Simbolisasi Hewan Dalam Arkeologi Nusantara
Resonansi
January 21, 2026
Jon Afrizal

Candi Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. (credits: Kekunaan)
Apa yang kita sebut simbol, bukanlah budaya yang diciptakan seseorang. Tetapi, simbol sesuai dengan aktivitas karma nyata yang bermanifestasi di tingkat eksternal sebagai objek material, tumbuhan atau hewan, dan dalam internal, tingkat mental sesuai dengan pengalaman mental.
PADA banyak peninggalan arkeologi Nusantara, terutama peninggalan agama Buddha, sering terdapat simbol-simbol hewan. Lima hewan yang paling sering dijumpai, adalah; singa, gajah, kuda, burung merak dan garuda.
Mengutip Buddhist Himalaya, singa adalah simbol dari bodhisattva, “putra-putra Buddha” atau “singa Buddha”.
Bodhisattva adalah makhluk yang telah mencapai tingkat perkembangan spiritual yang tinggi. Mereka telah menghasilkan bodhicitta dan bersumpah untuk meninggalkan kebahagiaan dari pencerahan tertinggi dan tetap di dunia ini bekerja hingga seluruh makhluk hidup bebas dari penderitaan.
Dalam ikonografi Buddha, ditemukan singa dalam perannya sebagai pelindung dharma yang menopang takhta Buddha dan bodhisattva. Singa juga ditemukan di pintu masuk biara dan kuil.
Singa sebagai penjaga kuil diwakili secara berpasangan di pintu masuk kuil dan kompleks baha.
Singa adalah raja dari doktrin, karena mereka telah mencapai kekuatan untuk menaklukkan semua makhluk dengan cinta, kasih sayang dan kebijaksanaan mereka yang besar.
Sementara gajah, berkarakteristik sebagai kekuatan fisik dan mental, keteguhan, tanggungjawab dan membumi.
Dalam ajaran Buddha, gajah adalah simbol kekuatan mental. Dalam ikonografi Buddha, dewa berwajah gajah Gangpati atau Ganesh adalah pancaran dari bodhisattva Avalokitesvara.
Juga dalam aspek lain, mewakili aspek duniawi dari setiap orang yang sama, yang diinjak-injak oleh dewa lain yang sama seperti; Mahakala, Vajra Bhairava dan lainnya.

Relief Kuda dan Gajah terbang di Candi Borobudur. (credits: Yulia Sujarwo)
Gajah adalah kendaraan Tathagata Aksobhya dan dewa Balabadra. Gajah juga muncul sebagai penjaga kuil-kuil dan Buddha sendiri.
Pun, kuda dikenal sebagai alat transportasi, yang dapat berlari sangat cepat, dan di masa-masa sebelumnya, kuda dipercaya memiliki sayap dan dapat terbang. Sementara Kantaka, adalah kuda tunggangan Siddhartha Gautama.
Dalam ajaran Buddha, kuda adalah simbol energi dan upaya dalam praktik dharma. Kuda juga melambangkan udara atau prana yang mengalir melalui saluran tubuh dan merupakan kendaraan pikiran.
Ada beberapa cerita tentang bodhisattva Lokesvara yang mengambil bentuk kuda untuk membantu makhluk hidup.
Dalam ikonografi Buddha, kuda menopang takhta Tathagatha Ratnasambhava dan membawa kereta Surya, dewa matahari. Kuda juga adalah kendaraan dari banyak dewa dan pelindung dharma lainnya, seperti Mahali, dan ada dewa berwajah kuda, seperti Hayagriva.
Sedangkan Burung Merak, adalah simbol keterbukaan dan penerimaan. Dalam ajaran Buddha, Burung Merak melambangkan kebijaksanaan. Burung Merak memiliki kemampuan memakan tanaman beracun tanpa terpengaruh olehnya.
Sehingga, Burung Merak identik dengan bodhisattva besar. Seorang bodhisattva mampu mengambil delusi sebagai jalan menuju pembebasan dan mengubah pikiran beracun dari ketidaktahuan, keinginan dan kebencian (: moha, raga, dvesa) menjadi pemikiran pencerahan atau bodhicitta, yang terbuka dengan beragam warna, seperti ekor burung merak.
Burung Merak melambangkan transmutasi keinginan ke jalan pembebasan. Burung Merak adalah kendaraan Buddha amitabha, yang mewakili keinginan dan keterikatan yang ditransmutasi menjadi Kebijaksanaan Kesadaran Pembeda.
Sementara Garuda, berasal dari akar kata Gri, yang bermakna burung besar yang menelan ular. Garuda diwakili dengan tubuh bagian atas manusia, mata besar, paruh, tanduk biru pendek, rambut kuning berdiri tegak, cakar dan sayap burung.

Relief Dewa Siwa mengendarai kuda bertelingan mirip kelinci di Candi Sawentar, Blitar, Jawa Timur. (credits: Majapahit)
Garuda melambangkan elemen ruang dan kekuatan matahari, yang dapat mengeringkan air. Sehingga Garuda adalah musuh alami ular dan dia melahap atau mengendalikannya.
Garuda mewakili energi spiritual yang melahap delusi kecemburuan. Dan juga kebencian, yang diwakili oleh ular.
Dalam ajaran Buddha, Garuda adalah kendaraan amoghasiddhi, yakni Buddha yang mewujudkan semua kebijaksanaan yang mencapai. Dia juga adalah kendaraan dari Lokishvara Hariharihar vahana.
Garuda juga adalah dewa yang mampu menyembuhkan gigitan ular, epilepsi, dan penyakit yang disebabkan oleh naga. Gambar Garuda ditemukan di toranas, timpanum setengah lingkaran di atas pintu candi.
Simbol, dalam ajaran Buddha adalah bagian kehidupan dari seluruh aspek budaya Asia. Mengutip Buddhist Himalaya, keberadaan fisik dari fenomena apapun sangat bergantung pada makna batin, yang disebabkan oleh penciptaan batin atau aktivitas Karma dari makhluk hidup.
Sehingga, wajah atau bentuk yang ada pada simbol-simbol itu disebabkan oleh penciptaan mental atau Karma dari makhluk-makhluk itu.*
