Manusia Piltdown, Hoax Mata Rantai Yang Hilang
Inovasi
October 20, 2025
Prameswari Rajapatni

“Piltdown Gank”, para ilmuan tersangka hoax Manusia Piltdown. (credits: Wiki Commons)
Setelah Charles Darwin menerbitkan “On the Origin of Species” pada tahun 1859, semakin kuat keinginan banyak orang untuk. mencari “mata rantai yang hilang”. Bahkan, pencarian ini berubah menjadi kebohongan publik (hoax) bagi ilmu pengetahuan modern.
DESEMBER 1912, sisa-sisa fosil yang diklaim sebagai jenis manusia purba yang baru ditemukan, dipublikasikan oleh Geological Society of London ke seluruh dunia. “Piltdown Man” atau dengan nama ilmiah Eoanthropus dawsoni, nama yang mencantumkan nama Charles Dawson, yang diakui oleh ilmuwan-ilmuan kala itu sebagai penemu arkeologi dan paleontologi.
Charles Dawson, yang lahir pada 11 Juli 1864 dan meninggaldunia pada 10 Agustus 1916, adalah seorang arkeolog amatiran dari Inggris.
Awalnya, pada tahun 1893, dikatakan bahwa Dawson menyelidiki tambang batu yang penuh dengan artefak. Mulai dari era prasejarah, Romawi dan abad pertengahan.
Penemuan itu, katanya, ia dapat di Gua Lavant, dekat Chichester. Dan ia pun menyelidiki dua terowongan di bawah Kastil Hastings. Selanjutnya, pada tahun yang sama, ia mempresentasikan temua itu di British Museum.
Temuannya adalah; patung Romawi, dan, serta perahu kayu kuno.
Temuan, yang tampaknya penting itu, membuat Museum Sejarah Alam menganugerahinya gelar “pengumpul kehormatan”. Ia pun, atas penemuannya, terpilih sebagai anggota Geological Society dan beberapa tahun kemudian, dia bergabung dengan Society of Antiquaries of London.
Ia dikatakan banyak sekali menemukan temuan penting dalam sejarah manusia. Di antaranya adalah gigi dari spesies mamalia yang sebelumnya tidak diketahui, yang kemudian diberi nama Plagiaulax dawsoni.
Lalu, tiga spesies dinosaurus baru, yang kemudian satu diantarnaya dinamkan Iguanodon dawsoni. Selain itu, juga bentuk baru tanaman fosil, yang disebut Salaginella dawsoni.
Pada kenyataannya, semua temuan itu adalah kebohobngan, yang dibuat sendiri atau dipesan untuk dibuatkan oleh Charles Dawson.

