny Glover sebagai peran utama.

Satu sisi, ada orang yang berpikir, bahwa ini adalah upaya penyelamatan satwa. Tapi, di sisi lain, ada juga yang berpikir bahwa project pembangunan dapat melakukan apapun.

Tapi, bagi orang lapangan, tugas adalah tugas, dan menjadi tanggungjawab. Apapun resiko yang akan dihadapi, harus dilaksanakan.

Dan, entahlah, apa pendapat para gajah, jika saja mereka dapat berbicara dengan menggunakan bahasa manusia. Mungkin saja, akan tercipta perdebatan yang panjang, antara manusia dan gajah, yang me-mumet-kan kepala masing-masingnya, dan akan memakan waktu seusia alam raya ini.

“Operasi Ganesya” pertama terjadi pada tahun 1982, dimana ratusan ekor gajah digiring dan harus menempuh jarak sejauh 70 kilometer dari tempat asalnya. “Operasi Ganesya” telah memindahkan 232 ekor gajah dari habitat aslinya, ke tempat baru, dengan waktu perjalanan selama 44 hari.

Air Sugihan, menurut folklore, adalah “daerah lama”. Pemukiman di sana, yang telah ada, mungkin, sejak sebelum era yang dalam catatan Belanda biasa disebut sebagai: Sri Vijaya. Khusus untuk ibukota Sri Vijaya tidak dibahas di tulisan ini. Sebab, lagi-lagi, untuk menghindari perdebatan yang out of focus.

Dalam catatan sejarah, diketahui bahwa pada era penyerangan Kerajaan Chola, pasukan Sri Vijaya berperang melawan pasukan Kerajaan Chola dengan menggunakan gajah sebagai tunggangannya. Gajah-gajah itu berasal dari Air Sugihan.

Kata “air” dalam bahasa Melayu adalah merujuk pada kata: sungai. Sungai Sugihan, adalah tempat cadangan air bagi satwa tambun ini. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sugihan mengalir di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Satgas “Operasi Ganesya” 1982. (credits: Helfianet)

Pun, para peneliti arkeologi telah menemukan sekian banyak artefak, terkait kehidupan masa lalu, di wilayah Air Sugihan. Air Sugihan, yang kini adalah bernama Kecamatan Air Sugihan, berada di Kabupaten OKI.

Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, didatangkan sekitar 200.000 jiwa transmigran ke Air Sugihan. Seperti umumnya wilayah transmigrasi, setiap Kepala Keluarga (KK) tentunya mendapatkan wilayah garapan yang sesuai dengan aturannya.

Maka, hutan demi hutan pun dibuka menjadi areal pertanian atau perkebunan, sekaligus sebagai perkampungan transmigran.

Kondisi pembukaan lahan ini, juga diperparah dengan penebangan hutan atas nama Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dengan daya rusak hutan alam yang sangat tinggi.

Konflik pun terjadi. Transmigran yang adalah eksotik, merasa terusik dengan keberadaan gajah yang adalah endemik.

Gajah yang terdesak, dinyatakan telah memasuki areal perkampungan transmigran, pada tahun 1982. Padahal, wilayah yang dimasuki gajah itu, sesungguhnya, adalah jalurnya gajah.

Rombongan gajah pada saat itu, sebenarnya sedang melaksanakan ritual tahunan mereka. Yakni sebuah perjalanan rutin ke wilayah laut untuk memenuhi kebutuhan garam pada tubuhnya.

Namun, ketika hendak kembali pulang ke hutan sekunder di Air Sugihan, jalurnya sudah terpotong, karena adanya permukiman transmigran.

Toh, gajah, tidak ditakdirkan untuk hidup di hutan rimba yang sangat lebat, dengan kerapatan pohon tanpa sinar matahari. Seperti halnya harimau Sumatra (panthera tigris sumatrae) yang dapat memanjat pohon.

Sebab, gajah, umumnya, berkehidupan dan mencari makan di padang (sabana) yang bersemak dan ilalang, dengan sedikit ditumbuhi pohon. Yang dalam bahasa Kehutanan, disebut sebagai Hutan Sekunder.

Emil Salim, seorang developmentalist, ketika itu menjabat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Ia lalu melaporkan konflik gajah – manusia ke Presiden Soeharto.

Mengutip buku “90 Tahun Prof. Emil Salim”, awalnya, gajah-gajah itu akan ditembak.

Gajah di SM Padang Sugian. (credist: Wiki Commons)

Presiden Soeharto, lalu, menelepon Panglima Kodam Sriwijaya yang juga Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban Daerah (Pangkopkamtibda) Sumsel, Brigadir Jenderal Try Sutrisno. Soeharto meminta Try Sutrisno, untuk membatalkan rencana penembakan gajah-gajah itu, dan mencari cara lain.