Rekayasa Manusia Piltdown. (credits: Wiki Commons)
Pada awal 1900an, seorang buruh menggali di dekat Desa Piltdown di Inggris selatan menemukan sepotong tengkorak “aneh”. Lalu, buruh itu melaporkannya kepada Charles Dawson.
Dawson selanjutnya, memperoleh begitu banyak fosil dari situs itu, dan mempercayai serta menyakinkan orang, bahwa fosil-fosil itu adalah sisa-sisa manusia yang sangat kuno.
Lalu, pada bulan Desember 1912, Dawson dengan dibantu oleh Sir Arthur Smith Woodward, dari bidang Geologi di Sejarah Alam Museum, mempresentasikan rekonstruksi tengkorak kepada publik sebagai nenek moyang manusia yang paling awal.
Piltdown adalah temuan, jika tidak dapat dkatuakan sebagai masalah besar, kala itu
“Piltdown Man dianggap sebagai mata rantai yang hilang, fosil yang menghubungkan manusia dengan kera, pada saat itu,” kata sejarawan Richard Milner, mengutip PBS.
Kenyataanya, Piltdown Man sangat spektakuler dari fosil manusia yang terkenal sudah ditemukan di benua Eropa, seperti Neanderthal Man di Jerman, misalnya.
Selanjutnya, potongan-potongan fosil bermunculan di Piltdown hingga tahun 1915. Termasuk tengkorak parsial kedua, dan aneh artefak tulang yang aneh dengan bentuk menyerupai kelelawar kriket.
Setelah 40 tahun berlalu, dan Dawson telah meninggaldunia, tes ilmiah menunjukkan bahwa Piltdown Man adalah sebuah bentuk pemalsuan ilmiah. Fosil-fosil itu, mungkin saja dibuat dari rahang kera.
Dawson adalah tersangka utama pemalsuan itu. Tetapi beberapa orang ilmuan percaya, bahwa Sir Arthur Conan Doyle adalah dalang pemalsuan ilmiah ini.
Sir Arthur Conan Doyle adalah penulis cerita detektif “Sherlock Holmes”.
Motif dari penipuan itu, adalah, keinginan Sir Arthur Conan Doyle untuk membalas dendam kepada ilmuan Inggris yang telah mengejek penelitian spiritualitassnya.
Diketahui, bahwa Piltdown terletak tidak jauh dari tempat tinggal Sir Arthur Conan Doyle, dan ia pun sering bermain golf di dekatnya.

Rekayasa tengkorak Manusia Piltdown. (credits: Wiki Commons)
Tetapi, kemudian, dengan melihat keterampilan pembuatan fosil-fosil yang telah disiapkan dengan sangat hati-hati itu, tertera banyak nama.
Secara berurutan, yakni; Charles Dawson, Pierre Teilhard de Chardin, W. R. Hal yang dapat dilakukan di dekat Butterfield, Venus Hargreaves, Grafton Elliot Smith, William J. Sollas, Martin Hinton, Arthur Conan Doyle, Samuel Woodhead, John T. Hewitt, Lewis Abbott, Frank Barlow, Arthur Keith, Chipper the goose, Arthur Smith Woodward, dan C. P. Chatwin.
Pada edisi tanggal 21 November 1953, harian The Times menuurnkan artikel berjudul “Tipuan Rumit”. Lalu, The Star menyajikan story tentang “Hoax ilmiah terbesar abad ini”.
Joseph S. Weiner, Profesor Antropologi Fisik di Universitas Oxford, telah melakukan pememeriksaan terhadap potongan-potongan fosil Piltdown yang asli. Weiner meeragukan keaslian fosil-fosil itu,
Weiner pun menemukan bahwa Museum Sejarah Alam tidak memiliki catatan tentang tempat yang tepat dimana fosil-fosil Piltdown II telah ditemukan. Namun situs kedua ini telah digunakan untuk mendukung keaslian temuan Piltdown I, dengan tujuan untuk membungkam para kritikus ilmiah.
Weiner meyakini bahwa gigi pada rahang “telah diarahkan ke bawah” dan ini menunjukkan penipuan yang disengaja. Ia memperoleh beberapa gigi simpanse yang diarahkan, dan bernoda secara artifisial untuk mereplikasi geraham Piltdown.
Setelah mendiskusikannya dengan Wilfrid Le Gros Clark, Profesor Anatomy di Oxford, maka Weiner menghubungi Kenneth Oakley di Natural History Museum, dan menceritakan kecurigaannya.
Oakley memeriksa gigi dan “benar-benar yakin” bahwa gigi itu telah dilumpuhkan secara artifisial. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa gigi taring telah diwarnai dengan menggunakan campuran yang termasuk cat coklat Vandyke.
Sehingga, situs Piltdown diakuisisi oleh Nature Conservancy pada tanggal 3 Desember 1951. Piltdown adalah pembuktian tentang kerakusan manusia terhadap “rasa ingin tahu” ilmiah, yang disambut oleh konspirasi orang-orang yang menginginkan ketenaran ilmiah. Meskipun, semuanya adalah hoax.*