Lalu, Soeharto pun meminta Emil Salim agar memindahkan gajah-gajah itu.

“Bagaimana caranya? Dalam sejarah dunia belum ada project pemindahan gajah,” jawab Emil Salim kepada Soeharto, waktu itu.

Soeharto, sepertinya tidak peduli. Ia meminta Emil Salim bekerjasama dengan TNI dan instansi lain. Maka, dibentuklah Satuan Tugas (satgas) “Operasi Ganesya” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel CPM I Gusti Kompyang Manila.

Satgas “Operasi Ganesha”, mengutip Helfianet, terdiri dari anggota militer dari Kodam Sriwijaya, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, beberapa transmigran, dan sejumlah tenaga ahli, dengan total jumlah sekitar 400 orang.

Saatnya tiba, Komandan satgas mengusulkan agar tim membuat bunyi-bunyian dari berbagai benda dan alat musik untuk menggiring gerombolan gajah.

Perjalanan sepanjang 70 kilometer yang harus melalui medan yang cukup berat, berupa rawa, hutan, serta sungai dengan lebar sekitar 60 meter. Belum lagi, rombongan gajah yang merajuk tiba-tiba tidak mau bergerak, ketika ada anak-anak gajah terduduk dan tertidur, karena kelelahan.

Kenyataannya, dengan tubuhnya yang besar, gajah dapat berbaris teratur. Yang betina di depan dan di samping rombongan. Di bagian tengah berkumpul semua anak gajah dan di belakang berbaris gajah jantan. Konfigurasi ini persis seperti pasukan tentara yang berbaris dan saling melindungi dari ancaman musuh.

Lukisan “Kasisar Mugal, Akbar Yang Agung sedang menunggang gajah”, sekitar tahun 1600 M. (credits: Staatliche Museen zu berlin – Museen fur islamische Kunst)

Sehingga, sama seperti catatan sejarah yang dibicarakan sebelumnya, bahwa gajah telah digunakan sebagai tunggangan pasukan perang Sri Vijaya. Dalam kemiliteran kuni, pasukan yang menunggang gajah disebut dengan “elephantry”.

Ketika menyeberangi sungai selebar 60 meter, misalnya, gajah-gajah dewasa berjajar di sungai membentuk jembatan. Lalu anak-anak gajah menyeberang di atas punggung gajah dewasa.

Setelah berjalan beriring selama 44 hari, gajah-gajah itu pun tiba ke tempat tujuan, di Lebong Hitam, di perbatasan Provinsi Lampung. Sungai Lebong Hitam berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten OKI, Sumsel dengan Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.

Adapun kerabat dari gajah yang telah dipindahkan itu, masih ada di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, di Kabupaten OKI, Provinsi Sumatra Selatan. Sebanyak 127 ekor gajah hidup di areal seluas 750 kilometer persegi.

Selanjutnya, pada tahun 1984 pada “Operasi Ganesya” II, puluhan ekor gajah dari Gunung Madu, Lampung Tengah dipindahkan ke Way Kambas melalui program Tata Liman. Dengan tujuan bertujuan untuk meniadakan konflik manusia dengan gajah bagi masyarakat transmigran, dalam hal persoalan alih fungsi lahan.

Gajah di Way Kambas. (credist: TN Way Kambas)

Mengutip Mongabay, terdapat tiga program dalam “Operasi Ganesya.”

Yakni; “Tata Liman” yaitu kegiatan menata kembali habitat gajah. Lalu, “Bina Liman”, yaitu pembinaan gajah agar bermanfaat dan hidup berdampingan dengan manusia.

Terakhir, “Guna Liman” adalah memanfaatkan gajah untuk berbagai kepentingan atau kegunaan sebagai hasil dari penjinakan dan pelatihan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas.

PLG, mengutip TN Way Kambas, adalah upaya penjinakan, perawatan, dan peran krusial gajah dalam menjaga ekosistem hutan dataran rendah. Terdapat sekitar 300 ekor individu gajah di sana.

Penggiringan dan pemindahan gajah-gajah, ternyata, masih tetap menyisakan konflik dengan manusia yang berada di sekitar kawasan TN Way Kambas. Populasi manusia yang terus bertambah banyak, dan butuh lahan lebih luas. Namun, lahan yang ada, sejak dari dulu, hanyalah segitu-gitu saja.

Ada benarnya petuah orang-orang tua, “Jangan berpikir untuk menaklukan alam. Tapi, bersahabatlah dengan alam.”*

Share:
avatar

Redaksi